MOJOK.CO – Perang “gangster berdaster” ibu-ibu di gang kampung ternyata ngeri. Bukan lagi pamer harta, tapi flexing utang!
Bagi para suami yang berangkat kerja jam 7 pagi pakai motor bebek dan pulang jam lima sore dengan baju kusut penuh keringat, dunia ini tampak sangat sederhana.
Dunia adalah tentang bagaimana cara menyalip angkot, cicilan panci yang hampir lunas, dan kopi hitam penurun stres di pos ronda. Mereka mengira, ketika melambaikan tangan pada istri di depan pintu rumah yang mepet ke jalan, sang istri akan masuk, menyapu lantai teras, memasak sayur asem, lalu selonjoran sambil nonton gosip dengan tenang.
Oh, sebuah kenaifan yang sangat paripurna. Para lelaki itu tidak pernah tahu bahwa begitu roda motor mereka keluar dari mulut gang dan bergabung dengan kemacetan jalan raya, sebuah ekosistem politik tingkat tinggi langsung aktif.
Gang kampung yang lebarnya cuma pas-pasan buat berpapasan dua motor itu mendadak berubah menjadi medan laga tanpa darah, tapi penuh dengan luka batin.
Ibu-ibu yang berkumpul bergerombol di depan warung klontong Bu Dedeh atau di dekat gerobak tukang sayur kelilingnya Mang Asep, itu bukan sekadar mau menawar harga kangkung dua ikat lima ribu. Mereka sedang menggelar sidang pleno, melakukan operasi intelijen tingkat tinggi, dan memetakan kekuatan fraksi.
Di gang kampung kita ini, mari perkenalkan dua panglima perang utamanya: sebut saja, Ibu Yayah dan Ibu Kokom.
Awal mula terbentuknya dua kubu “gangster berdaster” di gang kampung
Jika Anda mengira adegan tawuran antar-geng atau sekolah di film-film aksi luar negeri itu seram, artinya Anda belum pernah melihat Ibu Yayah dan Ibu Kokom berpapasan di gang sempit saat masing-masing mau menjemput anak sekolah.
Atmosfernya mendadak dingin, angin gang berhembus pelan meniup jemuran daster yang digantung di dinding luar rumah, dan tetangga yang kebetulan lewat langsung pura-pura batuk lalu jalan cepat-cepat.
Pertarungan di gang kampung tidak memakai senjata tajam atau balok kayu.
Senjata mereka jauh lebih mematikan, lirik mata dari atas ke bawah, deheman sinis yang frekuensinya bikin kuping panas, dan volume suara yang sengaja dinaikkan tiga oktaf agar bergema dari ujung gang ke ujung gang.
Kubu Bu Yayah adalah kubu pribumi asli. Mereka merasa sebagai pemilik sah gang ini karena kakek-nenek mereka dulu yang babat alas tanah kampung ini dari zaman masih banyak pohon bambu. Sementara itu kubu Teh Kokom adalah fraksi pendatang baru berisik yang mengontrak rumah di bedengan paling ujung.
Namun, kehadirannya di kampung langsung menggebrak dunia pergaulan dengan mengecat pintu rumah pakai warna pink menyala. Hobinya memutar musik dangdut remix pakai speaker bluetooth di terasnya yang cuma seukuran dua keset kaki.
Kenapa masalah kecil di gang kampung bisa menjadi drama kolosal sekelas pertarungan geng kriminal?
Sederhana saja. Logika gang kampung itu berbeda dengan perumahan elit yang pagarnya tinggi-tinggi. Di sini, jarak antar rumah begitu rapat sampai-sampai kalau tetangga sebelah bersin, kita bisa refleks bilang “Alhamdulillah”.
Jadi, begitu ada gesekan sekecil apapun, efek dominonya bisa meruntuhkan stabilitas keamanan kampung.
Minggu lalu, air cucian baju dari pipa pembuangan rumah Bu Yayah tidak sengaja merembes dan menggenang di depan pintu kontrakan Teh Kokom. Bagi para suami, solusinya gampang: ambil sapu lidi, dorong airnya ke got, selesai.
Namun, di dunia ibu-ibu gang kampung, genangan air itu adalah sebuah pernyataan perang terbuka. Teh Kokom merasa harga dirinya diinjak-injak oleh air sabun murah tersebut.
“Heh, kalau buang limbah tuh dilihat-lihat dong! Jangan mentang-mentang rumah sendiri terus air comberannya dialirin ke depan muka orang! Nggak pernah sekolah ya?!”
Sindiran Bu Kokom itu ia sampaikan saat membeli bawang merah di warung Maduranya Bu Dedeh. Sengaja dikeraskan agar suaranya memantul di dinding gang dan terdengar sampai ke dapur Bu Yayah.
Bu Yayah yang sedang menggoreng tempe langsung mematikan kompor dan keluar membawa sutil. Bukan untuk memasak, melainkan untuk melakukan gerakan pemanasan statis.
