Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rangga Cipta Nugraha

Ali Buschen oleh Ali Buschen
9 Maret 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi seorang Bobotoh, mendukung langsung Persib kala melawan Persija di Jakarta adalah hal yang absurd. Terlalu besar taruhannya. Nyawa.

Menghadapi sejarah kekerasan The Jakmania terhadap Bobotoh, hanya untuk mereka yang memang memiliki keberanian luar biasa. Juga sebaliknya. Atau, bisa jadi, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang sedang mempertanyakan untuk apa hidup ini.

Apakah hidup layak dijani? Seperti Albert Camus bilang, memang ada orang yang mati karena merasa hidup ini tidak layak dijalani. Menjadi paradoks, karena di sisi lain, banyak juga yang mati demi idealisme atau ilusi yang menjadi alasan mereka ingin tetap hidup.

Rangga Cipta Nugraha termasuk yang mana? Rangga lahir 9 maret 1990, hari ini seharusnya dia berulang tahun yang ke-25. Sebagaimana memeluk agama, menjadi Bobotoh sudah takdir bagi Rangga sebagai orang Sunda sejak lahir. 27 Mei 2012 Rangga tewas dikeroyok pendukung Persija di Gelora Bung Karno.

Apa yang dilakukan Rangga bukanlah bunuh diri. Dia pergi mendukung Persib ke GBK dengan tujuan kembali pulang. Tak seharusnya seorang pendukung sepakbola mati karena mendukung kesebelasannya. Tak ada alasan yang cukup untuk seseorang membunuh pendukung rival.

Kematian adalah sebuah tragedi. Apa yang disampaikan oleh nenek almarhum bisa menggambarkan betapa mengerikan tragedi ini. “Ai ku kecelakaan mah teu nanaon, ieu mah meuni digulung, atos siga binatang wae. Karunya, budak soleh.“ Kalau (mati) karena kecelakaan sih tidak apa-apa, ini sih dikeroyok. Kasihan, padahal dia anak yang saleh.

Rangga adalah bukti absennya moral dari konflik The Jak dan Bobotoh. Rangga tewas mengenaskan. Namun yang lebih mengenaskan adalah kemanusiaan itu sendiri: bagaimana pendukung Persija bergembira, merayakan kematian seseorang. Kemanusiaan telah hilang di sini. Tak pernah ada, sampai saat ini, ungkapan penyesalan dari pelaku dan kawan-kawannya. Di pengadilan, para tersangka bernyanyi merayakan kebanggaan. Absurd!

Dalam novelnya, Orang Asing (L’Etranger), Camus menggambarkan bagaimana kematian orang lain biasanya tidak berdampak apa-apa bagi seseorang. Kematian baru menyentuh perasaan manusia ketika kematian itu berhubungan dengan dirinya sendiri secara langsung.

Mati karena mendukung sepakbola bukanlah sebuah alasan kematian yang layak. Betapapun orang tersebut mencintai kesebelasannya. Galileo, yang memegang pengetahuan mengenai bumi yang mengelilingi matahari, bahkan mengharamkan memegang teguh kebenaran jika nyawa taruhannya.

Mau matahari yang mengelilingi bumi, kek, atau bumi yang mengelilingi matahari, kek, toh alam semesta tetap tidak akan peduli dengan kematian seseorang. Kau mati, bumi tetap berputar, matahari tetap bersinar. The confrontation between man’s call and the world’s silence, that’s absurdism.

Absurditas alam semesta ini diaplikasikan dengan sangat baik oleh PSSI. Mau ada pemain bola atau suporter mati, semesta persepakbolaan Indonesia akan tetap berjalan seperti tidak ada peristiwa istimewa terjadi. Lebih absurd lagi karena terus berulang. Seperti Sisifus yang mendorong batu ke puncak gunung, lalu batu itu turun lagi ke bawah, dan Sisifus kembali mendorongnya ke puncak gunung. Terus begitu.

Kematian suporter dan pemain telah terjadi sejak lama. Hanya ada sedikit ucapan belasungkawa, kemudian kembali terulang. Tidak pernah ada usaha yang signifikan untuk mengatasi masalah ini.

PSSI terlalu angkuh, merasa bahwa sepakbola adalah milik mereka sebagai anggota asosisasi FIFA. Akan sangat berbeda kondisinya jika PSSI memosisikan diri sebagai bagian dari (ke)manusia(an). Memiliki kewajiban dan tanggung jawab moral terhadap seluruh pemangku kepentingan sepak bola Indonesia. Kesadaran bahwa sepakbola milik rakyat akan membuat PSSI merasa bahwa rakyatlah alam semesta bola itu. Mau ada atau tidak ada PSSI, sepakbola tetap berjalan.

Di lain hari, Camus berkata, “After many years in which the world has afforded me many experiences, what I know most surely in the long run about morality and obligations, I owe to football.”

Iklan

PSSI lahir tahun 1930, sudah hidup dalam jangka waktu yang panjang untuk dapat mengeruk beragam pengalaman. Apakah PSSI tidak belajar apa-apa dari sepakbola? Apakah sepakbola tidak mengajari PSSI moralitas hidup? Tragedi Rangga bukanlah yang pertama terjadi. Sering sekali terjadi pengalaman mengerikan terkait sepakbola di Indonesia. Antara tidak punya otak atau tidak punya hati, atau tidak punya keduanya, PSSI seakan tidak pernah belajar apa-apa—hampir selalu absen saat ada tragedi yang menyangkut kematian seseorang.

Di peradaban yang lebih maju, tragedi Rangga akan menjadi sebuah titik balik untuk memperbaiki kondisi persepakbolaan. Tidak perlu lagi ada seseorang pergi ke stadion untuk pulang tinggal nama.

Jika Rangga pernah mengenal dr. Bernard Rieux, dia mungkin akan mengutip salah satu ucapan tokoh utama novel The Plague karya Camus itu: I have no idea what’s awaiting me, or what will happen when this all ends. For the moment I know this: there are sick people and they need curing.

Rangga mungkin adalah martir. Tapi rasanya ini tetap menyedihkan, karena sebenarnya tak ada satu pun pertandingan atau kemenangan dalam sepakbola yang bisa seharga dengan nyawa.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: #PekanMenulisKotaBandungPersibPersijaRangga Cipta Nugraha
Ali Buschen

Ali Buschen

Artikel Terkait

Gedebage, Bandung.MOJOK.CO
Urban

Bandung Kota Overrated dan Penuh Masalah, Anak Mudanya Tetap Waras karena Persib

24 Mei 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran
Kuliner

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026
Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

"Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah" - Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah.MOJOK.CO

‘Bunyikan Klakson Kalau Kalian Resah sama Pemerintah’ – Massa Aksi di Gejayan Soroti Harga BBM hingga Pelemahan Rupiah

13 Juni 2026
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.