Jagat timeline sedang sedikit terguncang. Indra Jaya Piliang, salah satu politisi terbaik Golkar, yang juga masyhur sebagai salah satu jagoan di twitterland ditangkap polisi karena positif menggunakan narkoba. Tidak sedikit kolega yang prihatin atas kemalangan tersebut. Tidak sedikit juga yang gembira atas penangkapannya. Apa pasal? Karena IJP, begitu dia biasa disapa, getol “mengganggu” pemerintah dengan kritikannya yang seringkali sengak.

Kalimat-kalimat yang diproduksi tarian jarinya di twitterland memang jelas, lugas dan lebih sering sarkas. Itu pun bukan jaminan selalu benar. Tapi rasanya memang banyak orang yang nyeri kalau harus eyel-eyelan atau twitwar dengan dia. Karena perang twit dengan IJP modal merasa benar saja belum cukup, apalagi merasa pintar hanya karena lolos SNPMPTN. Nggak cukup, Broh!

Jejak perang twit dan kenyinyirannya dengan anggota JIL hingga Pilkada DKI panjang membentang. Untuk melawannya, setidaknya orang harus mempunyai kualifikasi A sekelas @arman_dhani, pemilik kitab seni perang selevel Sun Tzu di medsos, Dari Twitwar ke Twitwar. Ada cara satu lagi, tapi tidak bisa dipelajari itu berkaitan dengan anugerah Tuhan: karisma. Tidak banyak yang punya, salah satunya @marnoblewah. Hanya saja orang karismatik seperti dia tidak akan sudi melakukan twitwar.

Bayangkan kalau tiba-tiba IJP menyoal pilkada dengan bahasa sulit, “Utk terbangin elektabilitas kandidat, pola2 antropologi en sosiologi konflik ini jd ajang mutilasi politik guna kepentingan kandidat”

Orang awam tentu akan kesulitan merontokkan twit sulit itu. Tapi orang sekarismatik Marno Blewah tentu punya kalimat yang akan membuat IJP terpukul, jera, dan bahkan tutup akun.

“Mas IJP, piye perasaanmu nek dadi kates?”

Siapa IJP?

Sepertinya pertanyaan ini tidak perlu. Tapi membaca komentar di banyak koran elektronik, tidak sedikit yang menganggap IJP ini “anggota dewan yang harus dikeluarkan”, “yang terhormat tapi nyabu”, “DPR maksiat pantas dipecat” dan seterusnya. Rupanya banyak warganet yang melek huruf tapi tidak melek fakta, minat baca tinggi tapi tidak memahami apa yang dibaca. Banyak anggapan bahwa politisi terkenal itu otomatis DPR.

Sebagai politisi karier, namanya tidak mencuat seinstan Dedek Tsamara Amany, politisi dari partainya Kak Grace Natalie. IJP meretas jalan panjang dari dunia pergerakan kampus, seangkatan dan sekampus dengan dynamic duo uwuwuwuw Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Namun, kariernya di Golkar tidak semencorong dua sekondannya tersebut di Gerindra dan PKS.

Keseretan karier IJP bisa jadi karena dia sering mengibaratkan dirinya seorang ronin. Istilah bagi samurai yang kehilangan atau terpisah dari tuannya. Itu sepertinya untuk menunjukkan betapa sulitnya dia dikendalikan organisasi.

Dia politisi yang pernah menyokong dan liat berjuang untuk kemenangan Pak Jokowi, saat kebijakan organisasi mengharuskan seluruh kadernya mendukung Pak Prabowo. Paling mutakhir, tentu sumbangsihnya melalui “gerilya kota” untuk memenangkan sahabatnya, Anies Baswedan, di kontestasi Pilkada DKI yang begitu terjal, panas, dan brutal. Lagi-lagi, itu juga saat di mana dia melawan garis kebijakan partai.

Begitulah, dia memang seperti ingin melanggengkan gelar ronin sekaligus pembangkang.

Pembangkang? Sebenarnya tidak juga. Dalam pilpres 2014, dia membangkang dari keputusan partai karena ada nama Jusuf Kalla. Apa yang dia lakukan disebutnya justru sebagai langkah strategis. Karena bagaimanapun, Pak JK merupakan kader sekaligus sesepuh Golkar yang harus didukung. IJP mengatakan, AD/ART partai mengamanatkan itu.

Pilihan kata-katanya saat bermedsos memang sering membuat tidak nyaman bagi pihak lawan. Begitu sengak tanpa tedeng aling-aling.  Tetapi kita bisa melihat “kesantunan” yang dalam saat dia menyampaikan surat terbuka untuk presiden terpilih, Pak Jokowi. Bagaimana dia berusaha menanamkan harapan, sekaligus menyuarakan kekhawatiran atas munculnya beberapa nama di sekitar presiden, dia bungkus dengan rapi.

