Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan

Heka Faza Nur Azizah oleh Heka Faza Nur Azizah
17 Agustus 2026
A A
TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan MOJOK.CO

Ilustrasi TPU Farm: Ketika Kematian Menumbuhkan Kehidupan.

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bahkan setelah meninggal, seorang bapak masih meninggalkan cabai untuk anak-anaknya. Dari pemandangan itulah saya membayangkan tempat pemakaman umum tak melulu menjadi ruang pasif, tetapi juga dapat ikut menghidupi warga di sekitarnya.

Beberapa waktu lalu, saya menemukan video dua anak yang mengunjungi makam orang tuanya. Keduanya tampak terkejut sekaligus haru ketika melihat dua pohon cabai tumbuh subur di atas pusara. Dalam keterangan unggahan itu, tertulis, “Bahkan setelah pergi pun, Bapak masih memberikan berkah untuk kami.”

Iklan

Kalimat sederhana itu mengubah cara saya memandang pemakaman. Apakah tempat pemakaman umum (TPU) benar-benar hanya berbicara tentang akhir kehidupan? Atau, tanpa mengurangi kesakralannya, ia masih mungkin memberi manfaat bagi mereka yang hidup?

Pertanyaan itu kembali muncul ketika saya melewati sebuah TPU di tengah Kota Bandung. Nisan-nisan berdiri rapat dan nyaris tak menyisakan ruang kosong. Kematian pun ternyata berhadapan dengan persoalan klasik kota besar: keterbatasan lahan.

Data dari hasil kajian tata ruang Universitas Komputer Indonesia menyatakan bahwa 13 TPU di Kota Bandung telah terisi hingga 96%, dengan tujuh di antaranya berada dalam kondisi kritis. 

Di sisi lain, Kota Bandung masih kekurangan ruang terbuka hijau (RTH) yang baru mencapai 12 persen, jauh dari standar minimal 30 persen. TPU memang termasuk bagian dari RTH, tetapi fungsinya belum selalu dioptimalkan. Dari situlah muncul gagasan TPU Farm: memanfaatkan bagian tertentu di kawasan pemakaman untuk menanam tanaman produktif tanpa mengubah fungsi utama TPU sebagai tempat peristirahatan terakhir.

TPU tetap makam, bukan kebun biasa

Gagasan ini tentu bukan ajakan membongkar makam atau menanam secara serampangan di atas pusara. Ruang yang dapat dimanfaatkan ialah area kosong di antara blok makam, tepian jalan setapak, lahan penyangga, atau bagian lain yang ditetapkan pengelola. Metodenya pun dapat memakai pot, wadah tanam, atau bedeng khusus agar kegiatan pertanian tidak mengganggu makam.

Pemilihan tanamannya harus mempertimbangkan kebutuhan ruang, perawatan, dan keamanan. Cabai dapat menjadi salah satu pilihan karena banyak dikonsumsi dan harganya kerap naik-turun. Namun, saya menyadari bahwa menghitung hasil panen hanya dari jumlah makam akan terlalu menyederhanakan persoalan. Tidak semua TPU memiliki luas, kondisi tanah, akses air, dan dukungan warga yang sama.

Karena itu, TPU Farm sebaiknya tidak dijanjikan sebagai jawaban besar atas krisis pangan. Konsep ini lebih masuk akal sebagai percobaan urban farming skala lokal: hasilnya mungkin tidak mampu mengendalikan harga cabai satu kota, tetapi dapat dimanfaatkan warga sekitar atau membantu membiayai perawatan makam.

Manfaatnya pun tidak berhenti pada hasil panen. Tanaman yang dirawat dapat membuat lingkungan TPU lebih hijau dan rapi. Kegiatan bercocok tanam juga membuka peluang keterlibatan warga, juru kunci, serta keluarga ahli waris. TPU yang selama ini baru ramai ketika pemakaman atau menjelang Ramadan dapat menjadi ruang yang lebih terawat sepanjang tahun.

Jika dikelola secara transparan, sebagian hasil panen dapat dibagikan kepada warga dan sebagian lain digunakan untuk membeli bibit, menyediakan air, atau menjaga kebersihan TPU. Dengan demikian, kegiatan ini tidak sekadar menanam, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap ruang bersama.

Jangan sampai niat baik justri bikin konflik

Meski terdengar menjanjikan, gagasan ini tidak boleh dijalankan terburu-buru. Makam adalah ruang sakral. Setiap keluarga memiliki keyakinan, tradisi, dan batas kenyamanan yang berbeda. Apa yang menurut satu orang merupakan bentuk penghormatan, bisa dianggap mengganggu oleh orang lain.

