Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Wajar kalau Pindah Ibu Kota Negara Lebih Menggiurkan bagi Pejabat Kita

Coba bayangkan, setiap langkah pindah Ibu Kota Negara (IKN) yang membutuhkan biaya segitu. Itu uang yang cukup untuk ciptakan konglomerat masa depan Indonesia.

Made Supriatma oleh Made Supriatma
23 Januari 2022
A A
Pindah Ibu Kota Negara Tentu Saja Lebih Menggiurkan bagi Pejabat Kita

Pindah Ibu Kota Negara lebih Menggiurkan. (Mojok.co/Ega Fansuri).

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Jika saja RUU anti-kekerasan seksual melibatkan Rp466 triliun seperti RUU Ibu Kota Negara (IKN), pasti RUU itu segera diselesaikan.

Beberapa hari kemarin, seorang teman melontarkan pertanyaan menggelitik ke saya. “Bisa nggak ya RUU TPKS dan RUU PPRT pengesahannya secepat RUU IKN?”

RUU TPKS adalah Rancangan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual, sementara, RUU PPRT adalah rancangan Undang-Undang Perlindungan Terhadap Pembantu Rumah Tangga.

Sebagaimana sodara ketahui semua, UU Ibu Kota Negara (IKN) disahkan dengan sangat cepat. Hanya ada satu faksi di DPR-RI yang tidak setuju, dan ia adalah faksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Satu dari dua partai oposisi terhadap pemerintahan ini.

Jawaban saya terhadap pertanyaan kawan tadi singkat saja. Yakni, jika saja kedua rancangan undang-undang itu melibatkan Rp466 triliun, pasti bisa.

Saya sama sekali tidak tertarik pada perdebatan tentang ibukota negara ini. Sejak dua hari belakangan ini, lini masa saya penuh dengan perdebatan “Nusantara”, nama ibu kota baru itu. Sejarahwan bicara. Ahli bahasa bicara. Orang bolak-balik kitab kuno untuk mendukung atau menyalahkan nama Nusantara.

Begitulah negeri ini selama enam tahun terakhir ini. Kita berdebat hal-hal dangkal (banal). Hal-hal remeh temeh nan receh. Tidak ada dialog. Orang-orang hidup dalam gelembung-gelembung yang menggemakan apa yang mereka percaya.

Untuk pendukung presiden, ibu kota negara adalah langkah besar untuk mengembalikan kejayaan negara. Untuk penentangnya, ini adalah upaya sia-sia yang tidak ada gunanya.

Saya membaca Buku Saku Ibu Kota negara. Banyak konsep-konsep besar dituangkan di sana.

Seperti, IKN Nusantara akan menjadi “superhub” penghubung antara yang lokal dan yang global. IKN menjadi “center“-nya. Dalam bahasa buku saku tersebut, “Superhub IKN bersifat locally integrated, globally connected, dan universally inspired.”

Ambisi untuk membangun ibu kota negara yang baru ini sangat besar. Coba lihat saja targetnya. Dalam tahun 2045 (100 tahun Indonesia!), IKN ini diproyeksikan menjadi…

“Kota terdepan dunia dalam hal daya saing; 10 besar liveable city di dunia; dan mencapai net zero-carbon emission dan 100 persen energi terbarukan pada kapasitas terpasang – kota pertama di dunia dengan jumlah penduduk >1jt jiwa yang akan mencapai target ini.”

Luar biasa indah kalau ini tercapai, bukan?

Saya tidak berpandangan terlalu jauh. Dalam buku saku tersebut disebutkan biaya untuk membangun ibu kota baru ini. Itu adalah Rp466 triliun.

Iklan

Saya bisa membayangkan skala ekonomi yang bisa digerakkan dengan uang sebanyak itu. Yang langsung masuk di benak saya adalah siapa yang akan mendapatkan porsi dari uang sebanyak itu?

Bayangkanlah Anda mendapatkan tender untuk mengisi kursi dari 1/10 bangunan di ibu kota negara yang baru itu? Nilainya beberapa ratus miliar—tentunya.

