Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Persebaya Tidak Pernah Takut Berjalan Sendirian

Persebaya yang diasingkan tidak berdiam diri. Mereka menegaskan: “Kami tak mati meski tak berkompetisi.” 

Miftakhul F.S oleh Miftakhul F.S
30 Oktober 2022
A A
Persebaya Tidak Pernah Takut Berjalan Sendirian MOJOK.CO

Ilustrasi Persebaya Tidak Pernah Takut Berjalan Sendirian. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Persebaya tak pernah risau ketika harus memutuskan jalan berbeda dengan kesebelasan lainnya. Mereka paham memaknai identitas yang melekat pada dirinya.

Persebaya lahir di Surabaya, di kota yang ditasbihkan sebagai Kota Pahlawan. Oleh sebab itu, mereka memahami betul identitas Surabaya yang melekat. Mereka juga tahu cara terbaik untuk memaknainya.  

Berkat pemahaman itu, Persebaya tak pernah ragu berdiri di garis depan perlawanan. Mereka tak pernah takut bersikap, tak gentar bersuara, ketika mayoritas klub memilih jalan aman.

Seperti saat ini. Bergandengan dengan Persis Solo, mereka lantang menyuarakan perbaikan dan perubahan tata kelola sepak bola Indonesia. Suara yang tak sumir. Persebaya mendesak PSSI menggelar Kongres Luar Biasa (KLB). Desakan yang didorong oleh rasa kemanusiaan.

Bagi Persebaya, ketua umum dan jajaran komite eksekutif PSSI sudah seharusnya berdiri di baris depan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas Tragedi Kanjuruhan. Ada 135 korban jiwa dalam Tragedi Kanjuruhan. Ratusan nyawa itu bukan sekadar deret angka. Itu nyawa manusia. Ada kehilangan, kesedihan, dan harapan yang sirna di sana.

Suara lantang

Persebaya memandang secara moral dan etika, sudah seharusnya ketua umum dan komite eksekutif PSSI mengundurkan diri. Dan demi perbaikan sepak bola nasional, PSSI harus menggelar KLB. Memilih wajah-wajah baru yang berintegritas dan paham sepak bola untuk memimpin dan mengurus PSSI. Melalui KLB juga dilakukan perubahan regulasi. Tujuannya, supaya sepak bola Indonesia enak dimainkan, nyaman dan aman ditonton, serta berprestasi.

Dan suara lantang Persebaya tak hanya tertuju ke PSSI. Mereka juga mengarahkannya ke operator kompetisi. Bajol Ijo mendesak Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB). Tata kelola kompetisi harus diperbaiki. Orang yang berkompeten harus duduk di sana. Yang berada di balik jeruji besi tak boleh lagi memimpin di sana. Kesalahan dan kekonyolan masa lalu saat federasi dipimpin dari penjara tak boleh diulang.

Persebaya memandangnya sebagai hal penting agar jalannya roda kompetisi menjadi pasti. Dan suara Persebaya menjadi yang pertama. Bertolak belakang dengan mayoritas klub lainnya.

Keberanian yang awet di dalam hati

Keberanian Persebaya itu tak hanya terjadi hari ini. Perlawanan yang mereka lakukan bukan kali ini saja. Jauh sebelumnya, mereka juga tak pernah segan melakukan perlawanan. Mulanya melawan Belanda lewat sepak bola. Dengan mendirikan PSSI. Persebaya tak berjalan sendiri ketika itu. Mereka berjalan bersama enam kesebelasan sepak bola lainnya, PSM Madiun, PPSM Magelang, Persis, PSIM Yogyakarta, Persija Jakarta, dan Persib Bandung untuk melawan Belanda lewat sepak bola.

Selang puluhan tahun setelah turut membidani lahirnya PSSI, Persebaya pun tak segan untuk berdiri berhadap-hadapan dengan federasi yang didirikannya itu. Pertengahan 2010 silam, Persebaya melawan PSSI. Green Force memutuskan tak mengikuti kemauan otoritas sepak bola nasional tersebut.

Kala itu, Persebaya menolak melakoni jadwal pertandingan yang diputuskan PSSI. Penolakan yang bukan tanpa sebab.PSSI, kala itu, dipandang hendak menyelamatkan Pelita Jaya. Kesebelasan milik taipan yang begitu berpengaruh di sepak bola nasional. Persebaya yang seharusnya menang WO atas Persik Kediri ternyata diputuskan berbeda oleh PSSI.

Jadi korban gelapnya hati PSSI

Mulanya, pertandingan Persik kontra Persebaya dijadwalkan 29 April 2010 di Stadion Brawijaya, Kediri. Namun, izin pertandingan dari aparat keamanan tidak terbit. Persik lantas memindahkan ke Stadion Mandala Krida, Jogja. PSSI menyetujui permohonan Persik.

Sehari jelang pertandingan, Polda Jogja menegaskan tidak menerbitkan izin pertandingan. Saat hari pertandingan, Persebaya memutuskan tetap datang ke stadion. Persik tidak. Berdasarkan regulasi, Bajol Ijo seharusnya diputuskan menang WO. Patokannya bunyi pasal di manual liga yang menggariskan bahwa tuan rumah sudah harus mengantongi izin pertandingan minimal tujuh hari sebelum laga.

