Apa yang paling dekat ke benakmu ketika nama Rhoma Irama disebut? Dangdut dan janggut. Kalau nama Yogya yang disebut? Nah, ini agak merepotkan, tapi paling tidak ada gudeg, Malioboro, dan kampus. Kalau pertanyaannya adalah “Apa pusat memori Yamaha L2?” jawaban yang bakal nongol pertama adalah bunyi knalpotnya.

Sungguh, kamu tidak akan dapat membedakan siapa yang datang bertamu, apakah Yanto yang bawa Mio atau Karyadi yang numpak Vario hingga kamu nongolkan kepala, buka jendela, melihat ke luar. Tapi, kamu akan langsung tahu bahwa yang datang itu Samsul (bahkan dari jarak 200 meter sebelum ia masuk ke halaman) karena dia menunggangi motor Yamaha L2.

L2 (atau L2G) di tempat kami disebut “Unyil” (generasi berikutnya, L2 Super, yang lahir kemudian dan lampunya kotak itu malah diberi nama “Gajah”). Alasannya saya tidak tahu. Malas juga ah kalau harus melakukan penelitian untuk soal penamaan ini. Apakah karena kelahiran si L2 ini bersamaan dengan saat PPFN membidani film Si Unyil atau karena kesamaan tampang saja, wallahualam, saya nggak ngurus. Pastinya, saat ia lahir dulu, ia disebut “motor sport” (motor laki, pakai kopling). Tenaganya (sudah dianggap) besar karena menganut mesin 2 langkah meskipun kapasitasnya kurang dikit dari 100 cc.

Yamaha L2 termasuk motor inspirator karena memberi banyak inspirasi. Sadelnya pendek menginspirasi caferacer. Kick starter-nya harus diterjang sepenuh hati sehingga satu dasawarsa setelahnya Motley Crue bikin lagu “Kickstart My Heart”. Spion krom berleher jenjang adalah simbol keselamatan berkendara karena mirip orang yang memanjatkan doa. Tuas choke mesti ditarik tiap mau menyalakan di waktu pagi, sebelas dua belaslah dengan manusia yang kalau bangun tidur selalu cari sarapan.

Keunikannya, sekurang-kurangnya, ada dua: saklar lampu utama ada pada kunci kontak (putar dua kali untuk lampu, sekali saja kalau hanya untuk menyalakan mesin); tidak dilengkapi lampu kota (mungkin motor ini sudah diramal bakal menjadi idola penduduk desa).

Oh maaf, ada yang ketinggalan soal bunyi knalpot. Izin nambah dua paragraf.

Pokoknya, kalau bicara L2 ya harus bicara suara knalpotnya. Ibarat kata begini. Kalau Kaji Ismet melintas, saya akan tahu dia yang lewat meskipun sosoknya sudah dilipat tikungan atau kegelapan. Aroma Kenzo Tobacco-nya tertinggal beberapa meter di belakang. Tanpa harus mengendus, cukup bernapas secara normal, saya dapat segera membuntutinya ke mana beliau pergi, pulang ke rumah sendiri atau nyempal ke rumah gundiknya. Kaji Ismet yang masyhur itu beda-beda dikitlah dengan pesawat supersonic yang selalu meninggalkan jejak kebisingan di belakangnya.

Baca juga:  Ketika Kawasaki Versys 250 yang Jablay Dicustom Scrambler

Adapun motor Yamaha L2 justru kebalikannya. Kalau motor itu datang, meskipun saya ada di kamar tengah, saya sudah tahu karena knalpotnya yang mahacerewet itu rasa-rasanya menggerinjam gendang telinga. Ibarat tambahan: jika pesawat tempur supersonic F16 terbang ke barat, pesawatnya nyampe Semarang, derunya tertinggal di Demak. Sedangkan kalau L2, suaranya sudah sampai di Kendal, motor dan knalpotnya masih menggandol di Semarang. Suaranya ada, sosoknya nggak ada, setan betul kan.

Saking “berisik tapi asik”-nya knalpot ini, bahasa kiasannya kadang saya perhalus, misalnya “suara knalpot L2 ini mirip bunyi saksofonnya Dave Koz, tapi yang sudah kelindes roda-roda tronton.”

Baik, sekarang, lanjut ke bagian nostalgia.

Esai ini merupakan sebentuk terima kasih dan nostalgia saya untuknya. L2 adalah motor pertama yang mampu saya beli di tahun 2009, 30 tahun setelah ia diciptakan. Saya menghormati karya cipta manusia ini berdasarkan mahar dan silsilahnya! Kala itu uang penebusnya Rp650.000. Jumlah tersebut saya peroleh dengan berdarah-darah setelah menukar gagasan lewat esai panjang di jurnal Tashwirul Afkar. Silsilahnya, motor ini adalah inventaris takmir sebuah masjid. Jadi, sebut saja ia motor intelektuil-cum-takmir. Kedengaran soleh, kan? Makanya, jika ada yang mau pakai ini motor, diutamakan ambil wudu dulu atau bawa kantong tas berisi buku-buku pemikiran supaya dapat mengimbangi derajatnya.