Bayangkan bagaimana penguasa semen atau baja melihat kesempatan ini? Juga bayangkan bagaimana kontraktor yang akan mengecat pembatas jalan atau membuat zebra cross, atau membuat lampu lalu lintas.

Coba bayangkan, setiap langkah yang membutuhkan biaya itu. Dan uangnya sudah tersedia, Sodara-sodara!

Tentu argumen bahwa ibu kota negara yang baru akan menggerakkan ekonomi juga bisa diterima. Bayangkan kontraktor jalan akan menggaji ribuan buruh mereka. Seniman patung yang bikin istana akan membutuhkan ratusan atau bahkan ribuan pekerja. Dan mereka dibayar.

Ribuan pekerja itu menghidupi anak istri mereka; dan keluarga mereka perlu Indomie, kornet, telur dan minyak goreng. Itu duit dari mana? Ya dari gaji bekerja pada seniman patung itu!

Tidak, saya tidak meragukan efek ekonominya. Jelas akan ada tetesan ke bawah, kecrit-kecrit sehingga orang kecil bisa hidup secara minimal.

Dan tentu pula saya melihat siapa yang akan meraup kekayaan paling besar dari Rp466 triliun (dan akan terus bertambah) ini. Saya bayangkan akan lahir konglomerat-konglomerat baru dengan kekayaan melimpah karena kontrak-kontrak ini.

Orang-orang yang perannya seperti James Hill, Jay and George Gould, Cornelius Vanderbilt, Edward Harriman, and Collis P. Huntington.

Mereka adalah nama-nama ini tycoons yang menjadi kontraktor infrastruktur kereta api di Amerika pada abad 19. Kekayaan mereka abadi hingga saat ini dan dinikmati anak cucunya.

Orang boleh mengatakan bahwa proyek IKN ini akan dikerjakan oleh BUMN. Iya mungkin betul. Tapi bukankah perusahan-perusahaan BUMN juga butuh para supplier?

Dan, kita adalah Indonesia. Di negeri ini (bahkan juga di negeri seperti Amerika) kontrak-kontrak ekonomi ini adalah politik. Artinya, perkoncoan dan jalinan politik menentukan siapa mendapat apa.

Untuk saya, isu ini jauh lebih penting dibicarakan ketimbang cekcok soal nama ibu kota. Hal yang juga penting untuk dibicarakan adalah…

… siapa yang akan menanggung beban Rp466 triliun itu?

Oh, tentu saja ini bukan dari pajak yang Anda bayarkan semua. Jangan khawatir. Lagipula, bukankah ini adalah ibu kota negara berbasis cuan, eh, utang?

Jadi tetap putus asa dan jangan pernah semangat.

BACA JUGA Brutalnya Hidup di Negara kayak Indonesia: Negara ‘Survival of The Fittest’ dan tulisan Made Supriatma lainnya.

Editor: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 23 Januari 2022 oleh

Tags: 466 triliunibu kota negaraIKNkekerasan seksualkonglomeratRUU IKNRUU PKS
Made Supriatma

Made Supriatma

Peneliti dan jurnalis lepas.

Artikel Terkait

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Derita perempuan di grup WA mahasiswa FH UI. Isinya kekerasan seksual. MOJOK.CO
Sehari-hari

Nasib Perempuan di Tongkrongan dan Grup WA yang Isinya Laki-laki Mesum: Jelek Dihina, Cantik Dilecehkan

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO
Aktual

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
Cuci baju di laundry konvensional bikin kapok MOJOK.CO

Cuci Baju di Laundry Konvensional Lama-lama bikin Kapok, Bikin “Boncos” karena Baju Rusak dan Hilang Satu Persatu

15 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Bayangkan Kalau Korban adalah Ibumu, Itu Nasihat Paling Nggak Guna bagi Pelaku Kekerasan Seksual

19 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Atlet pencak silat Unair, Faryska Ozi Faradika. MOJOK.CO

UKM Pencak Silat Unair Selamatkan Mimpi Atlet PSHT, Gelanggang Pertandingan Lebih “Menyeramkan” daripada Ruang Kelas Kuliah

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.