Iklan

Karena itu, persetujuan keluarga atau ahli waris harus menjadi dasar. Pemerintah, pengelola TPU, tokoh agama, warga sekitar, dan ahli waris perlu duduk bersama sebelum menentukan lokasi, tanaman, cara pengelolaan, hingga pembagian hasil. Tanpa proses tersebut, TPU Farm justru berpotensi menimbulkan konflik.

Aspek kesehatan juga tidak boleh diselesaikan hanya dengan dugaan bahwa tanaman pasti aman. Kondisi tanah, kualitas air, penggunaan pupuk, dan kelayakan hasil panen harus diperiksa oleh pihak yang memiliki kompetensi. Jika tanaman pangan dinilai berisiko, kawasan itu masih dapat ditanami bunga, tanaman obat nonkonsumsi, atau vegetasi lain yang bermanfaat bagi lingkungan.

Regulasi pun perlu dibaca dengan hati-hati. Karena TPU merupakan fasilitas dengan fungsi khusus, pemanfaatan lahannya harus mengikuti rencana tata ruang, aturan pemakaman, serta kebijakan pemerintah daerah. Tidak adanya larangan yang disebut secara terang-terangan tidak otomatis berarti semua kegiatan boleh dilakukan.

Langkah paling realistis ialah memulai proyek percontohan dalam skala kecil. Pemerintah daerah dapat memilih satu area yang masih memungkinkan, menggunakan pot atau bedeng terpisah, lalu mengevaluasi dampaknya terhadap lingkungan, penerimaan keluarga, biaya pengelolaan, dan keamanan hasil tanam. Jika berhasil, modelnya dapat diperbaiki sebelum diterapkan di tempat lain.

Keterbatasan lahan pemakaman dan ruang hijau di kota besar tidak dapat diselesaikan hanya dengan terus mencari tanah baru. Kita juga perlu memikirkan cara merawat dan mengoptimalkan ruang yang sudah ada. Namun, inovasi tidak boleh menghapus fungsi utama serta nilai sakral pemakaman.

TPU Farm memang belum tentu menjadi solusi yang sempurna. Akan tetapi, gagasan ini mengajak kita melihat bahwa ruang yang lekat dengan kematian pun masih mungkin menumbuhkan kepedulian, kebersamaan, dan kehidupan. 

Di antara kelahiran dan kematian yang terus berlangsung, kita mempunyai pilihan: membiarkan ruang kota makin terdesak atau mengelolanya dengan lebih bijak—tentu tanpa mengusik mereka yang telah beristirahat.

*) Tulisan ini merupakan finalis Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.

Penulis: Heka Faza Nur Azizah
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Dari Sungkem hingga Minum Bekas Kiai, Dasar Etika Para Santri di Pondok Pesantren yang Dituding Perbudakan

Terakhir diperbarui pada 17 Agustus 2026 oleh

Tags: beswan djarumcabaimakamtpu
Heka Faza Nur Azizah

Heka Faza Nur Azizah

Saya merupakan mahasiswa Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Pasundan, yang aktif dalam berbagai organisasi, kegiatan kepemudaan. Saya memiliki minat pada isu hubungan internasional, diplomasi kesehatan, hak asasi manusia, dan pemberdayaan masyarakat. Di waktu luang, saya senang menulis opini, membuat konten edukatif, dan mengikuti kompetisi esai maupun debat.

Artikel Terkait

Tawadhu Tidak Seharusnya Membuat Santri Diam saat Menjadi Korban MOJOK.CO

Tawadhu sebagai Pisau Bermata Dua: Santri Tidak Seharusnya Dibungkam saat Menjadi Korban

26 Juli 2026
Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan MOJOK.CO

Ketika Video Korban Kecelakaan Mengubah Kematian Menjadi Tontonan

24 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Fenomena sarjana jadi pengangguran karena ijazah kuliah memang bulan modal ekonomi dan persoalan ketimpangan kapital MOJOK.CO

Bedah Penyebab Sarjana Pengangguran: Ijazah Kuliah Tak Bisa Jadi Modal Ekonomi, Dapat Kerja Ditentukan Privilege Keluarga

15 Agustus 2026
ilustrasi - PSEL DIY di dekat TPA Piyungan. MOJOK.CO

Pemda DIY Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja Khususnya Warlok untuk Olah Sampah Jadi Energi Listrik di Dekat TPA Piyungan

11 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Susahnya mahasiswa di kampus tanpa working space 24 jam: kerjakan tugas kuliah di kos burnout, ke coffee shop tidak punya uang MOJOK.CO

Susahnya Mahasiswa di Kampus Tanpa Working Space 24 Jam: Nugas di Kos Burnout, Ke Coffee Shop Tak Punya Uang

12 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

1 Juta Sarjana Jadi Pengangguran hingga Terpaksa Pinjol untuk Biaya Konsumtif, Apa yang Harus Pemerintah Lakukan?

11 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.