Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Pendukung Jokowi, Berhentilah Menuduh Kubu Sebelah Bau Orba!

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
26 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pendukung Jokowi yang kekeuh menuduh kubu sebelah punya bau Orba, sepertinya masih belum paham, siapa Orba sebenarnya.

Bertandinglah dalam Pilpres 2019 ini tanpa harus meneriakkan keras-keras lagi pernyataan yang kelihatan gagah, namun unsur menipunya sangat vulgar dan berisik: “Hati-hati pilih yang sana. Ada bau Orba!”

Jika itu dilakukan para pendukung garis keras paslon Jokowi-Amien, apa mereka itu nggak punya rasa empati sedikit pun kepada koalisi partai pengusung? Tepat di titik itu, Golkar (dengan G besar) mestilah kita sebut tanpa mengurangi rasa hormat kepada golkar-golkar kecil yang juga jadi pendukung, yakni Partai NasDem, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).

Kok, ya, tega kalian menaruh “nama” Golkar di bawah karpet dalam “debat swasta” yang tak berkesudahan? Betul, dalam “debat negeri” yang diselenggarakan KPU, tuding-menuding dengan “bau Orba” ini nggak ada.  Dan, ini yang betul.

Main gertak dengan dengan “bau Orba” ini justru terjadi di “debat swasta” yang berlangsung secara harian di media sosial. Sudah nggak dibayar sebagai panelis, ngotot lagi. Kalau di “debat negeri”, panelis kan, dapat reimburse dari KPU. Paling nggak, ada dana transportasi dan penginapan. Lha, kalau “debat swasta”? Bahkan pengganti pulsa pun kadang nggak ada, apalagi pengganti waktu yang habis percuma hanya untuk berteriak paling lantang dengan pengandaian: “Jika kamu pilih yang di sana, monster Orba bakal kembali!”

Sialnya, model politik menakut-nakuti macam itu sudah terjadi di pemilu 2014. Eh, kini, malah diulangi lagi di Pemilu 2019. Apa ya nggak, bosen?

Umumnya, pengguna terbanyak “bau Orba” sebagai bola peluncur mematikan lawan ini adalah pengusung garis keras Jokowi. Lebih khusus lagi, dari kalangan aktivis, baik yang ngendon mencari sesuap nasi di internal partai maupun masih antre untuk dapat restu dari ketua umum. Si milenial yang kemudian membuatnya riuh dan mirip pesta, namun palsu belaka.

Insyaflah, Wahai Manusia, baik yang sudah berumur maupun si milenial! Orba tidak sedangkal itu~

Golkar si Orbais ori yang sekamar hotel bersiang-siang bermalam-malam merumuskan perjuangan memenangkan petahana untuk lima tahun lagi menghuni Medan Merdeka Utara itu, adalah seniornya senior dalam praktik kepartaian Indonesia. Golkar itu partai tertua yang masih eksis hingga kini di Indonesia.

Bekerja sama dengan ABRI sebagai bhayangkara dan mesin birokrasi bernama PNS sebagai mesin diesel, Golkar menjadi pemenang tanpa sela dalam tiga dekade saat Repelita hadir berjilid-jilid, saat Kabinet Pembangunan tampil dengan penambahan berjalan angka romawi.

Ada, sih, PPP dan PDI Perjuangan. Namun, kedua partai hasil politik fusi Orba itu tampak hanya pelengkap formal supaya secara zahir ada “kompetisi”. Hanya kemenangan yang dimiliki Golkar. Kekalahan, bukan hanya tabu, tapi nggak ada dalam sejarah Golkar sebelum tiba tahun “pause”, 1998.

Kala Reformasi yang tampak heroik dan membara itu datang, ternyata tak mampu membunuhnya. Pause pun nggak, apalagi shut down. Orba baik-baik saja di ekosistem politik Reformasi ini. Alih-alih menjadi liliput, Golkar selalu berada dalam tiga besar perolehan suara.

Kenyataan itu, mau tidak mau, mestilah kita terima dengan lapang dada. Termasuk legawa saat Orba tak hanya dekat di mata, namun satu meja makan dan seranjang hotel dengan Orba tiap kontestasi politik tiba, baik di pusat maupun daerah.

Mau ngomong Orba, pahamilah, ada tiga  infrastrukturnya: Golkar, ABRI, PNS. Dan, ketiganya berkiblat pada satu titik: Cendana.

Iklan

Di “Keluarga Cemara Cendana”, memang ada Prabowo Subianto yang memiliki privelese dan akses secara seks. Namun, Orba bukan toys shop, ia tidak hanya soal seks. Buktinya, Prabowo tertendang begitu saja dari politik ranjang Cemara Cendana saat Mbak Titik bilang “Cukup, Mas Prab!”