“Daripada situ, ngontrak baru tiga bulan aja gayanya udah kayak yang punya kampung! Bayar sampah bulanan aja masih sering nunggak!” balas Bu Yayah, langsung menusuk ulu hati finansial Teh Kokom.
Dan boom. Genderang perang resmi ditabuh. Gang kampung langsung terbelah menjadi dua kubu: kubu Aliansi Kontrakan Ujung yaitu kubu Teh Kokom dan Kubu Koalisi Tanah Ahli Waris, kubu Bu Yayah.
Flexing aset ala kampung dari kebun rambutan hingga patung bugil
Kalau bapak-bapak di gang ini ngumpul di pos ronda malam-malam, obrolannya paling mentok soal harga oli motor, skor pertandingan bola, atau mengkhayalkan cara jadi kaya raya tanpa kerja. Tapi kalau geng Yayah dan Kokom sudah pamer aset di sela-sela aktivitas menjemur pakaian, level kegilaannya bisa membuat pengamat ekonomi geleng-geleng kepala.
Siang itu, di area netral, yaitu di bawah pohon mangga depan rumah Pak RT, gencatan senjata terjadi demi sebuah ritual penting, ngerujak berjamaah. Tapi, ulekan cabai rawit yang pedas itu kalah membara dibanding obrolan mereka.
Bu Yayah memulai serangan dengan gaya klasik: pamer kekayaan keluarga besar di kampung halaman untuk menegaskan status sosialnya yang “berakar”.
“Duh, pusing saya mah, Teh. Bulan depan harus mudik ke Subang. Paman saya yang di sana itu panen kebun rambutan. Manisnya bukan main, udah kayak madu. Katanya saya disuruh bawa pulang dua karung buat dibagi-bagi ke gang ini,” katanya.
Omongannya belum selesai, “bingung saya taruhnya di mana, rumah petak gini kan sempit, takut penuh,” kata Bu Yayah sambil mengunyah jambu air dengan anggun, seolah-olah dia adalah tuan tanah yang sedang memikirkan gudang penyimpanan.
Teh Kokom yang duduk di atas bangku kayu panjang langsung tersemprot tawa sinis. Rambutan? Di tahun 2026? Tolong, itu selera zaman kolonial.Teh Kokom langsung mengeluarkan jurus pamungkas yang langsung menaikkan standar kesombongan gang kampung ke tingkat internasional.
“Yaaa, mending paman situ cuma punya pohon rambutan, musiman pula. Paman saya dong di kampung, baru kelar bikin kolam ikan sekaligus tempat mandi pribadi di belakang rumahnya. Di tengahnya ada air mancur bentuk patung orang bugil yang keluar air dari mulutnya! Estetik banget, kayak di villa-villa mewah di Bogor!” ujar Teh Kokom, bangga bukan main sambil mengibaskan daster layangannya.
Bu Yayah tersedak. Ibu-ibu lain yang ikut ngerujak langsung melongo sambil memegang ulekan. Bayangan sebuah patung tanpa busana memancurkan air, di tengah-tengah kampung halaman Teh Kokom langsung membuat imajinasi liar ke mana-mana.
Tidak ada yang tahu apakah paman Teh Kokom itu nyata atau cuma karakter fiktif hasil karangan bebas. Yang jelas untuk siang itu,Teh Kokom memenangi ronde pamer aset dengan skor telak.
Sisi gelap gang kampung: Kompetisi pamer utang Bank Emok
Namun, jangan dikira kehidupan sosial ibu-ibu gang kampung ini selalu berisi hal-hal yang indah dan pamer kemewahan. Ada satu momen dimana pamer aset bergeser 180 derajat menjadi kompetisi yang jauh lebih ekstrem, lebih gila, dan melompati segala logika sehat para suami, pamer besarnya utang.
Di kalangan akar rumput gang kampung, punya utang banyak dan berhasil bertahan hidup tanpa digebret penagih utang adalah sebuah pencapaian spiritual yang patut diapresiasi oleh sesama anggota geng. Dan di sinilah sebuah lembaga bernama “Bank Emok” atau koperasi Mekaar menjadi tokoh protagonis sekaligus antagonis utama.
Bagi yang belum tahu, Bank Emok adalah istilah lokal untuk pinjaman kelompok mikro. Biasanya terafiliasi dengan program ultra mikro atau koperasi seperti Mekaar dari BUMN yang bekerja sama dengan bank BRI Mekaar, di mana ibu-ibu dikumpulkan di satu rumah, duduk lesehan bersila atau emok dalam bahasa Sunda untuk mencairkan atau membayar cicilan mingguan.
Sistemnya adalah tanggung renteng. Kalau ada satu orang yang kabur atau nggak punya uang pas hari H, anggota kelompok yang lain harus patungan bayar. Ini adalah ujian kesetiaan yang luar biasa berat, mirip komitmen solidaritas antar-anggota geng yang harus menanggung kesalahan temannya.
