Obrolan soal pemutaran massal film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI kini sudah bergeser ke topik yang sekilas luar biasa konyol: apakah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Central Comite PKI saat Gestok terjadi, seorang perokok? (Tadinya mau disebut terakhir, tetapi tidak jadi karena menghitung sosok misterius Wahyu Setiaji.)

Muasalnya kenapa bahasan film PKI jadi melantur ke soal Aidit merokok adalah tayangan Indonesia Lawyer Club di tvOne. Di acara yang tayang 19 September lalu, putra D. N. Aidit, Ilham Aidit menggugat bahwa penggambaran D. N. Aidit sebagai perokok berat di film tersebut tidak sesuai kenyataan.

Tapi … di hari yang sama Intisari memuat ulang liputan mereka di tahun 1964. Dari banyak hal menarik dalam kunjungan Intisari ke kantor CC PKI itu, netizen justru terfokus pada deskripsi, “Selama wawancara 2 jam itu, Aidit banyak minum, rokok, dan secangkir kopi pahit.”

Lo, lo, jadi Aidit nih perokok apa bukan?

Sehari kemudian, liputan lama Tempo trending lagi. Judulnya, “Eksklusif G30S: Sebelum Didor Aidit Minta Rokok ke Eksekutor“. Disusul dengan viralnya foto Aidit sedang pegang rokok yang belum diketahui dari mana sumber aslinya.

Aidit tampak sedang mengapit rokok, dari mana sumber foto ini?

Aidit tampak sedang mengapit rokok, dari mana sumber foto ini?

Tapi, bukan berarti masalah jadi jernih. Soalnya Jajang C. Noer pernah bilang ke Tempo di tahun 2012 bahwa adegan Aidit merokok di film itu dimasukkan suaminya untuk menguatkan karakter Aidit sebagai the thinker.

Ruwet, tapi karena itu justru menarik dan sama sekali tidak receh. Ketika ada dua pendapat dengan bukti kerasnya masing-masing, kita justru ditantang untuk lebih dalam mendalami sejarah, khususnya sejarah ’65—’68. Bukan tidak mungkin jika kita sebut September sebagai bulannya adu fakta sejarah. Mantap.

Berikut sejumlah komentar netizen tentang Aidit dan rokok.

***

Dokter Mitha: Menarik melihat pro-kontra soal D. N. Aidit dan rokok karena wawancara langsung dengan Aidit di tahun 1964 jelas2 menunjukkan bahwa Aidit memang merokok, namun keterangan sang anak D. N. Aidit menyatakan sebaliknya, bahwa ayahnya bukan perokok.

Baca juga:  Menerka Karakter Kru Mojok Berdasarkan Rokok Mereka

Jika kita tarik garis waktu kembali ke tahun ’65, saat itu sang anak masihlah berusia 6 tahun, ditambah istri aidit yang seorang dokter, ini menunjukkan bahwa dedengkot PKI saja masih punya kesadaran untuk tidak merokok di depan istri dan anaknya yang masih kecil, walau lain lagi saat ia di luar rumah.

Nah, terlepas dari pelaku dan segala latar belakangnya, hikmah dan pembelajaran bisa datang dari mana saja, bahkan tempat paling buruk sekalipun. Semoga jadi tambahan renungan perokok agar mau maju satu langkah lagi, lebih dekat untuk berhenti total demi diri Anda dan kesehatan orang-orang terdekat Anda.

Rudi Wahyudi: Kata Ilham, Aidit tidak merokok. Usia Ilham saat itu 6,5 tahun.

Tempo pernah menulis berdasarkan kesaksian petugas, sebelum dieksekusi Aidit minta kopi dan rokok. Majalah Intisari tahun 1964 menyebut Aidit merokok.

Karena Ilham meriwayatkan dari ibunya, riwayatnya diterima. Kalau langsung, ditolak sebab usianya belum matang akalnya.

Metode dua riwayat ini bisa di-jama’ atau kompilasi tanpa di-tarjih.

Artinya, Aidit tidak merokok di depan istri dan anaknya, tapi di luar merokok. Mereknya Bentoel seperti pengakuan pengawal, bukan cerutu.

Ahwal seperti Aidit ini banyak, contoh ayah saya yang semasa dengan Aidit dan ikut tahlil di rumah Pak Yani tidak merokok, tapi kalau kumpul sama kawan-kawan di warkop ya ikut ngerokok. Ini tafsir perkataan Sjam Kamaruzaman saat menjawab pertanyaan Arifin C. Noer (dituturkan ulang Jajang C. Noer di acara TV ILC) dengan malas, “Ya, biasa saja, sama kayak yang lain.”

Sejak dulu sampai wafat Ibu saya akan bilang saya tak merokok karena bukan perokok, tapi kalau nobar video di kampung waktu ABG dikasih rokok, ikut merokok juga. Sriwedari rokoknya, “Ya sama kayak yang lain,” istilah Syam.

Baca juga:  Rachmat Gobel dan Asosiasi Pembuat Kebijakan Keblinger

Kesimpulannya, Aidit sesuai dengan fatwa MUI: dilarang merokok di depan anak-anak. Hehehe.

Iqbal Aji Daryono: Perdebatan kecil soal apakah Aidit merokok atau tidak ternyata dibawa jadi terlalu serius. Ada orang yang meletakkannya seolah sebagai tindakan playing victim untuk menyelamatkan Aidit dari tuduhan pemberontakan. Hahaha.

Lebay banget, memang. Saling berbantahan kecil soal rokok itu sebenarnya setara dengan pertanyaan apakah cerutu Pak Harto bikinan Kuba atau Tarumartani. Tidak ada tendensi untuk bilang bahwa Pak Harto diam-diam komunis andai cerutunya bikinan Kuba sekalipun.

Jadi perdebatan itu lebih semacam obrolan fashion belaka. Yang terlalu serius menduga-duga biar kopyor sendiri otaknya. Hahahaha.

Daripada ribut membahas versi Tempo (Aidit nggak ngerokok) atau versi Kompas/Intisari (Aidit ngerokok), mending kita bahas tokoh lain saja.

A. R. Fakhruddin

A. R. Fakhruddin

Ini foto almarhum Pak A. R. Fakhruddin, dulu Ketua PP Muhammadiyah. Waktu saya menulis “Muhammadiyah Garis Lucu, Mungkinkah?” yang bikin ribut sana sini itu, muncul beberapa aktivis Muhammadiyah yang protes. Sebab di tulisan itu saya nyebut-nyebut tentang Pak AR merokok.

Kata mereka, fitnah itu kalau bilang Pak AR merokok. Padahal saya ingat agak-agak kabur, di masa kecil saya dulu sering ikut pengajian Pak AR di SD Muhammadiyah Mrisi dan melihat beliau ngisi ngaji sambil klempas-klempus udud.

Saya juga ingat, mendiang bapak saya punya buku biru ini pula di rumah. Dan terekam jelas di ingatan saya bahwa bahkan di cover buku resmi pun jarinya njepit rokok.

Nah, sekarang kalau kita berdebat apakah Pak AR ngerokok atau tidak, apa ya mau dibawa kepada dugaan tendensi-tendensi ideologis tertentu? Ha kok selo men. Mau udud ya tinggal di-sumet aja to. Rasah kakehan cangkem.

Aditya Pratama: Bukan hanya persoalan Aidit merokok, ternyata mereka yang terlibat langsung dalam konflik saat itu saja bisa lebih berpikir dengan baik kalau film tersebut janggal dan murni hanya propaganda Soeharto dengan orde barunya.

Komentar
Add Friend
No more articles