• 207
    Shares

MOJOK.CO – Kalau Presidennya nggak bisa yang rambut gondrong, ya paling nggak Menteri Agama atau Menteri Pertahanannya aja nggak masalah kok, Brader.

Sadar atau tidak, salah satu atau bahkan satu-satunya realitas sosial yang awet diskriminasinya sejak zaman Belanda sampai sekarang ialah diskriminasi terhadap fenomena laki-laki yang punya rambut gondrong.

Yap, dunia ini tidak benar-benar “aman” bagi mereka.

Saya tidak menutup mata, bahwa banyak laki-laki rambut gondrong di luar sana, terutama di kampus-kampus, yang sekadar mbebek atau ingin memenuhi salah satu syarat protokoler sebagai aktivis dan dengan alasan ndak mbejaji lain.

Padahal tokoh-tokoh referensial mereka juga sedikit sekali yang gondrong. Tan Malaka, Wiji Thukul, Aidit? Mana ada yang gondrong? Bahar bin Smith lhaiya~

Saya gondrong. Baru dua tahun. Jujur, awalnya saya tidak benar-benar serius ingin memanjangkan rambut. Berangkat dari rasa penasaran saya saja. Karena sejak kecil potongan saya hampir selalu sama. Cepaq ngeheq.

Tapi seiring waktu, saya menyadari sesuatu. Saya merasakan penolakan terhadap fenomena ini sungguh besar. Namun kita tidak punya cukup kekuatan untuk melakukan perlawanan. Kayak model fenomena diskriminasi terhadap perempuan gituuu.

Satu indikatornya. Orang-orang tidak mudah menerima realita bahwa laki-laki juga berhak punya rambut gondrong, tapi sialnya mereka diam. Bagaimana caranya melakukan perlawanan terhadap aksi mbatin masal kayak gini coba?

Lagipula—memang—merawat rambut gondrong sudah cukup menunjukkan satu bentuk perlawanan bagi saya. Setidaknya saya berusaha melawan stereotipe cowok gondrong yang kumuh-urakan. Dan yang lebih penting, saya melawan Bakporagon rasa gatal yang menggila di kepala saya.

Beli sampo dan vitamin rambut itu hal paling sulit dan rumit. Untuk menjaga malu di depan kasir Indomaret saja butuh thawaf keliling rak piranti mandi berkali-kali. Mungkin, mungkin lho ya. Sama malunya kayak mau beli kondom. Belum pernah ngerasain soalnya.

Satu-satunya orang yang terang benderang dan cenderung frontal menolak kegondrongan rambut saya adalah, ibu saya. Beliau sampai mimpi saya kembali berambut pendek dua kali. Dan dengan nada cukup tinggi, ibu saya pernah nyeletuk.

“Kamu jelek kalau gondrong!”

Mak tratap!

Tapi saya ndak bisa melawan. Saya ogah kehilangan syurga di bawah telapak kakinya.

Di kampus, saya pernah diusir dari kelas sama dosen gegara punya rambut gondrong. Untung cuma sekali. Tapi sekali lagi, saya tidak melawan. Saya ndluyur keluar dan enggan lagi masuk ke kelas. Bijak sekaligus bodoh. Dan akhirnya nilai E menjadi hadiah terindah. Hmm

Baca juga:  Soal Meme Jokowi Harus Mundur karena Jadi Capres, Yusril Ihza Mahendra Sebut Itu Menyesatkan

Padahal saya kuliah di kampus negeri yang katanya dijuluki Kampus Pembebasan yang sempat gaduh terkait sikap pelarangan mahasiswi bercadar. Tapi selama—jangan tanya berapa lama—saya kuliah, meskipun katanya dilarang, tidak pernah tuh terjadi pengusiran mahasiswi bercadar oleh dosen.

Apalagi pria gondrong punya fakta historis yang agung. Kata Anthony Reid, rambut gondrong adalah simbol kekuatan dan kewibawaan orang zaman dulu. Pejuang Nusantara juga tidak sedikit yang gondrong. Sultan Hasanuddin salah satunya.

Lebih tinggi lagi, sosok Gajah Mada dalam ilustrasinya juga berambut panjang terikat. Satu lagi biar sekalian mdrcct, Nabi dan Rasul junjungan saya juga berambut panjang. Beberapa Nabi lain juga demikian. Horotokonoh.

Tapi…

Paragraf di atas tadi emang sengaja saya bikin terkesan agak tendesius dan sedikit bernuansa ngemis pengakuan dan welas asih. Sebenarnya nggak gitu-gitu amat.

Ada hal lain yang membuat saya dapat bertahan di tengah badai penolakan dan bahkan stereotipe terhadap lelaki rambut gondrong yang kadung menjamur di sanubari orang-orang. Apalagi untuk berargumen kalau saya sedang nyunnah Kanjeng Nabi. Blas tidak!

