Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Saramago dan Hikayat Pembunuh Pertama

Hairus Salim oleh Hairus Salim
15 Juni 2018
A A
Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Pujangga China Misterius di Sebuah Pesantren

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam hal karya Saramago, ada Tuhan yang lebih ramah dan kasih. Namun sebelumnya, Tuhan yang tidak adil dan kejam itu harus disingkirkan lebih dulu.

Setelah membunuh Habel, Kain (dalam versi Islam disebut Qabil) dihukum Tuhan menjadi gelandangan dan buronan seumur hidup. Untuk menandainya sebagai penjahat, Tuhan memberinya tanda hitam di keningnya.

Sejak itu, Kain mengembara dari satu kota ke kota lain, dan dari satu zaman ke zaman lain. Ia bertemu Nuh, Abraham, Lot, Musa, dan bergabung sebagai anggota pelayan dukungan dalam pasukan Joshua yang berperang melawan Jericho, dan lainnya.

Kisah pembunuhan dua bersaudara anak Adam di awal sejarah manusia, Kain terhadap Habel, sangat dikenal, baik di lingkungan Kristen maupun Islam. Tentu dengan versi dan penamaan yang sedikit berbeda, meski alur dasarnya tetap sama. Tetapi kisah Kain yang dikutuk menjadi gelandangan dan buron, lalu mengembara dan bertemu para nabi itu jelas hal baru.

Ini merupakan versi Jose Saramago, pengarang besar Portugal dan penerima Hadiah Nobel Sastra 1998. Melalui Cain, Jose menulis ulang, dengan demikian juga, menafsirkan ulang, kisah Kain yang termuat dalam Bibel. Hasilnya? Kita tidak saja akan menjumpai Kain yang lain, tetapi juga gambaran tuhan yang lain.

Mengapa Kain membunuh Habel? Saramago mengikuti versi yang lazim. Dua orang ini memberikan persembahan kepada Tuhan, tetapi persembahan Kain tidak diterima. Ia meminta bertukar tempat dengan Habel, kembali persembahannya tidak diterima. Tentu saja ia heran, mengapa persembahannya tidak diterima.

Kejadian itu menimbulkan pertanyaan di hati Kain tentang keadilan Tuhan, meski demikian, itu sama sekali tidak mendorong Kain untuk membunuh Habel. Niat membunuh muncul setelah Habel yang congkak selalu mengejek Kain. Saramago tidak menyinggung sama sekali dan menyisihkan motif Kain ingin menikahi saudara kembarnya Iqlima, yang lebih cantik, dan merupakan jatah Habel.

Jelas sekali Kain adalah protagonisnya Saramago, dan bukan Habel, seperti lazim dikenal dalam kitab-kitab suci. Tapi tidak cukup sampai di situ, Kain, sang pembunuh awal itu, justru dalam episode-episode berikutnya menggagalkan dan rishi dengan banyak peristiwa pembunuhan.

Suatu kali Kain turut campur dalam peristiwa penyembelihan Isaac (versi Islam Ismail) yang akan dilakukan oleh Abraham berdasarkan perintah Tuhan. Ketika dalam hitungan detik, Abraham siap menggorok leher Isaac yang terikat pasrah di atas bukit, Kain tiba-tiba muncul menahan tangan Abraham.

Mengapa kau harus membunuh puteramu sendiri, hei Abraham? Itu perintah Tuhan, kata Abraham. Bagi Kain jelas itu ngawur. Jika logis, wajar, dan manusiawi harusnya Abraham menolak sejak awal perintah itu. Untung ada Kain, sehingga penyembelihan itu bisa digagalkan. Sementara malaikat yang disiapkan Tuhan untuk mengganti Isaac dengan seekor domba datang terlambat karena faktor teknis kerusakan di sayap kanannya.

Ada nada mengejek, mentertawakan, dan menolak, sekaligus membalik cerita dan citra yang telah termaktub selama ini dalam kitab suci. Ini pula yang terjadi ketika Kain bertemu Musa yang bertempur untuk menyelamatkan orang-orang Israel dengan mengorbankan tiga ribu pasukan. Demikian juga ketika Tuhan menghancurkan Sodom dan Gomorah, siksaan pada Ayub, dan Nuh dengan air bah gigantiknya. Mengapa tuhan gampang membunuh, tanya Kain?

Ketika bergabung dalam pasukan Joshua yang akan menyerang Jericho, Kain memutuskan untuk mengundurkan diri. Ia terbayang peristiwa penghancuran Sodom dan Gomorrah: “Aku pergi, aku tak tahan melihat begitu banyak kematian, begitu banyak darah yang tumpah, begitu banyak ratapan dan kertapan gigi…” Bagaimana bisa seorang yang divonis sebagai pembunuh pertama di dunia menggemakan suara yang sangat pasifis dan antikekerasan seperti itu? Itulah Kain dalam citra baru Saramago.

