Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Seni Merasa Pintar sebagai WNI: Menaklukkan Coretax Cukup dengan Clear Cache dan Incognito Window

Bachtiar W. Mutaqin oleh Bachtiar W. Mutaqin
13 Februari 2026
A A
Seni Merasa Bodoh sebagai WNI: Saat Coretax Gagal Mengenali Anak Istri Saya, Negara Malah Menyuruh Clear Cache MOJOK.CO

Ilustrasi Seni Merasa Bodoh sebagai WNI: Saat Coretax Gagal Mengenali Anak Istri Saya, Negara Malah Menyuruh Clear Cache. Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK – Punya masalah menggunakan Coretax untuk lapor SPT Tahunan? Tenang, cukup dengan clear cache & cookies pada browser, menggunakan private/incognito window; dan menggunakan browser atau perangkat yang berbeda. 

Pagi ini saya mencoba memulai ritual rutin orang dewasa tiap awal tahun. Apalagi kalau bukan lapor pajak ke negara. Saat saya mencoba mengakses situs pajak, mata saya tertuju pada satu judul artikel yang provokatif sekaligus manis: “Sudah Bayar Pajak, Kok Masih Harus Lapor SPT?”

Di dalamnya, penulis tersebut menggunakan analogi celengan. Katanya, pajak itu ibarat kita menabung. Ada uang yang kita masukkan sendiri, ada yang dimasukkan orang lain, dalam hal ini adalah kantor/pemberi kerja. Kewajiban lapor SPT diibaratkan seperti momen memecahkan celengan di awal tahun berikutnya: kita menghitung ulang isinya, apakah pas, kurang, atau malah kelebihan.

Membacanya membuat hati saya hangat, sehangat teh manis yang saya minum pagi ini. Namun, sebagai manusia yang kakinya memijak bumi nyata, bukan bumi dalam video sosialisasi, saya tahu persis bahwa realitasnya tak seindah dongeng celengan ayam jago.

Saya tidak sedang ingin membangkang. Saya ini tipe warga negara yang sangat nrimo ing pandum. Tapi, pengalaman hidup di dua benua berbeda mengajarkan saya satu hal pahit: menjadi wajib pajak di Indonesia itu butuh mental baja, bukan sekadar NPWP.

Kenangan membosankan dari Prancis dan Cina soal pajak

Mari mundur sedikit ke masa lalu. Saya pernah menghabiskan empat tahun hidup di Prancis dan saat ini berjalan menuju satu tahun di Cina. Dua negara dengan ideologi dan gaya hidup yang bertolak belakang, tapi punya satu kesamaan yang bikin iri: urusan pajak di sana sepi dan membosankan.

Di Prancis, hidup saya tenang. Bukan karena saya kaya raya, tapi karena negara seolah hadir sebagai pelayan gaib yang tahu diri. Saya bekerja, pajak dipotong, selesai.

Suatu kali, saya pernah mengalami kejadian lebih bayar. Dalam logika Indonesia saya, ini adalah awal dari masalah. Tapi di Prancis? Tidak ada drama. Tidak ada telepon atau pesan masuk ke ponsel. Tidak ada surat panggilan yang bikin jantung copot.

Tiba-tiba saja, tring! Ada notifikasi transfer masuk di rekening bank saya. Waktu itu sekitar beberapa ratus euro. Negara mentransfer kelebihan uang pajak saya. Tanpa saya minta, tanpa saya harus melampirkan berkas setebal disertasi, dan tanpa saya harus membuktikan bahwa memang benar itu hak saya.

Waktu itu rasanya aneh sekali. Baru kali ini saya diperlakukan sebagai manusia dewasa yang dipercaya.

Begitu pula sekarang, ketika saya tinggal di Cina. Dengan populasi miliaran, birokrasi mereka berjalan sunyi dan efektif. Pajak dipotong otomatis tiap bulannya, sistem bekerja, dan hidup berlanjut. Saya tidak pernah merasa dihantui perasaan bersalah tiap menjelang bulan Maret.

Di kedua negara itu, saya hanyalah objek pajak yang pasif. Membosankan, memang. Tidak ada tantangan adrenalinnya.

