Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Solusi dari Rekruter Profesional Biar Wawancara Beasiswa LPDP Nggak Makin Absurd

Proses wawancara penerima beasiawa LPDP dianggap absurd. Perbaikan, konon, sedang diusahakan. Kira-kira, sebaiknya itu gimana, sih?

Seto Wicaksono oleh Seto Wicaksono
11 Mei 2022
A A
Wawancara Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Ilustrasi Wawancara beasiswa LPDP. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seandainya kelak saya punya kesempatan menjadi salah satu pewawancara untuk seleksi beasiswa LPDP, akan seperti apa prosesnya dan apa saja tema pertanyaan yang akan saya ajukan.

Dari tahun ke tahun, pembahasan soal seleksi beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) menjadi rutinitas yang seakan sulit dikesampingkan oleh banyak kalangan. Masih menjadi polemik yang ora uwis-uwis.

Menariknya, topik yang diangkat ke permukaan juga beragam. Mulai dari pertanyaan apakah awardee, penerima beasiswa, sudah tepat sasaran atau justru malah diterima oleh para oportunis, sampai dengan persoalan kesulitan mencari pewawancara. Akibatnya, proses wawancaranya menjadi wagu dan agak nganu.

Boleh jadi tidak semua pewawancara beasiswa LPDP melakukan penyimpangan. Namun, seperti yang sudah-sudah, fokusnya akan tertuju kepada mereka yang dianggap bermasalah.

Seperti yang terjadi pada 2017 lalu, misalnya. Melansir dari BBC Indonesia, peserta calon penerima beasiswa LPDP disuruh menyanyi lagu wajib saat proses wawancara berlangsung. Wajar jika pada akhirnya sebagian peserta, sekaligus masyarakat yang jempolnya hiperaktif di internet, keheranan sekaligus membatin, “Ini seleksi penerimaan beasiswa LPDP atau audisi X-Factor Indonesia terselubung?”

Belum lagi beberapa pertanyaan yang masih bersinggungan dengan SARA dan intimidatif. Terakhir, rektor kampus ternama yang menjadi salah satu pewawancara LPDP dianggap rasis karena menyelipkan istilah “manusia gurun” pada status Facebook-nya.

Walaupun pihak kampus sudah memberi konfirmasi bahwa hal tersebut adalah opini pribadi beliau, tetap saja label antara rektor kampus dan rasis sulit dipisahkan. Apalagi kalau netizen sudah ikut nimbrung. Apa nggak makin jelimet?

Di sisi lain, wajar jika beberapa kekurangan tersebut menjadi sorotan sekaligus mendapat kritikan. Selain karena sudah menghasilkan kontroversi, nggak jarang polemik ini berujung pada kata evaluasi, perbaikan, hingga pembenahan.

Padahal, terkait proses wawancara beasiswa LPDP yang agak nganu dengan segala pertanyaan SARA, diskriminatif, dan intimidatif, semestinya sudah ada kesadaran diri agar hal tersebut tidak terucap oleh pewawancara. Biar tetap pada konteksnya gitu.

Saya cukup paham bahwa proses wawancara itu nggak segampang aktivitas netizen di media sosial yang passionate betul dalam memberi hujatan, Bapak/Ibu yang terhormat. Sebagai rekruter atau pewawancara, kerap kali saya menghadapi berbagai kesulitan yang tidak terduga. Namun, hal tersebut tetap nggak bisa dijadikan pembenaran untuk melakukan beberapa penyimpangan. Prinsipnya sederhana saja, pertanyaan yang diajukan selama wawancara tetap nggak boleh serampangan, semaunya, apalagi sampai mengandung unsur SARA dan intimidatif.

Lantaran punya profesi yang masih beririsan dengan proses wawancara, saya sempat membayangkan. Seandainya kelak saya punya kesempatan menjadi salah satu pewawancara untuk seleksi beasiswa LPDP, akan seperti apa prosesnya dan apa saja tema pertanyaan yang akan saya ajukan.

Pembagian peran dan fungsi sebagai pewawancara beasiswa LPDP

Tentu saya akan memilih peran pewawancara layaknya seorang good cop, istilah atau teknik yang biasa dipakai untuk berbagai kesempatan. Punya sisi lembut, tidak intimidatif dan agresif saat melakukan tugasnya, termasuk untuk proses wawancara. Intinya, lebih kepada mengajak brainstorming tanpa perlu ngegas sana-sini, lah. Termasuk punya tugas mencairkan suasana biar nggak tegang-tegang amat.

Selanjutnya, selain ada yang berperan sebagai good cop, sebagai penyeimbang, tentu akan ada yang menjadi bad cop. Bukan soal intimidatif atau ngegas selama proses wawancara beasiswa LPDP berlangsung, namun cenderung lebih tegas dan lugas dibanding good cop yang terkesan casual dan santai.