Cain adalah novel terakhir Saramago. Khas gayanya, novel ini ditulis dengan kalimat-kalimat yang panjang. Kadang lebih satu halaman tanpa alinea. Tokoh-tokohnya ditulis di huruf awalnya tanpa huruf besar, termasuk “tuhan”. Dialog-dialognya mengalir tanpa tanda baca yang jelas, sehingga pembaca harus menerka dengan cerdas, siapa mengatakan apa. Sudut penulisannya campur baur antara orang ketiga, Kain sendiri, atau kadang-kadang “kami” si penulis. Di luar itu, tentu saja adalah gaya menyindir, mentertawakan, mempertanyakan, dengam bumbu-bumbu humor dan detail-detail yang banal.

Dalam bagian dari novel ini dikemukakan suatu pernyataan yang mungkin bisa ditangkap sebagai salah satu motif penulisan Kain ini. “Yang kita lakukan hanyalah menempatkan dalam idiom modern berbagai misteri berlapis dan, bagi kita, tak terpecahkan dari bahasa dan pikiran pada masa itu…”

Iklan

Apakah “menempatkan dalam idiom modern?” itu artinya memahami ulang, dan dengan demikian, merekonstruksi cerita ini kembali di dalam pemikiran rasionalisme dan humanisme modern? Di lain pihak ia juga mengklaim: “…kami tulis dengan ketelitian seorang sejarawan…”

Ketika Akademi Swedia mengganjarnya Hadiah Nobel Sastra tahun 1998, alasan yang disebut adalah “perumpamaannya yang ditopang oleh imajinasi, belas kasihan, dan ironi”, dan “skeptisisme modern” -nya terhadap kebenaran resmi. Apakah yang dimaksud kebenaran resmi itu? Apakah yang disandang oleh agama selama ini?

Apa yang dikatakan oleh Akademi Swedia tentang Saramago dalam hal novel ini ada benarnya, meski novel ini ditulis setelah penerimaan Nobel. Saramago memang punya reputasi dalam hal membikin kalangan agama gusar dan marah.

Novelnya The Gospel According to Jesus Christ, yang merupakan pengisahan kembali fiksi tentang kehidupan Yesus Kristus, yang menggambarkannya sebagai berwatak manusia dengan nafsu dan keraguan, bikin kalangan Gereja Katolik Roma geram. Mereka bahkan menuduh Saramago memiliki “pandangan yang secara substansial anti-agama”. Akibatnya pada tahun 1992, Pemerintah Portugal di bawah Perdana Menteri Aníbal Cavaco Silva memerintahkan penghapusan karya ini dari daftar penerima Hadiah Aristoteles, karena dianggap menyerang agama.

Mereka yang akrab dengan gambaran teologi memang mungkin akan tersengat dan marah. Tapi intisari yang hendak dikemukakan Saramago adalah bahwa narasi-narasi keagamaan selama ini penuh dengan adegan pembunuhan dan menolak legitimasi pada pembunuhan tersebut.

Seusai kegagalan penyembelihan Abraham terhadap Isaac, terjadi dialog antara Abraham dan Isaac. Isaac mempertanyakan keputusan ayahnya, tetapi penjelasan Abraham tidak memuaskan hatinya. “Aku tak memahami agama ini,” jawab Isaac. Tuhan yang dibangun dalam agama dengan narasi-narasi tersebut adalah tuhan yang tidak adil dan kejam. Sesungguhnya tuhanlah sang pembunuh terbesar.

Menurutku, selalu ada “tuhan tersembunyi” di dalam sebuah karya sastra. Dalam hal karya ini, itulah tuhan yang lebih ramah dan kasih. Namun sebelumnya, tuhan yang tidak adil dan kejam itu harus disingkirkan lebih dulu.

Rasanya itu yang dilakukan Saramago, tapi jelas itu tidak mudah. Di negeri ini, dibutuhkan nyali dan nyawa berlapis untuk melakukannya.

Terakhir diperbarui pada 6 Mei 2019 oleh

Tags: #iqraAgamahabelIslamkainKatoliknobel sastrasaramagoTuhanYesus Kristus
Hairus Salim

Hairus Salim

Research Consultant, Writer, Trainer at Yayasan LKiS

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Derita Bisnis Laundry: Cuan 15 Juta Hilang karena Kebodohan MOJOK.CO

Pengalaman Bisnis Laundry yang Cukup Menyedihkan, Berharap Cuan Besar 15 Juta per Bulan tapi Cuma Dapat 3 Juta: Boncos karena Kebocoran-Kebocoran Sepele

4 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.