Artinya: modal peler bukan hal dominan agar utuh menyandang predikat Orba secara kafah.

Orba itu sistem berpikir yang hegemonik. Untuk bisa begitu, ia ditopang pilar-pilar. Salah satu pilarnya yang menjadi dominator sejak pemilu tahun 70-an hingga tahun 1997 itu, ya, Golkar.

Buka buku otoritatif soal Golkar yang ditulis David Reeve yang sudah diterjemahkan oleh Komunitas Bambu pada 2013 dengan judul Golkar: Sejarah yang Hilang, Akar Pemikiran & Dinamika. Partai ini adalah pohon yang ditanam Orba cum Harto agar sah NKRI ini disebut menjalankan “Demokrasi Pancasila”. Partai ini juga hanya dibikin untuk satu kondisional: siapa pun penguasanya, mereka ada di dalamnya sebagai pemain tengah.

Tak ada dalam catatan sejarah Golkar itu tumbuh menjadi oposisi. Kader Golkar tak pernah dididik untuk jadi oposan. Di silabus pengaderan mereka, lema “oposisi” itu tak pernah dikenal.

Memang, banyak orang sedang menunggu sejarah besar terjadi saat Golkar kelihatan “gagah” berkoalisi di parlemen hasil Pemilu 2014 untuk menjadi lawan eksekutif. Jika itu terjadi, sejarah baru Golkar tengah digosok. Mencoba kemampuan lain sebagai lawan tanding kekuasaan.

Tunggu tinggal tunggu, drama itu nggak muncul. Yang justru keluar dari panggung pertunjukan adalah cium pipi ka dan ki antara petinggi teras Golkar dan Jokowi.

Bagi mereka yang mengikuti rantai sejarah perpar”TAI”an di Indonesia, sikap Golkar yang putar haluan kembali ke dermaga dan memilih sekubu dengan petahana itu dengan mudah ditangkap sebagai kepulangan ke khitah natural: “aparatur pembangunan”.

Kata si itu, Jokowi cerdas bisa memecah koalisi merah putih yang terdiri dari PKS, PAN, Gerindra, Golkar, PPP, dan PBB di hari pertama parlemen bersidang usai Jokowi dilantik menjadi presiden ke-7. Kata si ini, Jokowi sukses “menaklukkan” Golkar hingga sekubu dengannya. Kata ini-itu, semuanya karena Kalla, mantan ketua umum Golkar, yang menjadi pendamping Jokowi di pemerintahan.

Bukan, kata saya.

Secara sederhana, Golkar hanya mendengarkan bisikan naluri naturalnya sebagai bagian dari kekuasaan dengan sejarah panjangnya sebagai utusan Orba paling otentik.

Ketika Orba genuine bernama Golkar itu sukses beradaptasi dengan pemenang pilpres, tinggallah spare part-nya yang masih bertulang lunak itu mendaku diri oposan bersuara lantang. Golkar yang sangat berpengalaman di segala bidang, barangkali hanya nyengir saja dan berbisik: “Kalian kira manis jadi oposan. Pait, sobat qisminku!”

Golkar itu mengamalkan hukum evolusi Alfred Russel Wallace dalam medan politik Indonesia, yakni bukan yang terkuat yang bertahan, namun yang paling bisa beradaptasi. Bukan saja dalam gelanggang politik praktik beradaptasi itu terjadi, tapi juga dalam segala ranah kehidupan. Dari soal duniawi hingga ukhrawi.

Kemampuan beradaptasi itulah yang membuat Golkar si Orbais ori 24 karat ini bukan hanya seranjang sepelukan dengan aktivis-aktivis galak dari Partai Rakyat Demokratik (PRD), oposan sengit dari banteng PDIP, namun juga tumbuh subur di tubuh Nahdlatul Ulama, di Muhammadiyah, hingga di PSSI.

Bahkan, sekiranya PKI dan komunis masih ada, mungkin juga semuanya ter-Orba-kan oleh “politik adaptasi” Golkar tersebut. Sayang sekali, Bung dan Nona, PKI dijadikan kambing sembelihan akikah untuk kelahiran dan tegaknya Orba di persada politik.

Kepada Golkar si spare part Orba genuine, mari menjura! Kamulah juara dari semua permainan dan “debat swasta” yang melelahkan ini, baik lelah lahir maupun sesak batin.

Itu.

Terakhir diperbarui pada 26 Januari 2019 oleh

Tags: bau orbaGolkarkeluarga cendanaPemilu 2019pendukung Jokowiprabowo
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Video Prabowo Tayang di Bioskop Itu Bikin Rakyat Muak! MOJOK.CO
Aktual

Tak Asyiknya Bioskop Belakangan Ini, Ruang Hiburan Jadi Alat Personal Branding Prabowo

16 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Mudik dengan Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

15 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.