Kalau begitu, apa bedanya saya sama ikhwan-ikhwan bercelana tanggung yang ngotot kalau mereka bakal terhindar dari sikap cueknya Gusti Allah di akhirat “hanya” gara-gara isbal? Hadeh.

Biar disamain sama Gajah Mada? Ah, ndak juga. Ditunjuk jadi ketua kelompok tugas kuliah saja saya paranoid betul. Apalagi sampai jadi patih.

Supaya saya punya jiwa pejuang sekelas Ayam Jantan dari Timur? Ah, apalagi. Berjuang nulis artikel Mojok setelah ditolak berkali-kali saja saya banyak sambatnya dari pada berusaha nulis lagi. Kejauhan yang teramat sangat.

Ada hal-hal lain yang lebih “substansial” sehingga membuat saya istiqomah berambut gondrong.

Dari yang paling remeh, saya sering dimirip-miripin sama seniman sekelas Djaduk Ferianto. Atau ada yang bilang mirip Sabrang Mowo Damar Panuluh a.k.a Noe Letto. Jangan buru-buru menyimpulkan. Saya tidak lantas geer dimirip-miripin sama beliau berdua itu. Wong saya ngaca berkali-kali juga tetep ngerasa jauh.

Tapi saya jadi bertanya. Kenapa zaman sekarang, stereotipe laki-laki rambut gondrong selalu identik dengan seniman? Padahal saya tidak merasa nyeni sama sekali.

Ah iya! Karena hanya seni yang benar-benar hidup di alam kebebasan. Kegondrongan ini membawa saya ke dalam sensasi baru. Sensasi kebebasan dan kesan nyeni abis. Obsesi masa kecil saya yang berhasil saya raih “hanya” dengan memanjangkan rambut. Wuss~

Baca juga:  Revisi UU PAS: Mantap! Napi Boleh Liburan dan Pulang ke Rumah

Hal lain yang membuat saya bertahan adalah makin banyak orang gondrong yang masuk televisi baik sinetron, film, manggung ngeband macam Slank atau bahkan diberi ruang untuk menyampaikan pendapat di acara-acara talkshow spaneng sekelas ILC kayak Sudjiwo Tejo.

Artinya, pria gondrong dianggap sanggup mempertahankan rating pantas tampil di hadapan publik sebagai figur seperti orang kebanyakan.

Meskipun dengan pra syarat tertentu. Lagi-lagi karena mereka rata-rata seniman. Dan satu lagi, mereka good looking. Dan saya tidak.

Sebagai pria gondrong, tentu saya menolak lupa bahwa betapa menjadi “sekadar” gondrong di zaman pra reformasi ke belakang adalah sebuah pilihan yang teramat berat. Saking beratnya sampai disamakan statusnya dengan perbuatan makar terhadap negara.

Beberapa universitas zaman dulu bahkan dengan tegas menolak menerima mahasiswa berambut gondrong. Banyak seniman yang akhirnya harus mendekam di penjara lantaran dianggap melawan negara dan berambut gondrong. See?

Maka saat ini, di tengah situasi saling tuding masing-masing kubu pendukung capres bahwa kalau junjungan lawan jadi presiden, maka dia akan mengembalikan Indonesia ke zaman “hantu” Orba, maka saya berharap suatu saat akan muncul calon presiden yang berambut gondrong.

Tidak ada alasan untuk melawan harapan saya. Karena tidak ada undang-undang, norma agama, bahkan analisis fesyen stailis terhadap pria berambut gondrong. Apalagi “hanya” untuk menjadi Presiden.

Lho. Katanya pada nggak mau balik ke zaman Orba? Katanya pejuang HAM? Hak asasi untuk merdeka berambut gondrong saja kok dikebiri. Lha njuk gimana?

Ya kalau nggak Presiden, bisa kita mulai dari menunjuk Menteri laki-laki yang tentunya berkapasitas di bidangnya dan punya rambut gondrong.

Tapi saya nggak bisa ikut mbela dan ndukung, lho. Pasalnya bulan depan saya potong rambut tepat di hari ulang tahun Ibu. Kan saya udah bilang, saya ogah kehilangan syurga di bawah telapak kakinya. Sebelum beliau mimpi saya cukur untuk ketiga kalinya? Mending rambut ini saya jadiin kado.

Satu lagi, saya kapok diusir dari kelas. Memasuki detik akhir masa perkuliahan, saya ingin segera lulus. Setelah lulus saya mau nikahin perempuan yang menerima kegondrongan saya sebelum saya gondrong kembali cukur rambut bulan depan. Dan sebelum dia baca artikel Mbak Aprilia Kumala. Hiyahiya~

  • 207
    Shares


Tirto.ID
Loading...

No more articles