“Kamu mah utang baru lima juta aja mukanya udah kusut kayak dompet kosong, Kom,” cetus Bu Yayah suatu pagi di sela-sela mengantri tukang sayur, membuka sesi curhat finansial.
“Saya dong, di Mekaar udah masuk plafon baru. Kemarin cair lima juta, tapi ya bersihnya cuma keterima tiga juta setengah.”
“Lah, kok bisa kepotong banyak gitu, Bu Yayah?” tanya Ibu Tia, anggota kubu netral yang rumahnya tepat di tengah-tengah gang.
“Ya kan dipotong ini itu, dipotong tabungan wajib, dipotong admin, belum lagi dipotong buat bayarin titipan sisa utang yang lama. Berhubung utang yang lama belum lunas tapi saya butuh uang buat ganti mesin cuci, biar suaranya nggak sekresek mesin cucinya Kokom, jadi utangnya diperbaharui! Gali lubang, tutup lubang, lalu gali sumur sekalian!” Yayah menjelaskan dengan wajah tegak penuh kebanggaan.
Seolah-olah baru saja mendapatkan dana hibah dari Bank Dunia.
Teh Kokom jelas tidak mau kalah. Baginya, kalah dalam jumlah nominal hutang atau potongan admin adalah penghinaan terhadap kapasitas mental finansial keluarganya di mata warga gang.
“Halah, kalau nasabah lama kayak situ mah potongannya emang standar begitu. Nih, dengerin ya. Saya kemarin bawa keponakan saya yang baru nikah buat jadi nasabah baru. Biar dapet kuota nama baru di kelompok. Tahu nggak? Nasabah baru mah cuma dikasih plafon dua juta. Terus potongan adminnya langsung tiga ratus ribu! Pulang-pulang cuma bawa satu juta tujuh ratus rebu!” Kokom menepuk dadanya tipis-tipis. Bangga karena berhasil menginisiasi saudaranya masuk ke dalam pusaran lingkaran setan finansial kampung.
“Tapi kan itu bunganya kalau dihitung-hitung mencekik ya, Bu?” tanya Ibu Tia polos sambil memegang tempe mendoan.
“Heh, biar mencekik yang penting cairnya cepat, nggak pakai jaminan sertifikat tanah, Suami saya mana tahu uang ini dari mana. Tahunya motor udah diservis, dapur ngebul, anak bisa jajan.”
“Perkara minggu depan pusing kepala, mikirin setoran mingguan pas petugasnya datang, itu mah urusan saya sama Tuhan dan kelihaian saya ngumpet di dalam kamar sambil matiin lampu!” jawab Kokom sengit, yang langsung diangguki oleh anggota kubunya.
Ketika para suami berada di ruang hampa angkasa
Sementara perang dingin, konflik genangan air sabun, pamer patung bugil, dan transaksi tingkat tinggi Bank Emok ini bergulir setiap hari di sepanjang gang, para suami di kampung tersebut tetap hidup dalam kedamaian yang fana dan penuh kepolosan.
Mereka pulang rumah malam hari, disuguhi kopi saset hangat, lalu duduk di teras sambil mengeluh tentang betapa susahnya cari uang di zaman sekarang. Mereka tidak pernah tahu bahwa istri-istri mereka sedang mengelola risiko finansial global tingkat tinggi dengan sistem tanggung renteng yang taruhannya adalah nama baik keluarga di satu RT.
Mereka tidak tahu bahwa setiap sapaan ramah dari tetangga sebelah saat berpapasan malam hari adalah kepalsuan belaka, karena begitu matahari terbit, daster-daster itu telah berubah menjadi baju perang.
Maka, wahai para lelaki penghuni gang kampung, jika besok pagi kamu melihat istri-istrimu berkumpul bergerombol di depan warung. Dan suaranya mulai terdengar melengking tinggi, jangan pernah mencoba mendekat, sok tahu, atau ikut campur.
Berjalanlah menunduk, percepat langkahmu demi keselamatan jiwamu. Karena di gang sempit yang remang itu, sedang ada pertempuran tahta daster yang jauh lebih kejam dan tak kenal ampun daripada perseteruan kelompok mana pun.
Dan ingat, jangan kaget kalau tiba-tiba di rumahmu ada barang baru, atau tiba-tiba ada sekelompok orang bermotor matic parkir berjejer di depan gang setiap hari Selasa jam sepuluh pagi mencari istrimu. Itu hanyalah konsekuensi kecil dari perang daster yang tidak akan pernah bisa dijangkau oleh logika lelaki.
Penulis: Wiwi Susanti
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Seni Bertahan Hidup Penjual Mie Ayam Menghadapi Pindah Harga dan Tangisan di Hari Senin














