Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
1 Mei 2026
A A
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO

Ilustrasi Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di layar digital, orang-orang joget bahagia dengan lagu “Kicau Mania”, tapi di alam suara burung-burung pelan-pelan hilang.

Beberapa pekan terakhir saya lumayan sering menggunakan jasa taksi online mengingat cuaca  agak kurang ramah buat pesepeda ontel amatiran seperti saya. Rupanya driver memutar lagu berbahasa Jawa yang terdengar familiar di telinga saya:

Iklan

“Kicau, kicau, kicau mania….”

Kejadian ini bukan sekali atau dua kali, tapi entah kenapa cukup sering saya jumpai. Sesampainya di rumah, saya lalu mencari lagu tersebut. Termasuk merapal lirik demi liriknya.

Kesan pertama saya terhadap lagu ini lazimnya warga kabupaten pada umumnya. Jujur, saya cukup enjoy. Namun, sekaligus overthinking. Apalagi lini masa media sosial saya sendiri tengah dijajah tren viral lagu garapan Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 ini.

Di Tiktok dan Instagram Reels, dentuman irama bass bernuansa estetika jedag-jedug mengiringi dance challenge lagu “Kicau Mania”. Meski begitu, lagu ini nyatanya tak sesederhana hiburan musikal digital.

Fenomena budaya pop seperti ini sebenarnya adalah cara Gen Z dan Alfa membangun identitas diri. Mereka kini mulai meninggalkan Google atau Yahoo, dan lebih memilih mencari tren lewat konten visual di media sosial.

Namun, di balik ramainya algoritma ini, ada sisi gelap yang sering kita abaikan: sebuah tradisi sedang dijual demi konten, tanpa kita sadar ada masalah besar yang ikut terseret di dalamnya.

Lomba burung berkicau, meleburnya masyarakat tanpa melihat kelas sosial

Memelihara burung—atau kukila dalam budaya Jawa—bukan sekadar hobi iseng. Di arena gantangan, ada interaksi sosial yang sangat dalam. Tempat ini menjadi ruang pertemuan yang melampaui batas-batas status ekonomi.

Di gantangan, identitas kelas sosial tidak lagi penting. Mau direktur atau pekerja kasar, status mereka dilebur. Sebagai gantinya, mereka memburu apa yang disebut sebagai achievement status. Harga diri dan reputasi mereka murni ditentukan oleh seberapa hebat mereka merawat dan melatih kicauan burungnya agar menjadi juara.

Bagi masyarakat kelas bawah, arena ini adalah pelarian dari penatnya hidup di kota. Gantangan menjadi oase untuk melepas stres sekaligus tempat perputaran ekonomi rakyat yang sangat nyata.

Sementara itu, bagi masyarakat kelas menengah ke bawah, arena ini menjadi oase psikologis penawar keterasingan hidup dalam sistem kapitalistik perkotaan, sekaligus tempat perputaran ekonomi rakyat yang sangat nyata.  

Iklan

Secara kultural, masifnya penerimaan publik terhadap lagu bernuansa jedag-jedug dan hipdut (hip-hop dangdut), seperti “Kicau Mania” ini juga menandai pergeseran paradigma yang cukup menarik. Genre ini secara historis selalu distereotipkan secara peyoratif sebagai kebudayaan Jamet atau kampungan oleh struktur masyarakat kelas menengah atas.

Walakin, daya dobrak media sosial nyatanya telah membalikkan hierarki tersebut. Alhasil, genre ini secara drastis dinormalisasi sedemikian rupa, hingga sah menjadi sentral budaya pop arus utama masa kini.

Namun, romantisasi di media sosial dan kehangatan interaksi antar-kelas ini menjadi masalah besar saat kita melihat realitas lingkungan. 

Sisi gelap pasar burung 

Sebuah riset di Pasar Depok Surakarta (2023) mencatat perputaran uang mencapai hampir Rp 1 miliar dalam waktu hanya tiga bulan, dengan lebih dari 7.000 burung diperdagangkan, termasuk jenis endemik dan dilindungi.

