Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Demonstrasi Pati Berkobar karena Kebodohan Pemerintah Pusat dan Daerah yang Jadikan Rakyat Sebagai Tumbal, seperti Api Korek Bertemu Bensin Segalon

Rahmikurniawati Perdhani oleh Rahmikurniawati Perdhani
14 Agustus 2025
A A
Pati Bergerak karena Kebusukan Pemerintah Pusat dan Daerah MOJOK.CO

Ilustrasi Pati Bergerak karena Kebusukan Pemerintah Pusat dan Daerah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Keributan antara pemerintah pusat dan daerah selalu membunuh rakyat. Dan rakyat Pati yang kali ini menjadi korban mereka.

Kemarin (13/8) demonstrasi besar telah terjadi di Pati. Ini mungkin demonstrasi terbesar dalam sejarah perlawanan rakyat kabupaten melawan pejabat daerahnya. Ribuan orang berkumpul di Alun-Alun Simpang Lima Kota Pati. Yang menginisiasi bukan mahasiswa, tapi pelopor demonstrasi ini adalah rakyat biasa. 

Massa demonstran datang dari berbagai kalangan. Sekitar pukul 9 pagi, saya masih sempat belanja di Pasar Porda untuk keperluan dapur usaha saya. Ternyata, sebagian besar kios di Pasar Porda tutup. 

Sehari sebelumnya saya memang mendengar mereka akan berangkat demo. Pickup, truk yang memuat rombongan massa sejak pagi sudah tampak berseliweran di jalan raya. 

Lapak kue langganan yang isinya aneka kue titipan juga tutup karena para pembuat kuenya berangkat demo. Pabrik tekstil Sejin juga meliburkan karyawannya. Gudang-gudang ikan juga ikut libur. 

Meski masih banyak juga penjual di pasar yang tetap berjualan, tapi suasana terhitung sepi. Di parkiran pasar hanya ada beberapa motor tak seperti biasanya.

Selepas dari pasar, saya ikut turun ke jalan. Skala aksi ini memang sedemikian besar. Ada beberapa korban luka. Namun, menurut saya, aksi massa masih terhitung kondusif. Aparat tidak represif. Oknum demonstran yang provokatif dan berbuat omar segera diamankan sehingga kerusuhan tidak melebar.

Tidak ada korban jiwa siang itu. Hanya 35 korban luka dan pingsan karena tidak kuat terpapar gas air mata. Mereka dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Saya mendengar kabar kalau sebagian dari mereka sudah boleh pulang.

Pemicu demo besar di Pati

Yang awalnya memicu demo ini adalah kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan. Padahal, kalau dipikir-pikir, untuk daerah kecil seperti Pati, kenaikan PBB karena pemutakhiran NJOP semestinya tidak terlalu signifikan. 

Misal ada kawasan bisnis yang NJOP-nya naik tinggi, jumlah rakyat yang memilikinya (sehingga terkena kenaikan pajak besar) kan tidak banyak. Tidak signifikan jumlahnya dibanding jumlah rakyat yang nominal PBB nya tidak tinggi. 

Saya misalnya, tinggal di pusat ibu kota kecamatan, di tepi jalan besar. Rumah saya punya luas tanah dan bangunan di atas rata-rata banyak orang. Nominal PBB baru hanya Rp170-an ribu. Apalagi masyarakat yang tinggal di lokasi yang tidak lebih strategis mestinya kan lebih kecil. Itu pun akhirnya sudah dibatalkan. Jadi mengapa bisa tetap sebesar itu skalanya?

Demonstrasi Pati ibarat momentum ketika ada api korek kecil ketemu bensin segalon. Apinya sebenarnya tidak besar. Awalnya isu kenaikan PBB 250% hanya ramai di media sosial saja. Tetapi, api kecil ini malah diguyur terus dengan bensin.

Baca halaman selanjutnya: Rakyat yang selalu jadi korban.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 14 Agustus 2025 oleh

Tags: Bupati Sadewodemo patiPajakPatiPBB patipenyebab demo pati
Rahmikurniawati Perdhani

Rahmikurniawati Perdhani

Pemilik DANTEN REMEN JUWANA, UKM di bidang makanan. DANTEN REMEN JUWANA adalah toko aneka lauk pauk cepat saji bisa dikirim ke seluruh Indonesia.

Artikel Terkait

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau Mojok.co
Pojokan

5 Hal Wajar di Pati yang Ternyata Nggak Lumrah di Jogja, Bikin Syok Saat Pertama Kali Merantau 

25 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO
Urban

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026
pajak, pemberontakan petani banten.MOJOK.CO
Ragam

Saat Petani Banten Dicekik Pajak, Mereka Melakukan Perlawanan Bersenjata Iman

2 September 2025
Kota Semarang tak naikkan PBB dan pajak masyarakat MOJOK.CO
Kilas

Pilihan Kota Semarang Berpihak pada Masyarakat: Tak Naikkan PBB dan Ringankan Beban Pajak

22 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Kupat Keteg: kuliner warisan Sunan Giri jadi medium dakwah di Giri Kedaton, Gresik MOJOK.CO

Rasa Sanga (4): Tasawuf Ala Sunan Giri dalam Olahan Kuliner Kupat Keteg yang Dibuat di Tengah Perbukitan Kapur

6 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

9 Maret 2026
Hilangnya kumpul keluarga saat Lebaran setelah nenek tiada

Lebaran Jadi Momen Menyedihkan usai Nenek Tiada, Keluarga Sudah Nggak Mau Kumpul apalagi “Sungkeman”

5 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.