Prinsip seorang good cop adalah, memaksimalkan komunikasi serta mengetahui potensi melalui situasi yang membikin nyaman para peserta. Sedangkan bad cop, pada dasarnya ingin mengobservasi reaksi para peserta LPDP pada saat ada di situasi tertekan dan/atau kurang menyenangkan. Apakah masih bisa merespons segala pertanyaan dengan tenang atau justru sebaliknya, menyerah dan hilang arah. Suatu kombinasi yang mumpuni, bukan?

Iklan

Kemudian, sudah menjadi rahasia umum, berdasarkan pengalaman para peserta beasiswa LPDP, dalam satu sesi panel interview, total pewawancara berjumlah tiga orang. Untuk posisi Psikolog dalam proses wawancara, agar punya peranan yang lebih jelas dan nyata, dibanding ikut-ikutan di posisi bad cop atau cenderung intimidatif sambil observasi peserta, boleh jadi akan lebih efektif jika fungsinya dipisahkan. Dari yang sebelumnya berperan sebagai pewawancara, menjadi konselor bagi para peserta.

Harapannya, para peserta potensial atau terpilih menjadi semakin yakin dengan pilihan dan/atau keputusannya untuk mengikuti program beasiswa LPDP. Termasuk mengingatkan kembali tentang visi dan misi dari LPDP itu sendiri.

Biar nggak dibilang, part time student, full time traveler, dianggap oportunis, enggan pulang ke Indonesia sampai kontribusi dianggap nggak ada padahal sudah dibiayai oleh negara. Eh.

Teknik dan materi wawancara

Selain metode LGD (Leaderless Group Discussion) dengan beragam tema diskusinya, proses wawancara per individu menggunakan metode BEI (Behavioral Event Interview) atau STAR (Situation-Task-Action-Result) harus dipertahankan agar tetap fokus pada konteks dan meminimalisir penyimpangan oleh pewawancara.

Belakangan, saya menyadari bahwa pertanyaan yang diajukan nggak melulu harus formal atau straight to the point. Pertanyaan teknis tentang LoA (Letter of Acceptance) untuk mendapat persetujuan kampus yang dituju dengan segala tetek bengeknya boleh saja tetap diajukan.

Namun, agar prosesnya tetap punya sisi menyenangkan, bisa juga melalui pertanyaan yang, terdengar santai, mungkin terkesan jenaka atau main-main, padahal punya tujuan dan maksud tertentu yang bisa digali. Biar jawaban dari peserta penerima beasiswa LPDP lebih variatif, nggak template, dan sesuai dengan kondisi aktual sekaligus pengalaman yang dilalui sebelumnya.

Misalnya saja pertanyaan tentang, “Bagaimana cara Mas/Mba menghadapi teman dengan pola pikir yang berbeda, entah di kehidupan nyata dan/atau di media sosial?”

Terkesan sepele, tapi jawaban yang disampaikan akan menentukan dan menggali beberapa hal. Seperti, bagaimana yang bersangkutan mengontrol diri dan memaksimalkan media sosialnya. Berdamai dengan teman walaupun berbeda sudut pandang, dan lain sebagainya. Termasuk bagaimana cara merespons isu terkini.

Ya, daripada ujug-ujug minta peserta beasiswa LPDP nyanyi dan bertanya soal kalau dapat pacar atau menikah dengan orang luar negeri, kan. Eh.

BACA JUGA Pengalaman Saya Lolos Beasiswa LPDP, Tipsnya Mungkin Bisa Kamu Coba dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Seto Wicaksono

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 11 Mei 2022 oleh

Tags: beasiswa lpdpLPDPwawancara LPDP
Seto Wicaksono

Seto Wicaksono

Kelahiran 20 Juli. Fans Liverpool FC. Lulusan Psikologi Universitas Gunadarma. Seorang suami, ayah, dan recruiter di suatu perusahaan.

Artikel Terkait

Beasiswa MEXT U to U di Jepang lebih menguntungkan daripada LPDP. MOJOK.CO
Sekolahan

Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

6 Mei 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO
Sekolahan

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Gagal seleksi CPNS (PNS ASN) pilih nikmati hidup dengan mancing MOJOK.CO
Sehari-hari

Gagal Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Dicap Tak Punya Masa Depan tapi Malah Hidup Tenang

9 April 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO
Sosok

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Melalui Seminar Literasi di Pesta Buku Jogja, IKAPI DIY dorong Yogyakarta jadi Ibu Kota Buku UNESCO karena punya ratusan penerbit MOJOK.CO

Jogja dan Produksi Pengetahuan Lewat Ratusan Penerbit Buku, Modal Jadi Ibu Kota Buku UNESCO

16 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.