Nenek moyang kami selalu berpesan, dan ini penting, anak muda! Kalau kita mau beli apa-apa, termasuk motor atau mobil, telisiklah asal-usulnya, silsilahnya. Bukan cuma calon pendamping hidup saja yang harus diketahui ayah kandung dan nenek moyangnya, motor pun juga.

Oleh sebab itu, setelah tahu motor ini bekas inventaris takmir masjid, saya yakin ia adalah motor yang saleh, tidak pernah dibawa pergi merampok atau dibawa ke diskotik. Makin mantap pula keyakinan saya ini karena sepanjang kami bersama, ia tidak pernah menjerumuskan saya ke kali, ke kantor polisi, atau bahkan menjerumuskan ke rumah seorang janda.

Karena sebab itu pula, jika ada heboh-heboh mobil/motor sitaan KPK yang mau dijual murah, saya emoh dan ogah. Poin sejarah kendaraan seperti itu silsilahnya berangka merah. Itu berpengaruh lo ya terhadap aura pemiliknya. Ini bukan soal mistis atau mitos. Ini psikologis dan logis.

Sayangnya, motor lungsuran 1979 yang pajaknya cuman 59.600 per tahun ini jarang ada yang mau pinjam, bahkan meskipun sudah saya sodor-sodorkan. Kalau saya tak bisa pergi sendiri dan harus menugaskan orang lain yang menggantikan peran, agak susah menemukan anak muda yang sudi menjalankannya. Ya maklum, zaman segitu sudah mulai banyak orang yang hanya bisa menjalankan sepeda motor dengan cara ngegas dan ngerem. Mereka tak tahu bahwa ada makhluk yang bernama kopling dan persneling di dunia yang fana ini.

Baca juga:  Napak Tilas RX-King: Raja Jalanan yang Kerap Digunakan Penjambret di FTV

Dan momen yang paling mengharukan adalah ketika motor ini saya bawa pergi yang agak jauh untuk pertama kali. Langsung ia bikin susah bukan hanya pada saya sendiri, tapi juga sama orang lain, seperti yang saya alami di suatu hari.

Ketika itu saya mengajaknya bertandang ke rumah mertua kakak sepupu. Sampai di tempat, ia bikin malu: mogok di sana. Kabel kopling putus tanpa kasih aba-aba lebih dulu. Saya biarkan saja ia di situ.

“Ditaruh di mana ini?” tanya saya ketika yakin pasti motor sudah tidak bisa dibawa pulang.

“Di halaman saja,” kata Kakak. “Nggak bakal hilang. Pencuri pun pasti males mau ngambil motor kamu ini,” kata dia dengan kejam, “Nggak impas tanggungan dosanya dibandingkan susahnya membawa kabur.”

Kakak saya itu kalau berkomentar memang bikin perih lambung, mungkin karena dia bisa memperbaiki sepeda motor sendiri. Orang yang menguasai bidang ilmu tertentu kadang memang suka pedas kalau ngomong. Namun, karena dibumbui kelakar, komentar Kakak tersebut tidak begitu menyakitkan. Makanya, kalau kamu mau ngomong nyengak atau agak kejam, kasih sedikit kelakar.

Ajaib, esok harinya motor itu pulang ke rumah saya (jangan ditanya diantar atau bagaimana prosesnya). Motor dewasa selalu tahu jalan pulang.

Di akhir cerita, sepeda motor ini saya jual (sebetulnya, kalau ingat statusnya sebagai artefak sejarah, sedih jugasih, tapi mau gimana lagi). Alasannya, karena kalau bukan saya yang pakai, saya harus sewa stuntman, dan ia sering mencederai betis. Kalau starternya ditrap/digenjot, kadang suka melawan. Alasan lain tidak perlu ditulis semua supaya esai ini tidak panjang seperti skripsi.

Nah, sekarang, saya kangen motor ini lagi. Saya selalu terbayang-bayang sosoknya, membayangkan ia hadir di telinga, bukan di pikiran, sebab yang terlintas adalah bunyi knalpotnya, ya hanya knalpotnya yang cerewet dan kalau ditarik hingga 3500 rpm akan mirip lengkingan Rob Halford di intro lagu “Painkiller”, lengkingan ratusan desibel yang membuat setan-setan pada minggir karena minder.

Vox populi vox dei, vox knalpot vox syaiton.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles