Coretax dan solusi “clear cache”
Sebagai informasi, saat ini saya sudah menikah dan punya anak-anak lucu yang butuh susu. Dalam kode perpajakan, status saya adalah K/2 (Kawin dan punya 2 tanggungan).
Logika undang-undang mengatakan, jika status saya K/2, maka Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) saya harusnya naik puluhan juta rupiah. Negara memberi keringanan karena tahu biaya beli popok itu mahal.
Saya klik dan pilih opsi K/2 di Coretax. Saya menunggu angka ajaib itu muncul.
Hasilnya? Nol.
Di layar monitor yang dingin itu, kolom PTKP tetap bergeming di angka 0. Seolah-olah sistem negara tidak mengakui keberadaan istri dan anak-anak saya. Seolah-olah saya ini bujangan abadi yang tidak punya tanggungan hidup.
Apakah saya marah? Tentu tidak. Saya kan warga negara yang sadar diri. Saya langsung berpikir, “Pasti saya yang salah lagi. Mungkin saya salah klik. Mungkin laptop saya kurang mahal.”
Saya pun menghubungi agen pajak melalui fitur chat di situs resmi. Saya berharap mendapat pencerahan teknis. Mungkin ada penjelasan soal regulasi baru yang terlewat, atau mungkin ada bug di sistem yang sedang diperbaiki.
Jawaban sang agen sungguh di luar nalar, melampaui batas pemikiran teknis, bahkan menyentuh ranah spiritualitas digital.
Dia menyarankan saya untuk melakukan tiga hal sakti sebelum mengakses Coretax: clear cache & cookies pada browser, menggunakan Private/Incognito Window; dan menggunakan browser atau perangkat yang berbeda. (Ini saya cuma copy paste dari chat dia lho ya.)
Saya terdiam menatap layar.
Jadi, masalahnya bukan pada sistem yang menelan anggaran triliunan itu. Masalahnya bukan pada coding yang error. Masalahnya ada pada cookies di laptop saya yang kotor dan perlu dibersihkan.
Negara ini luar biasa. Ketika sistemnya gagal mengenali hak warganya (PTKP), solusinya adalah meminta warganya untuk bersembunyi (Incognito).
Bayangkan kalau solusi ini diterapkan di kehidupan nyata.
“Pak, jalanan depan rumah saya berlubang parah.” dan dijawab “Coba Bapak lewat situ pakai mode penyamaran, atau ganti kendaraan.”
atau
“Pak, harga beras mahal sekali.” lalu direspon “Coba Ibu belanja sambil hapus memori harga beras pada masa lalu.”
Kami bangga menjadi repot karena pajak dan coretax
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara Indonesia dengan Prancis atau Cina. Di luar negeri, sistem dibuat untuk melayani manusia. Di sini, manusia dilatih untuk memaklumi sistem.
Orang Prancis mungkin hidup nyaman dengan pajak yang otomatis kembali, tapi mental mereka lembek. Mereka tidak pernah merasakan sensasi jantung berdebar saat mengisi formulir online.
Mereka tidak pernah merasakan kepuasan batin saat berhasil login setelah lima kali gagal karena captcha yang tidak terbaca.
Sementara kita? Kita adalah bangsa petarung. Kita dilatih untuk selalu menyalahkan diri sendiri.
“Ah, ini jelas salah saya karena belum clear cache.”
“Ah, ini pasti salah saya inputnya kebanyakan.”
“Ah, ini kayaknya saya salah masukin data jadinya lebih bayar.”
Rasa bersalah kolektif ini adalah aset bangsa yang tak ternilai. Ia membuat kita menjadi warga negara yang tidak banyak menuntut. Kita disuruh lapor padahal sudah bayar? Siap. Kita disuruh incognito biar dianggap punya anak? Laksanakan. Kita disuruh ikhlas status “Lebih Bayar” jadi “Nihil”? Sam’an wa tho’atan.
Mungkin benar kata artikel DJP itu, lapor SPT itu ibarat celengan. Bedanya, celengan kita ini unik. Untuk memasukkan uangnya gampang, tapi untuk sekadar mengecek isinya, kita harus pakai topeng (incognito), cuci tangan dulu (clear cache), dan siap mental untuk dibilang salah hitung.
Terima kasih, Coretax. Pagi ini saya belajar lagi bahwa di hadapan sistem negara, saya hanyalah remah-remah cookies yang perlu dibersihkan agar semuanya berjalan lancar.
Saya tidak akan mengeluh lagi. Saya akan menghapus cache, memakai mode penyamaran, dan kembali mencoba meyakinkan sistem bahwa anak saya benar-benar ada.
Doakan saya berhasil, sebab kalau gagal, saya takut dituduh bujangan seumur hidup oleh negara.
Penulis: Bachtiar W. Mutaqin
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Tarif Pajak 0,5 persen Perlahan Membunuh Pedagang Kecil yang Selama Ini Sudah Menopang Ekonomi Negara, Masih Juga Digerogoti dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.













