Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Terang-Gelap Masjid Salman ITB

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
2 Juni 2017
A A
masjid salman

masjid salman

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ketika hari ini masjid-masjid kampus dan kegiatan kerohanian marak dikerubuti anak-anak muda; ketika berangkat ke masjid sama kerennya dengan ke kafe/diskotek; ketika berjilbab sama bergayanya dengan memakai pakaian yang serbamini, mula-mula berterimakasihlah kepada Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB).

Anda benar, Masjid Salman yang saya maksud adalah masjid yang dituduh sebagai sarang radikalisme dakwah Islam sepekan jelang Ramadan. Tuduhan mutakhir ini bisa jadi benar kalau melihat rantai sejarahnya setengah abad terakhir. Namun, kita mesti adil meletakkan apa pun pada proporsinya.

Pahamilah, Salman ITB itu bukan hanya soal tempat; soal masjid yang tak punya kubah; soal sepetak tanah di mana anak-anak muda calon insinyur dengan segala jurusan keilmuan dan keterampilan menghadap kiblat dan membicarakan keyakinan mereka di hadapan tafsir-tafsir dunia.

Salman ITB itu ikon; terutama merangkul kembali anak-anak muda terpelajar di perkotaan besar untuk kembali ke agamanya lewat pintu-pintu masjid dan dari balik mimbar serta bilik mihrab.

Masjid yang dibangun kakak-adik Ahmad Sadali (pembuat logo HMI) dan Ahmad Noe’man pada 1963 ini, oleh Imaduddin Abdul Rahiem berubah menjadi gerbong dakwah Islam. Bang Imad yang berapi dan Sadali yang teduh membawa Salman ITB mendobrak praktik keberagamaan dalam kampus.

Lewat Bang Imad, mula-mula puluhan anak muda dipanggil dan digembleng di madrasah bernama Latihan Mujahid Dakwah (LMD). Kronik 1974 mencatat tahun itu menjadi tonggak lahirnya dakwah dalam kampus yang sifatnya “sekuler” (di luar IAIN) di masa orde militer Harto. LMD, dengan metode cuci otak dan “membersihkan” akidah mahasiswa, menjadi jalan awal perjuangan dakwah dalam kampus.

Resep Bang Imad itu terbukti manjur menarik minat. Bukan hanya dari kampus ITB, tetapi juga mahasiswa dari kampus lain. Alumni-alumni kader LMD didikan Salman ITB kemudian jadi anak panah hadirnya badan kerohanian di kampus-kampus. Masjid Arief Rahman Hakim di UI Jakarta menjadi basis dakwah dengan kegairahan baru. IPB Bogor melahirkan Badan Kerohanian Islam (BKI). Gairah yang ditabur Salman ITB itu menggeliat pula di Jamaah Salahuddin UGM dan ITS Surabaya.

Tidak berhenti di sana, kader mujahid dakwah Salman ITB itu juga terlibat dalam “pemakmuran” masjid secara umum dengan membentuk Badan Koordinasi Pemuda Masjid (BKPM). Dari lembaga ini lahir generasi takmir masjid dengan napas baru dan wajah segar yang umumnya dipundaki anak-anak muda.

Salman ITB mengubah secara radikal dan memberi perspektif baru bahwa berkegiatan di masjid itu keren, enggak kuper, atau masjid hanya tempat pelarian saat kesepian dan patah hati. Di masjid itu ada otak, sekaligus hati. Masjid tak sekadar tempat sujud yang sunyah bagi manusia-manusia uzur menuju Sang Khalik, tapi arena berorganisasi dan membangun jejaring perjuangan dakwah.

Dari Salman ITB itulah kita bisa mendaftar kemunculan basis-basis dakwah baru dengan metode dan weltanschauung ala Salman dengan menggunakan masjid sebagai mondialnya. Sebut saja Masjid Syuhada dan Sudirman di Yogyakarta; Masjid Sunda Kelapa, Al-Azhar, Cut Meutia di Jakarta; Masjid Al-Falah dan Kemayoran di Surabaya; dan tentu saja Masjid Mujahiddin dan Istiqomah di Bandung.

Kegiatan semacam Ramadan di Kampus (RDK), Pesantren Kilat untuk pelajar di musim libur, kultum, pemakaian jilbab dengan semangat baru untuk mahasiswa dan pelajar SMA, hingga penerbitan buku dengan tema yang segar selalu terhubung dengan Salman ITB. Jika lini penerbitan sebelumnya hanya dikuasai Bulan Bintang dan Bina Ilmu, di masa ghiroh yang dibawa Salman ini memunculkan Mizan dan Pustaka Salman. Dengan pustaka dakwah yang kontekstual itulah mahasiswa dengan gairah keislaman yang meluap-luap itu memamah buku-buku karya Ali Syariati, Murtadha Muthahari hingga Yusuf Qardhawi, Maududi, dan Sayyid Quthub.

