Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

Harsa Permata oleh Harsa Permata
13 Maret 2026
A A
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Ilustrasi Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebagai orang Minang yang bertahun-tahun tinggal di Jogja, rendang asli jadi terasa asin dan pedas saja!

Ada satu hukum tidak tertulis yang dipegang teguh oleh setiap orang Minang: gula itu posisinya hanya boleh di gelas minuman atau di piring kue. Titik. Bukan di dalam kuali gulai. 

Bagi orang Minang, gula itu kawan akrabnya kolak, teh talua, kopi, atau penganan manis lainnya. Tapi kalau sudah masuk urusan lauk-pauk? Gula itu haram secara gastronomis. 

Lauk itu ya harus gurih, pedas, dan asin. Enggak ada tawar-menawar.

Ibu saya dulu—waktu beliau masih sehat betul fisik dan pikirannya—biasanya bakal langsung melarang siapa pun yang berani-berani memasukkan gula ke masakan untuk lauk. 

“Jaan pakai gulo, itu untuak kopi atau teh,” (Jangan pakai gula, itu hanya untuk kopi atau teh). Begitu kata-kata beliau yang selalu nempel di kepala saya sampai sekarang.

Eh, tapi anehnya, ada pengecualian buat istri saya. Mungkin karena dia menantu kesayangan, Ibu nggak pernah melarangnya waktu dia memasukkan gula ke dalam masakan lauk-pauk. 

Hal ini barusan saya konfirmasi lagi ke istri, dan dia cuma senyum-senyum saja mengiyakan. Benar-benar perlakuan khusus.

Meninggalkan masakan minang dan terbiasa dengan sambal yang ada manis-manisnya

Sebagai orang minang, iman kuliner saya ini mulai goyah. Jujur saja, itu sejak saya menetap di Yogyakarta dan menikahi perempuan asli Jogja. Di Jogja sini, gula—terutama gula jawa—itu seolah-olah jadi “panglima” di setiap masakan. 

Awalnya sebagai orang minang yang tidak terbiasa dengan rasa manis saya protes keras, nggak terima. Tapi ya namanya lidah, lama-kelamaan dia berkompromi juga. Akhirnya saya mulai terbiasa sama sambal yang ada manis-manisnya atau sayur lodeh yang rasanya, ya Tuhan, lebih dekat ke arah kolak daripada gulai.

Ada satu cerita menarik soal gimana saya akhirnya “mualaf” dan terbiasa makan makanan manis khas Jogja, yaitu gudeg. Dulu waktu semester dua kuliah, sekitar awal tahun 2000-an, saya tinggal di Gang Pandega Satya, Jalan Kaliurang, tepat sebelum perempatan Kentungan. 

Di trotoar pinggir jalan dekat kosan itu, biasanya pagi-pagi sampai jam 10-an, selalu ada penjual gudeg yang murah meriah banget.

Awalnya, seperti Ibu saya, saya ogah makan gudeg yang manisnya minta ampun itu. Ibu saya bahkan sampai menamainya “kolak ayam dan nangka yang dicampur nasi”. Tapi setelah sebulan tinggal di sana, pertahanan saya jebol. Apalagi kalau malamnya saya lupa makan paginya pasti keroncongan parah.

Saya jalan kaki sebentar ke trotoar Jakal, terus ibu penjual gudegnya langsung menyapa ramah, “Mangga Mas, dahar mriki.” Tanpa pikir panjang lagi, saya pesan nasi gudeg ayam suwir. 

Iklan

Waktu itu harganya cuma Rp1.500. Kalau lagi lapar-laparnya, saya bisa nambah sampai Rp4.000. Begitu saja setiap hari sampai badan saya melar gara-gara asupan karbo dan gula berlebih, plus jarang olahraga pula.

Tragedi kembali ke masakan minang yang membuat saya sakit perut

Tragedi—atau saya lebih suka menyebutnya sebagai momen “kembali ke fitrah”—terjadi waktu saya akhirnya pulang ke Padang setelah bertahun-tahun merantau. Saya baru bisa pulang lama ke rumah itu sekitar tahun 2009, padahal saya sudah menikah dari tahun 2005. 

Waktu saya menyuap nasi dengan lauk asli dari dapur Ranah Minang, saya langsung kena apa yang namanya sensory shock.

Rasanya itu kayak ada ledakan di pembuluh darah sekujur tubuh saya. Lidah saya kaget bukan main! Masakan minang di tempat asalnya itu ternyata asiiiiin banget dan pedasnya bukan kaleng-kaleng. 

Rupanya, selama di Jawa, lidah saya sudah “terkontaminasi” rasa manis yang terlalu menenangkan. Begitu ketemu rasa Minang yang “jujur” tanpa sensor gula, saraf-saraf saya seolah-olah teriak protes.

Biasanya, kalau baru sampai di Padang, tiga hari pertama tekanan darah saya bakal anteng di angka 160/100. Baru setelah lewat tiga hari, bisa turun lagi ke angka normal 130-140. Belum lagi drama bolak-balik kamar mandi gara-gara perut mules, itu sudah jadi paket wajib di masa penyesuaian lidah tersebut.

Baca halaman selanjutnya

Cabai dari Jawa hadir sebagai mediator untuk orang Minang zaman sekarang

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 13 Maret 2026 oleh

Tags: esaiminangNasi Padangorang minangpilihan redaksirendang
Harsa Permata

Harsa Permata

Harsa Permata, Lahir di Aceh Selatan, besar di Solok, dengan atap seng, dan sempat "tersesat" di jalan yang benar saat belajar Filsafat di UGM. Kini menjadi dosen di USD Yogyakarta dan sedang menikmati masa-masa menjadi orang tua sambil sesekali mempraktikkan five inch punch Bruce Lee (ke tembok, bukan ke orang).

Artikel Terkait

Pendidikan karakter Sunan Ampel di Pesantren Ampeldenta Surabaya melalui halal food dan halal living MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (6): Melalui Halal Food dan Halal Living, Sunan Ampel Membentuk Karakter Generasi Islam Berkualitas

13 Maret 2026
mahasiswa penerima beasiswa KIP Kuliah ISI Jogja dihujat. MOJOK.CO
Edumojok

Sisi Lain Penerima KIP Kuliah yang Tak Dipahami Para Mahasiswa “Polisi Moral”, Dituntut Untuk Selalu Terlihat Miskin dan Menderita

12 Maret 2026
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co
Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

11 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO
Urban

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Ada kehangatan dan banyak pelajaran hidup di dalam kereta api (KA) ekonomi yang sulit didapatkan user KA eksekutif kalau terlalu eksklusif MOJOK.CO

Kehangatan dan Pelajaran Hidup di Kereta Api (KA) Ekonomi yang Sulit Ditemukan di KA Eksekutif

13 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Sarjana Ekonomi pilih berjualan ayam penyet

Sarjana Ekonomi Pilih Berjualan Ayam Penyet, Sempat Diremehkan Banyak Orang, tetapi Bisa Untung 3x Lipat UMR dan Kalahkan Gaji Pekerja Kantoran

9 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Jogja macet saat mudik Lebaran

Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.