MOJOK.CO – Indonesia punya generasi “orang tua hebat” yang sukses menyingkirkan setiap kerikil masalah dari jalan hidup anaknya. Namun ironisnya, mereka justru melahirkan generasi rapuh yang mudah remuk menghadapi kerasnya dunia.
Hari ini, kita sedang menyaksikan sebuah anomali sosiologis yang membingungkan sekaligus mencemaskan di ruang-ruang keluarga urban. Di satu sisi, kita memiliki generasi orang tua paling terdidik, paling mapan secara ekonomi, paling sadar kesehatan, dan paling melek informasi pengasuhan (parenting) sepanjang sejarah republik ini.
Mereka adalah potret kelas menengah-atas yang fasih melahap berbagai jurnalisme populer psikologi anak, rutin menghadiri webinar pakar, menyediakan fasilitas teknologi termutakhir, dan merancang masa depan anak-anak mereka dengan presisi seorang arsitek ulung. Mereka, tanpa ragu, adalah apa yang kita sebut sebagai “orang tua hebat”.
Namun, di sisi lain celah peradaban ini, saksikanlah apa yang lahir dari rahim kenyamanan dan kelimpahan tersebut. Kita justru dihadapkan pada pemandangan generasi muda yang kerap dijuluki sebagai “generasi stroberi”, sebuah metafora yang tepat sekaligus menyakitkan: mereka tampak eksotis, indah, dan cerah di luar, namun langsung hancur, lembek, dan lebam begitu mendapat sedikit tekanan sosial.
Terjebak pada epidemi kultural bernama hyper-parenting
Muncul sebuah pertanyaan menggugat yang menuntut jawaban jujur dan radikal dari kita semua: mengapa di tangan orang tua yang begitu hebat dan serba tahu, kita justru memanen generasi yang begitu rapuh dan gamang menghadapi dunia?
Akar masalahnya justru terletak pada aspek “kehebatannya” yang telah mengalami disorientasi akut. Kita sedang terjebak dalam epidemi kultural yang disebut hyper-parenting.
Fenomena ini memanifestasikan diri dalam dua corak asuh yang destruktif: helicopter parenting (orang tua yang terus terbang mengawasi setiap gerak-gerik anak) dan lawnmower parenting (orang tua mesin pemotong rumput yang membabat habis setiap hambatan di depan anak).
Karena merasa memiliki otoritas, kapital intelektual, dan sumber daya finansial yang lebih dari cukup, orang tua zaman sekarang cenderung bertindak sebagai “buldoser” sosial. Mereka bergerak agresif untuk meratakan setiap kerikil tajam, menyingkirkan setiap rintangan, dan menyapu bersih semua potensi konflik di jalan hidup sang anak.
Kita telah melakukan kekeliruan epistemologis yang fatal dalam pengasuhan: kita tidak lagi menyiapkan anak untuk menghadapi perjalanan dunia yang keras, melainkan sibuk menyiapkan perjalanan yang mulus dan tanpa cela untuk sang anak.
Atas nama kasih sayang, orang tua mengebiri psikologis anak
Dalam praktiknya, hyper-parenting ini mewujud sebagai bentuk domestikasi konflik dan sterilisasi kehidupan. Setiap kali anak menghadapi sedikit saja gesekan atau kesulitan di ruang publik, apakah itu nilai ujian yang buruk akibat kelalaiannya sendiri, konflik interpersonal dengan teman sebaya, atau teguran disiplin dari guru di sekolah, orang tua hebat ini akan langsung pasang badan di garis depan.
Mereka mengirim pesan protes kuratorial kepada pihak sekolah, mengintervensi dinamika pertemanan anak, hingga membelikan solusi instan demi meredam tangis sang anak.
Rumah dan lingkungan privat akhirnya diubah menjadi sebuah laboratorium klinis yang steril. Sebuah ruang buatan yang sepenuhnya bebas dari kuman kekecewaan, bakteri kegagalan, dan virus penolakan. Orang tua bertindak sebagai tameng protektif absolut, memastikan anak-anak mereka tidak pernah mencicipi rasa pahit dari konsekuensi logis atas tindakan mereka sendiri.
Dampak psikologis dari pola ini sangat korosif. Anak-anak tumbuh dewasa tanpa pernah melatih “otot psikologis” mereka yang paling krusial, yaitu resiliensi atau daya lenting. Resiliensi, sama khitahnya seperti otot fisik manusia, hanya bisa terbentuk dan menguat melalui robekan-robekan mikroskopis akibat beban, gesekan, dan latihan yang konsisten.
Ketika orang tua mengambil alih semua beban hidup tersebut atas nama kasih sayang dan perlindungan, mereka sebenarnya sedang melakukan pengebirian psikologis secara perlahan namun terstruktur.
Baca halaman selanjutnya