Kegairahan ini tentu saja menimbulkan ekses dan gesekan. Jika Anda melihat siswi di sekolah negeri berjilbab saat ini, yakinlah, bahwa itu tak datang begitu saja. Jilbab adalah benda aneh di kepala karena sebelumnya perempuan muslim hanya memakai kerudung. Lewat Salman, jilbab disemarakkan, bahkan percobaan pertama secara terbuka dilakukan di SMA 3 Bandung pada 1982. Sekolah tentu saja keberatan. Hukum skors dan sebagainya diberlakukan. Bahkan, kasus pelarangan siswa berjilbab di Jakarta berujung di meja pengadilan.

Perjuangan menegakkan kain jilbab di sekolah menjadi pemanasan menuju babak baru, hubungan yang tegang dengan pemerintah ketika desas-desus Asas Tunggal Pancasila mulai dihembuskan. Kegairahan ini rupa-rupanya ingin dipadamkan dengan resep cespleng mengendarai garuda sebagai mobil pemadam kebakaran.

Sejumlah peristiwa yang menjadi dalih penghancuran; antara lain 65 jam pembajakan pesawat Garuda DC9 pada 28 Maret 1981 oleh Pemuda Masjid Istiqamah Bandung pimpinan Imran, yang sebelumnya dimulai dengan penyerangan kantor polisi di Cicendo, Bandung. Masih ingat bom panci Cicendo pada Februari 2017? Nah, itu pita kaset lama yang diputar kembali.

Iklan

Kenal Masjid Sudirman di Jl Kolombo Yogya? Masjid yang saat ini rutin menggelar pengajian filsafat, kejawen, hingga metode marxisme dalam mengaji Alquran itu pernah menjadi “sarang radikalisme” yang membuat alat negara datang menggebuknya. Perkaranya adalah buletin Ar-Risalah yang dikelola takmir bernama Irfan Suryahardy, dan dicetak lebih kurang 10 ribu eksemplar. Buletin itu dituding mengompori pembangkangan dengan mengafirkan pemerintah dan mengimpor konsepsi revolusi dari Khomeini di Iran.

Imran dan Irfan, dan tentu saja pemuda kerempeng Tony Ardie, adalah mubalig-mubalig muda kondang keluaran LMD ala Salman ITB yang menggelar dakwah Islam dengan suara lantang dan lewat jalan perlawanan terbuka terhadap pemerintah. Mereka adalah sisi lain dari kegairahan keislaman anak-anak muda semasa. Sejarawan cum sastrawan Kuntowijoyo di majalah Tempo edisi lawas punya istilah yang bagus menunjuk karakter mereka: “Dakwah yang disetel keras”.

Tampaknya, kaset suasana dakwah akhir 70-an dan sepanjang 80-an itu kembali diputar lagi. Tampaknya pula, kaset lama yang sudah dikonversi dalam format mp3 itu disetel keras-keras oleh mubalig-mubalig berlidah belati. Tampaknya juga, cara pemerintah mengecilkan volume suara keras itu memakai cara tahun 80-an; memperhadapkan langsung para mubalig itu dengan Pancasila, menggelar insinuasi, diikuti dengan penangkapan dan pemenjaraan.

Jadi, bila ada yang tebar tuduhan Salman ITB kamar gelap gerakan radikal, ada benarnya. Toh, Bang Imad sebagai tokoh sentral Masjid Salman ITB juga ditangkap untuk kerja teknik dakwahnya yang dianggap oleh pemerintah militer Harto setelannya terlalu keras.

Namun, di atas semua itu, Salman ITB punya jasa yang tak boleh Anda sepelekan begitu saja, yakni ikhtiar memakmurkan masjid dan mendekatkan anak muda di kampus sekuler dengan terma-terma pokok Islam; menghidupkan penerbitan buku; serta menjadikan jilbab sebagai fesyen umat sehari-hari. Itulah jalan dakwah Salman ITB, terang-gelap, tanpa meminggirkan sama sekali peran kampus agama macam IAIN dan majelis-majelis taklim.

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2017 oleh

Tags: Ahmad SadaliBadan Koordinasi Pemuda MasjidBandungImaduddin Abdul RahiemInstitut Teknologi BandungMasjid Arief Rahman HakimMasjid SalmanMasjid Salman ITBMasjid Sudirman YogyakartaMasjid Sunda kelapaMasjid SyuhadaSalman
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Gedebage, Bandung.MOJOK.CO
Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Riset, Peneliti, Guru Besar Abal-Abal.MOJOK.CO

Sekte “Pemuja Kargo” di Ekosistem Kampus Indonesia yang Mencetak Peneliti Palsu dan Ilmuwan Abal-Abal

3 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.