Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

UNY Mengajarkan Kebebasan yang Gagal Saya Terjemahkan, sementara UAD Menyeret Saya Kembali ke Akal Sehat Menuju Kelulusan

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
16 Desember 2025
A A
UAD: Kampus Terbaik untuk “Mahasiswa Buangan” Seperti Saya MOJOK.CO

Ilustrasi UAD: Kampus Terbaik untuk “Mahasiswa Buangan” Seperti Saya. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – UNY membentuk saya menjadi mahasiswa yang bebas. Sementara itu, UAD menarik saya kembali ke jalan benar menuju kelulusan.

Saya adalah jenis mahasiswa yang jarang dirayakan di dunia akademik. Maklum, saya terlalu lama kuliah. 

Terlalu lama sampai kata “proses” terdengar seperti dalih dan kata “nanti” berubah menjadi mekanisme bertahan hidup. Saya bukannya tidak pintar, cukup aktif, dan bukannya tidak peduli dengan kelulusan. Saya hanya terlalu lama diberi kebebasan, dan terlalu percaya diri bisa mengatur hidup sendiri.

Tujuh tahun lebih saya hidup sebagai mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Datang ke kampus, berpentas, berdiskusi, terlibat banyak kegiatan, tapi tidak selesai. Setiap ditanya, “Kapan lulus?”, saya punya seribu alasan yang terdengar masuk akal, tapi satu kesamaan bahwa semuanya menunda.

Rasa bersalah itu tidak datang seperti badai. Ia datang perlahan dan menetap. Sampai suatu hari kenyataan paling telanjang menghantam saya tanpa empati. Masa studi saya di UNY habis.

Ketika tidak ada lagi ruang untuk menunda

UNY tidak mengusir saya. Kampus itu hanya berhenti menunggu. Dan saya paham itu. Saya terlalu lama memanfaatkan kelonggaran yang diberikan. Kultur kebebasan yang saya cintai ternyata menuntut kedewasaan yang belum saya miliki.

Di titik itu, hidup akademik saya menyempit. Pilihannya tidak heroik sama sekali, yakni berhenti atau pindah kampus. Saya tidak pindah karena benci UNY. Saya pindah karena ingin satu hal sederhana, lulus.

Keputusan itu terasa seperti pengakuan kegagalan sebagai manusia dewasa. Tapi justru di sana saya mulai jujur pada diri sendiri. Saya butuh sistem yang lebih kuat dari niat baik saya.

Mencari kampus baru, UAD, dan prasangka yang jujur

Mencari kampus baru dengan riwayat studi panjang dan transkrip nilai yang biasa saja bukan pengalaman membanggakan. Saya bukan mahasiswa incaran. Saya mahasiswa yang berharap diterima.

Universitas Ahmad Dahlan (UAD) muncul sebagai opsi yang paling rasional. Tapi di kepala saya, UAD identik dengan hal-hal yang berkebalikan dari sifat saya yaitu tertib, islami, rapi. Terlalu rapi untuk manusia seperti saya yang tumbuh di ekosistem seni, diskusi liar, dan kebebasan nyaris tanpa pagar.

Saya takut tidak cocok. Anggapan tidak disiplin juga jadi hantu tersendiri. Tapi, saya tidak lagi punya kemewahan memilih berdasarkan ego. Saya butuh tempat yang membuat saya selesai, bukan sekadar merasa hidup.

Baca halaman selanjutnya: Menemukan kampus yang terbaik untuk “buangan”.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 16 Desember 2025 oleh

Tags: ahmad dahlanjalur rplKampus di Jogjakampus negerikampus swastapindah kampusrekognisi pembelajaran lampauUADUniversitas Ahmad DahlanUniversitas Negeri Yogyakartauny
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Artikel Terkait

PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO
Sekolahan

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
Ulfi Rahmawati, penerima beasiswa LPDP alumnus UNY. MOJOK.CO
Kampus

Tak Melihat Masa Depan Cerah sebagai Guru Honorer di Ponorogo, Pilih Kuliah S2 dengan LPDP hingga Kerja di Perusahaan Internasional

21 Januari 2026
5 Esai Terpopuler Mojok 2025 (Mojok.co/Ega Fansuri)
Esai

5 Esai Terpopuler Mojok 2025: Sebuah Rekaman Zaman dan Keresahan Lintas Generasi

1 Januari 2026
Didikan bapak penjual es teh antar anak jadi sarjana pertama keluarga dan jadi lulusan terbaik Ilmu Komunikasi UNY lewat beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO
Kampus

Didikan Bapak Penjual Es Teh untuk Anak yang Kuliah di UNY, Jadi Lulusan dengan IPK Tertinggi

29 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Suzuki S-Presso memang mobil aneh karena jelek tapi keren MOJOK.CO

Ibarat kata, Suzuki S-Presso adalah “Crocs KW” yang jelek tapi keren dan kini menjadi benteng pertahanan terakhir melawan kegilaan dunia yang serba mahal ini

14 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.