Ini salah satu bagian surat yang memang menunjukkan keloyalan dia dengan perjuangan sebagai aktivis : “…Nama-nama yang dulu kami hadapi dalam gerakan 1990-an, terus muncul lagi dengan berbagai dandanan, titel ataupun gelar akademis. Bagaimana bisa energi murni pembaharuan dan perubahan bisa tumbuh subur, apabila fisik yang menggerakkannya sama dan saling bertolak-belakang?”

Sebagai peneliti yang pernah malang melintang di CSIS selama 9 tahun, IJP punya basis yang kokoh untuk vokal. Dia selalu bisa mengapresiasi dengan baik hasil-hasil survei: baik tentang capaian pertumbuhan ekonomi yang membaik maupun kehidupan demokrasi. Ini membuktikan bahwa sebagai politisi dia menempatkan ilmu sebagai landasan bicara

Tapi yang namanya warganet tetaplah warganet. Kesalahan personal terlalu sering dihubungkan dengan afiliasi politiknya. Belum kering ludah membicarakan Asma Dewi, penyumbang Saracen, kini datang IJP, salah satu pendukung Anies-Sandi paling tangguh dicokok polisi di tempat karaoke. Apakah karena nyanyi lagu Nella Kharisma? Bukan, karena bersama mereka ditemukan alat untuk menikmati narkoba jenis sabu.

Apakah itu memperjelas bahwa orang-orang bermasalah saja yang tergabung di barisan Anies-Sandi? Ini memang jenis kedunguan yang sedang populer. Di kesempatan lain, begitu ada pendukung Ahok meninggal karena sakit atau kecelakaan, barusan anti Ahok langsung menyerbu dengan komentar terkejamnya, “Itulah hukuman buat penista”, “Ahoker yang mengganti kata takbir menjadi take beer, tewas!” dan seterusnya.

Soal Narkoba, salah ya salah saja. Rusak ya rusak saja, bejat ya bejat saja. Tidak pernah ada kaitannya dengan politik. Tetapi kalau mulut dan pikiran rusak, itu memang sering terkait dengan politik. Sekarang mungkin hampir sembuh, tapi dua tahun lagi, 2019, rusaknya mulut dan pikiran yang mengakibatkan gila menahun ini akan memuncak lagi.

Di zaman semrawut dan awur-awuran seperti sekarang, mengkritik tak ubahnya seperti melemparkan granat yang terborgol dengan tangan kita. Mungkin kritiknya tidak akan dikriminalisasi. Tetapi kebiasaan buruknya akan membuat tersandung dan mencelakai.

Di saat kopi masih mampu membuat IJP terjaga kewarasannya, dia menyimpan kekawatiran akan barang terlarang itu. Jejak digitalnya terlanjur abadi seperti prasasti. Ceceran kalimat-kalimat yang diproduksi pikiran dan dialirkan ke jari-jarinya menunjukkan bahwa dia menyorot beragam profesi yang terjerumus, termasuk politisi di antaranya.

Apa yang ditwitkan IJP kemudian memang membuat miris, “Mari mawas diri”

Lesson learned?

Diam atau pastikan dulu bersih diri baru mengkritik. Tentu saja pesan ini berlaku untuk akun-akun utama yang mempunyai banyak pengikut.

20 tahun silam, saya pernah mendengarkan obrolan level cangkruk. Dengan ilmunya, aparat itu tahu pasti simpul peredaran narkoba dan bahkan pemakainya. Jadi kalau hari-hari ini anda, anda, dan anda, masih menggunakan narkoba, segera hentikan! Karena nasib buruk hanya menunggu waktu.

Tolong pahami saja itu sebagai peringatan bahaya penggunaan narkoba. Jangan diterjemahkan lain sebagai “anda aman mengkonsumsi narkoba, selagi anda tidak bertingkah”.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk membuat permakluman penyalahgunaan narkoba oleh IJP. Kalaupun ada nada pembelaan, tentu dengan porsi sewajarnya saja terkait pemikiran dan aktivitasnya dalam berpolitik.

Penggunaan narkoba jelas kesalahan fatal. Tapi tak bisakah kita menempatkannya dalam perspektif korban?

Awam sulit untuk memaklumi bahwa dia seorang korban. Karena pertanyaan lanjutannya sudah dapat ditebak, bagaimana bisa setua dan seterpelajar dia tergoda untuk mengonsumsi narkoba yang jelas-jelas barang terlarang?

Marno Blewah dapat menjelaskan kerumitan itu dengan sederhana, “Saben mangan lawuh krupuk, mesti krupuke lali dipangan”. Di kesempatan lain mungkin dia juga akan memberikan penjelasan agar orang yang ingin selalu terjaga tidak perlu mengonsumsi sabu, cukup andalkan kopi.

Kelak saat IJP menjalani rehabilitasi, Marno Blewah sebagai salah satu konselornya yang penuh karisma akan berkata, “Manfaate ngopi kui enek 2, Mas IJP. Siji, ben ra sepaneng. Loro, konco udut. Sing 3 ra enek, mergo gur 2.”

 

No more articles