Di balik besarnya perputaran uang yang mencapai miliaran rupiah di pasar burung seperti Pasar Depok Solo, ada ancaman nyata yang tersembunyi. Terutama terhadap keberadaan burung di alam.

Keriuhan kontes dan cantiknya sangkar burung sering kali hanya jadi etalase atau pajangan depan. Memang, di dunia lomba burung berkicau ada aturan tegas, burung yang dilombakan wajib hasil penangkaran. Terutama jenis-jenis yang dilindungi. 

Namun, di belakangnya, terdapat praktik gelap yang jauh lebih besar: perdagangan satwa liar tanpa izin, termasuk burung kicau. Hal ini sejalan dengan temuan Indraini Hapsari (2020) di artikel berjudul Negara Dan Ilegalitas: Studi Kasus Perdagangan Burung Di Wilayah Jakarta.

Baca halaman selanjutnya

Burung yang terancam punah di alam liar

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 2 Mei 2026 oleh

Tags: burung berkicauesaihobikicau maniandarboy genkpilihan redaksi
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Kebisingan-kebisingan di desa yang sebenarnya wajar tapi kini dipermasalahkan karena narasi desa sebagai tempat slow living ideal MOJOK.CO

Hal-hal Wajar di Desa Jadi Dianggap Mengganggu Gara-gara Narasi Slow Living, Padahal Jadi Bumbu Kehidupan

14 Agustus 2026
Makrab, Budaya senioritas dan bullying di kampus.MOJOK.CO

Setelah 4 Kali Ikut Makrab di Kampus, Saya Percaya Budaya Ini Lebih Baik Dihapus Saja: Bukan Bikin Akrab, Malah Meruncingkan Konflik “Senior” dan “Junior”

13 Agustus 2026
Mahasiswa baru (maba) rela jadi jongos abang-abangan kampus di organisasi mahasiswa ekstra (ormek) dan tidak pernah menyesalinya MOJOK.CO

Maba Rela Jadi Jongos Abang-abangan Kampus demi Relasi dan Diskusi Kiri Apa Salahnya? Tak Malu dan Tak Menyesalinya

13 Agustus 2026
Pegawai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih pinggir kuburan harus dibekali dengan keahlian supranatural hingga ilmu sosial MOJOK.CO

Keahlian-keahlian Vital untuk Pegawai Kopdes Pinggir Kuburan, Berguna buat Diri Sendiri dan Pembeli

13 Agustus 2026
Slow living, Cara Beli Rumah di Desa Tanpa Dihantui KPR Puluhan Tahun MOJOK.CO

Tanpa Punya Rumah di Desa Tetap Bisa Slow Living Asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

12 Agustus 2026
ngaji al-qur'an.MOJOK.CO

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu MOJOK.CO

Modal 2 juta bisa untung cepat dari usaha rumahan cuci sepatu

11 Agustus 2026
fisiologi pohon, walhi kerusakan lingkungan mojok.co

Hadapi Krisis Iklim, Ilmu Fisiologi Pohon Jadi Kunci Selamatkan 12 Juta Hektare Lahan Kritis

13 Agustus 2026
Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun MOJOK.CO

Telat 3 Hari Perpanjang SIM, Pak Guru Ahmad Melawan Aturan yang Tak Kenal Ampun

14 Agustus 2026
Wisata Perahu Kalimas di Taman Prestasi Surabaya jadi liburan mewah. MOJOK.CO

Kemewahan Wisata Perahu Kalimas Menyelamatkan Orang Haven’t Surabaya sebelum Dilanda Stres

11 Agustus 2026
Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah MOJOK.CO

Apa Salahnya ASN Jualan Nasi Kuning? Gaji Tetap, Kebutuhan Terus Bertambah

12 Agustus 2026
Kelebihan Daikin sebagai AC terbaik untuk hunian modern dengan listrik terbatas MOJOK.CO

Daikin Multi-S, Pilihan AC Terbaik untuk Rumah Hemat Energi

15 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.