• 30
    Shares

MOJOK.CO – Prank biasanya sengaja diatur sedemikian rupa agar berakhir dengan daya kejut dan bahagiakan banyak orang. Namun tanpa diatur pun, prank operasi plastik ala Ratna Sarumpaet tetap mengejutkan lebih dari separuh penduduk dunia maya.

Kali pertama saya mengenal prank adalah ketika duduk di bangku madrasah ibtidaiyah: nonton Spontan, uhuy! Program televisi yang dibawakan Komeng dan Ulfa Dwiyanti tersebut menjadi pelopor gerakan prank nasional. Jika boleh mendefinisikan, prank adalah usaha mengerjai atau memperdayai orang lain dengan tujuan hiburan.

Secara konsisten seminggu sekali, Spontan menayangkan beberapa adegan berisi jebakan usil dengan target masyarakat umum secara acak. Setiap ekspresi para korbannya direkam dengan kamera tersembunyi. Beragam reaksi spontan itulah yang bisa memancing tawa penonton.

Anehnya, tidak ada dari para korban yang marah setelah dikerjai oleh orang-orangnya Komeng. Yang ada mereka malah senang bisa masuk tivi dan memuji ide-ide tim kreatif Spontan, seraya berujar, “Spontan, uhuy!”

Semua korban Spontan pun ramah-tamah dan penyabar. Sangat kebetulan sekali dari sekian banyak korban tidak ada yang temperamental. Coba kalau ada salah satu orang yang dikerjai tidak diterima, bisa-bisa marah ke kamera, dan bilang, “Apa urusan Anda menjahili saya?”

Lalu pembawa acaranya bertanya kepada korban, “Suka nonton Spontan? Apa tanggapan Bapak tentang Spontan?” Eh, malah dijawab, “Bukan hak Anda juga bertanya kepada saya.”

Beberapa tahun setelah program Spontan bungkus, muncul program sejenis di stasiun televisi berbeda, yaitu Super Trap. Super Trap sempat menuai kecaman netizen dan disemprit oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) lantaran salah satu episode yang menayangkan jebakan di toilet. Di edisi tersebut, CCTV dipasang di toilet, lalu bilik toiletnya tiba-tiba terbang. Membuat orang yang sedang berjuang di baliknya serta-merta kalang-kabut. Hal tersebut jelaslah tidak etis dan nggak ada lucu-lucunya.

Gara-gara kasus tersebut, pihak Trans TV mengakui bahwa tayangan Super Trap melibatkan talent yang dibayar dan rekayasa. Wadaw. Jadi, selama ini, sejatinya yang dikerjain adalah para penonton bayaran? Kirain beneran, ternyata settingan.

Baca juga:  Pria Sejati Nggak Takut Pakai "Sarung"

Namun hikmahnya, setelah kejadian ini, wawasan penonton jadi terbuka bahwa acara reality show sejenis, seperti Termehek-mehek, Katakan Putus, Rumah Uya, bahkan Uji Nyali, bisa jadi hanyalah buah kreativitas kru, bukan semata spontanitas partisipannya.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Beda televisi, beda YouTube. Di YouTube akhir-akhir ini mencuat nama Atta Halilintar dengan prank jenis gold digger. Dengan memanfaatkan kekayaan yang dimiliki keluarganya, Atta Halilintar membuat prank untuk menjebak cewek matrealistis binti kapitalis.

Skenarionya, Atta berdandan seperti orang susyeh, misqin, madesu, dan blangsak. Berhubung skill menyamar Atta masih di bawah Pak Wiranto, dia memilih memakai spidol sebagai kumis palsu. Padahal masih bagusan dioles pakai arang bekas bakar sate.

Dengan dandanan itu, lalu Atta mendekati cewek yang duduk sendiri di sebuah restoran dan mengajaknya berkenalan. Pembawaan Atta yang aneh, tentu membuat sang cewek risih dan meminta pelayan untuk mengusirnya. Sebenarnya, cewek tersebut bukan alergi dengan orang miskin. Tapi, dengan tingkah Atta yang aneh, bukan cewek matre pun pasti pengin ngusir.

Adegan berikutnya, seorang om-om datang ke restoran dengan membawa mobil mewah. Cewek matre tersebut, ceritanya langsung jelalatan melihat silaunya harta benda bersifat duniawi. Om-om yang nampak kaya raya itu, langsung ngajak kenalan dan jalan si cewek. Si cewek pun langsung mau dan merayu, “Yuk, main yuk.”

Bagai halilintar yang mengagetkan duo penyanyi cilik lagu Abdullah, Atta datang lagi. Setelah menghapus kumis palsunya, Atta mengaku sebagai sang pemilik mobil yang sebenarnya, sementara si om-om hanya sopir pribadi. Cewek matre pun malu karena kecele. Atta sukses melancarkan sweet revenge.

Dengan nada bijaksana, Atta berujar kepada si cewek matre, “Mbak, lihat cowok jangan dari hartanya, tapi dari perjuangannya.”

Baca juga:  Komeng Wisuda Sarjana, Uhuy!

Tunggu, perjuangan macam apa yang dimaksud Bang Atta? Bikin judul clickbait atau colab dengan Lucinta Luna? Atau kombinasi keduanya, bikin judul clickbait untuk video colab dengan Lucinta Luna?

Kontan saja, prank dari sulung Gen Halilintar tersebut memancing komentar negatif dari netizen. Sampai-sampai kolom komentar videonya dinonaktifkan. Bahkan Majelis Lucu Indonesia (MLI) turun gunung untuk ikut campur. Tretan Muslim selaku Hakim MLI menyebut prank Atta Halilintar itu sebagai bentuk pengelabuan, penipuan, dan makar. “Bukan termasuk golongan kami,” vonis Muslim sembari menunjuk para prankster.

Usai disenggol MLI, Atta pun membuat video klarifikasi bahwa prank cewek matre tersebut adalah settingan. Hiyaaa! Padahal tanpa dikasih tahu pun orang-orang udah tahu. Sama seperti ketika Young Lex mengaku digebuki K-popers dan menemukan harta karun One Piece di Tanjung Priok. Nggak ada yang percaya, tapi dengan pedenya dia bilang, “Ketipu nih ye!”

Namun, biar gagal nge-prank, ternyata Young Lex telah sukses memberikan inspirasi kepada Ratna Sarumpaet. “Itu hanya cerita khayalan yang diberikan oleh setan ke saya,” tuturnya membongkar hoaks yang menyebut dirinya dianiaya, padahal sebenarnya habis operasi plastik. Ternyata bukan setan yang membisikinya, Ratna Sarumpaet hanya sedang ketularan bad influence Young Lex. #SaveRioDewanto

Dari kejadian ini, Ratna Sarumpaet tidak hanya berhak mendapatkan gelar pencipta hoaks terbaik, tapi juga pantas dijuluki Ratu Prank. Sebab tanpa niat nge-prank saja, yang jadi korbannya hampir setengah populasi Indonesia. Prank terbaik di tahun 2018 dan sukses menghibur setengah penduduk Indonesia lainnya.

Bagaimana kalau prank Ratna Sarumpaet itu direncanakannya secara masif, sistematis, dan terstruktur? Sehingga kabar hoaksnya menembus atmosfer. Bisa-bisa Darth Vader pun turut jadi korbannya, lalu ngeles, “Kebaikan dan kemurahan hati adalah kelemahan dark side.”

  • 30
    Shares


Loading...



No more articles