MOJOK.COJK Rowling memang punya citra suka merangkul kaum minoritas. Masalahnya, itu tidak berlaku untuk kaum transgender dan transeksual.

Tagar #RIPJKRowling adalah sebuah lelucon di internet. Sama seperti meme RIP Bondan Prakoso yang sering dipakai memelord untuk ngegocek netizen. Nyatanya, “R.I.P. (Rhyme In Peace)”, merupakan lagu Bondan Prakoso dan Fade2Black.

Bondan Prakoso sendiri masih hidup. Begitu juga dengan Joanne Kathleen Rowling (selanjutnya ditulis JK Rowling) yang masih sehat walafiat tanpa kurang satu apa pun. Mungkin kurang empati aja.

Selepas menamatkan tujuh buku Harry Potter, JK Rowling memang kerap menebar kontroversi. Dari mulai mengubah ras Hermione Granger menjadi kulit hitam dalam drama Harry Potter and the Cursed Child, sampai tipis-tipis mempertontonkan hubungan gay antara Dumbledore dan Grindelwald.

Manuver tersebut dipahami oleh penggemar sebagai cara JK Rowling memperkenalkan keberagaman dalam waralabanya. Serta melakukan penetrasi ke komunitas LGBT.

Fans sempat mengkritik sang penulis soal Hermione Granger yang berganti kulit secara deus ex machina. Mudanya Emma Watson yang kaukasoid, tuanya jadi negroid. Drama Harry Potter itu pun menjadi drama tersendiri di kalangan fanbase.

Masalahnya, tidak pernah disinggung sebelumnya bahwa teman baik Harry Potter itu dari kalangan orang kulit berwarna. Kalau dari kalangan Muggle sih iya. Bukan berarti kekecewaan penggemar adalah bentuk rasisme dan diskriminasi kulit hitam. Tapi ya kaget aja, kok tiba-tiba? Kan, kisah fantasi juga butuh konsistensi.

Dari sini, JK Rowling terkesan seperti sosok bijak bestari yang merangkul kaum minoritas (walau harus mengubah karakter setelah buku dan filmnya tamat). Namun, ternyata kaum transgender dan transeksual adalah pengecualian.

Melalui akun Twitter pribadi, JK Rowling sempat melontarkan pernyataan yang berbau transfobia. Cuitannya tersebut dikecam oleh SJW-SJW dunia.

Terakhir, nama JK Rowling kembali trending dengan tagar RIPJKRowling. Maksudnya adalah karier JK Rowling telah mati, bukan orangnya. Sebab sang penulis kembali berurusan dengan kaum transgender.

Komunitas LGBT: “After all this time?”

JK Rowling: “Always.”

Novel terbarunya berjudul Troubles Blood memuat kisah seorang pembunuh berantai yang berpakaian seperti wanita untuk memangsa para korbannya. Sebelumnya, dalam novel The Silkworm, JK Rowling juga pernah menggambarkan satu karakter transgender sebagai pribadi yang tidak stabil. Gara-gara sentimen inilah sang penulis dirundung di dunia maya karena dianggap anti-trans.

Sampai-sampai ada akun parodi yang mencuit bahwa penulis asli Harry Potter adalah Lady Gaga, bukan JK Rowling.

Padahal nama JK Rowling sendiri adalah bentuk toxic masculinity di dunia kapitalisme perbukuan. Nama pena tersebut dipilih oleh tim marketing penerbitan karena terasa maskulin. Namanya dipakai untuk mengaburkan jenis kelamin yang sebenarnya. Sebab penulis lelaki lebih menyakinkan untuk menulis kisah fantasi dibandingkan penulis wanita, ceunah.

Dalam hal ini, Stephenie Meyer sang penulis The Twilight Saga justru lebih berani dengan memakai nama aslinya yang feminin.

Ketertarikan dan keterikatan JK Rowling dengan nama maskulin berlanjut di novel selanjutnya. Meninggalkan nama pena JK Rowling yang lekat dengan waralaba Harry Potter, sang penulis menyamar sebagai Robert Galbraith untuk seri novel detektif The Cormoran Strike.

Namun, penyamaran ini sia-sia karena marketing toko buku selalu menyebut bahwa Robert Galbraith adalah nama samaran JK Rowling. Biar bukunya laku.

Sejak kecil, JK Rowling sering menjadi korban kekerasan orang tuanya yang mengidamkan seorang putra. Ketika berumah tangga, Rowling pun jadi korban KDRT oleh mantan suaminya. Jadi bisa dibilang Rowling adalah penyintas toxic masculinity.

Lantas, bagaimana bisa, penulis wanita penyintas toxic masculinity yang senang menyamar menjadi laki-laki, sering menyinggung kaum trans? 

Yah, seperti di Indonesia ketika Dorce Gamalama sempat menyatakan tidak suka dengan aktor pria yang berperan kebanci-bancian di siaran televisi, terkadang manusia memang tidak bisa konsisten dalam berempati. Porsi empati pun bisa picky. Sesuai selera.

Namun, memberitakan kabar bohong tentang kematian seseorang yang masih hidup adalah soal lain. JK Rowling sama seperti Eiichiro Oda sang pengarang One Piece, selalu didoakan berumur panjang oleh para penggemar. Sebab kami masih ingin tahu kelanjutan Fantastic Beasts dan akhir One Piece. Tagar #RIPJKRowling itu damage-nya bukan main.

Dari kasus ini, pembaca JK Rowling bisa berempati kepada pembaca Tere Liye yang suka karyanya tapi tidak suka kelakuan penulisnya di media sosial. Kita juga bisa mengambil sikap yang sama dengan Daniel Radcliffe. Sebagai aktor yang dibesarkan oleh karakter Harry Potter, Daniel tetap bisa berseberangan pendapat dengan pencipta karakternya pakai cara yang sopan. 

Intinya, dia bilang bahwa kita pernah bahagia bersama, kenangkan kebahagiaan itu aja ya, jangan yang lain.

Eh, itu kata-kata Annelies ke Minke di Bumi Manusia, ding. Bukan kutipan dari Bumi Magical.

BACA JUGA Membayangkan Sekolah Sihir Harry Potter Buka Cabang di Indonesia dan tulisan Haris Firmansyah lainnya.

Baca juga:  Hantu "The Nun" Kamu Bilang Horor? Tunggu Sampai Suster Kepala di Sekolah Memanggil