Tapi, PSSI berkehendak lain. Persebaya tak dinyatakan menang WO. Jadwal baru justru diterbitkan. Pertandingan diputuskan digelar 5 Agustus 2010 di Kediri. Dua hari jelang pertandingan, Persik lagi-lagi mengumumkan belum mengantongi izin dari kepolisian. Dan kembali lagi, PSSI memutuskan menjadwalkan ulang. Pertandingan digeser ke tanggal 8 Agustus 2010 dan dimainkan di Palembang.

Iklan

Persebaya melawan. Mereka memutuskan tak berangkat ke Palembang. Setelah itu, konstelasi sepak bola Indonesia berubah. Persebaya membelot dan mendirikan kompetisi baru bersama beberapa klub. PSSI lantas mengasingkan klub kesayangan Bonek ini. PSSI juga merespons dengan mendirikan klub baru yang dinamai “Persebaya”. Dualisme kemudian menjalar ke mana-mana.

Persebaya yang diasingkan tidak berdiam diri. Mereka menegaskan: “Kami tak mati meski tak berkompetisi.” 

Kesayangan Bonek

Persebaya tetap mengumpulkan pemain. Berlatih di Lapangan Karanggayam. Membayarnya secara saweran. Dan bertanding dari ”kampung ke kampung”. Puncaknya, mereka menggelar pertandingan di Gelora Bung Tomo, Surabaya, pada 13 Juni 2015.

Sebanyak 35 ribu Bonek hadir di Gelora Bung Tomo. Itu menjadi sejarah tersendiri. Menjadi kemenangan tersendiri. Bagaimana tidak? Kesebelasan yang tak berkompetisi, yang diasingkan federasi, tapi pertandingannya dihadiri puluhan ribu suporter. 

Kemenangan malam itu kemudian berlanjut dengan dikabulkannya gugatan di Pengadilan Negeri Surabaya. Mereka menggugat “Persebaya bentukan PSSI”. Diikuti kemudian “kemenangan” lain, dipulihkannya status mereka sebagai anggota PSSI.

Wani!

Perlawanan Persebaya tak berhenti di situ. Setelah ”terlahir” kembali pada 2017, mereka berjalan melawan arus. Mereka tak tergiur masuk lingkaran football family. Padahal, kalau mau, mereka akan dengan mudah memasukinya. Dan kalau mau, Persebaya sebagai ”anak baru” akan dimudahkan dalam urusan sponsorship.

Namun, mereka memilih menjadi dirinya sendiri. Memilih berjalan dengan kakinya sendiri. Persebaya menggandeng perusahaan-perusahaan yang tak tersentuh kelompok football family sebagai sponsor. Dan perusahan yang berhasil digandeng tak kalah jumlahnya dengan sponsor di klub-klub kelompok football family. Nilai kontraknya juga tak kalah, pun dengan kesetiaan perusahaan-perusahaan tersebut.

Persebaya percaya dengan dirinya. Percaya diri dengan nama besarnya. Mereka percaya dengan nama Surabaya yang melekat. Juga percaya dengan suporternya: Bonek.

Karena itu, Persebaya tak pernah risau ketika harus memutuskan jalan berbeda dengan kesebelasan lainnya. Mereka paham memaknai identitas yang melekat pada dirinya.

WANI!

BACA JUGA Persebaya Hanya Kalah dari Orang Dalam dan Orang Gila dan pandangan menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Miftakhul F.S

Editor: Yamadipati Seno

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2022 oleh

Tags: KLBpersebayaPSSISurabayatragedi kanjuruhan
Miftakhul F.S

Miftakhul F.S

Lahir di Mantup, Lamongan. Pernah belajar menendang bola di IM Gresik dan belajar sepak bola di Fakultas Ilmu Keolahragaan UNY. Pernah berkarya di Jawa Pos selama 15 tahun. Mencintai sepak bola Indonesia Meski Kusut.

Artikel Terkait

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya.MOJOK.CO
Aktual

Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya

30 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO
Catatan

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Sekolahan

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Semifinal Kompetisi Basket Campus League musim perdana Regional Surabaya hujan skor. Universitas Surabaya (Ubaya) jadi raja Jawa Timur MOJOK.CO

Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”

29 April 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh  MOJOK.CO

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma MOJOK.CO

Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma

28 April 2026
UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang.MOJOK.CO

UU PPRT Menyelamatkan Manusia dari Perbudakan Modern: Harus Kita Rayakan, Meski Jalan Kemenangan Masih Panjang

27 April 2026
Tahlilan ibu-ibu di desa: acaranya positif tapi ternodai kebiasaan gibah dan maido MOJOK.CO

Tahlilan Ibu-ibu di Desa: Kegiatan Positif tapi Sialnya Jadi Kesempatan buat Flexing Perhiasan, Mengorek Aib, hingga Saling Paido

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.