Seni merasa pintar di negeri sendiri urus pajak lewat Coretax

Saat di Indonesia, adrenalin itu selalu terpompa. Di Indonesia, hubungan saya dengan kantor pajak bukan seperti hubungan warga dengan negara, melainkan seperti hubungan love-hate-love. Penuh kekhawatiran, dan yang satu selalu merasa takut berbuat kesalahan dan membuat pasangannya marah atau kecewa.

Mari bicara soal fenomena “Lebih Bayar”.

Iklan

Di Indonesia, status “Lebih Bayar” di SPT Tahunan adalah sebuah masalah. Secara harfiah, itu berarti negara berutang pada kita. Tapi dalam praktiknya, itu adalah sinyal bahaya. Pengalaman mengajarkan saya: jangan pernah biarkan status itu bertahan.

Kenapa? Karena sebentar lagi, telepon pasti akan berdering atau akan ada pesan masuk ke ponsel.

Di seberang sana, suara petugas pajak yang santun tetapi terasa intimidatif akan menyapa. Intinya satu: saya salah input.

Iya, bukan sistem mereka yang mungkin keliru menghitung (karena itu tidak mungkin), tapi saya yang salah input.

Saya, dengan mental inlander yang mendarah daging, langsung merasa kerdil. “Oh, saya yang salah ya? Maafkan saya, Pak/Bu KPP Pratama. Saya ini memang bodoh. Matematika saya jeblok sejak SD. Tentu saja saya yang salah, tidak mungkin sistem negara yang canggih ini keliru.”

Ujung-ujungnya, demi kedamaian jiwa dan agar telepon berhenti berdering, saya akan diarahkan untuk memperbaiki laporan. Tujuannya satu: mengubah status “Lebih Bayar” itu menjadi “Nihil”.

Kata “Nihil” di sini adalah kunci kenyamanan hidup. Ia berarti kita impas. Negara dan saya tinggal kembali melanjutkan aktivitasnya masing-masing.

Lantas, ke mana perginya uang kelebihan itu? Di tempat saya bekerja sekarang, alhamdulillah kantor yang keren dan taat hukum, kelebihan potong itu selalu dikembalikan oleh kantor. Karena menurut petugas pajak, kantorlah yang salah karena motong pajaknya kebanyakan.

Mekanismenya? Demi Tuhan, saya juga tidak tahu. Kami, para karyawan ini, mana paham rumus PPh 21 yang njelimet itu. Ketika bagian keuangan mentransfer uang kembalian, kami menerimanya dengan iman buta.

Kami percaya 100%. Dikasih sejuta ya diterima, dikasih lebih ya alhamdulillah. Kami tidak punya kapasitas untuk mempertanyakan. Kami nrimo ing pandum saja karena memang begitulah seharusnya. Justru harusnya kami ini bersyukur karena masih dianggap ada.

Tahun ini, petualangan itu naik level. DJP memperkenalkan sistem baru bernama Coretax. Katanya, ini adalah revolusi digital yang akan memudahkan segalanya. Namanya terdengar keren, futuristik, seolah-olah ini adalah sistem yang dipakai Tony Stark untuk mengelola aset Stark Industries.

Dan pagi ini, di awal Februari 2026 dengan semangat patriotisme, saya mencoba lapor pajak lewat Coretax di laptop.

Baca halaman selanjutnya Coretax dan solusi “clear cache”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: bayar pajakclear cachecoretaxpajak tahunanSPT tahunanWNI
Bachtiar W. Mutaqin

Bachtiar W. Mutaqin

Dosen Geografi UGM dan peneliti tamu di Guilin University of Technology. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.

Artikel Terkait

Evakuasi WNI saat terjadi konflik luar negeri MOJOK.CO
Kilas

Saat Terjadi Konflik di Luar Negeri, Evakuasi WNI Tak Sesederhana Asal Pulang ke Negara Asal

16 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO
Aktual

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO
Urban

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Tidak mau ikut CPNS karena tidak mau jadi PNS/ASN atau abdi negara

PNS Pekerjaan Paling Menjanjikan, tapi Ada Orang yang Memilih Tak Menjadi Abdi Negara karena Tidak Mau Menggadaikan Kebebasan

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.