Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
10 Agustus 2026
A A
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Ilustrasi Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Setelah Natalius Pigai menyarankan orang Indonesia membaca buku karangan orang Barat, saya pun tergoda memilihkan beberapa buku. Pak Menteri HAM juga harus baca.

Kepada Kompas, Menteri HAM Natalius Pigai merekomendasikan buku yang dikarang oleh orang Barat atau yang sudah diterjemahkan. Sebab, tambahnya lagi, orang Indonesia kalau menulis itu sesuai versinya dan subjektif. Sebagai pembaca sekaligus penjual buku bekas, saya sangat setuju sekali.

Iklan

Buku-buku biografi pejabat kebanyakan sesuai versinya dan subjektif?

Saya sering menemukan buku-buku garapan orang Indonesia yang isinya sangat manis bahkan ketika membahas tentang tokoh yang kontroversial. Melalui penjelasan dari Menteri HAM Natalius Pigai, akhirnya keresahan  saya terjawab. Bahwa semua yang saya baca itu adalah sejarah yang dibangun sesuai dengan versinya. Alias sangat subjektif.

Misalnya buku yang judulnya Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya yang terbit pada 1989. Saya tadinya ingin mencari tentang korupsi, nepotisme, dan kehancuran-kehancuran yang terjadi di tahun-tahun itu. Namun yang saya temukan isinya malah lebih banyak puja dan puji yang begitu manis dan terkesan dibuat-buat.

Lantas saya juga menemukan buku yang dikarang oleh orang Indonesia dan sangat subjektif sekali. Judulnya Paradoks Indonesia yang terbit pada tahun 2017. Isinya merupakan fragmen pemikiran pengarang dan sindirannya terhadap rezim yang berkuasa pada saat itu. Dan bahkan menuliskan bahwa ekonomi bangsa sudah tidak bisa berdikari, sehingga bergantung pada hutang.

Saya menjadi sangsi pada buku-buku yang pada awal bab menceritakan kemiskinan dan diakhiri dengan kesuksesan yang dicapai dengan bersih dan gilang gemilang. Apakah semua yang tertuang dalam buku-buku macam itu merupakan buatan sesuai versinya si penulis?

Hanya jawaban rekomendasi buku, tapi di balik itu semua terdapat otokritik yang mantap untuk kawan-kawannya di menara gading sana.

Rekomendasi buku yang dikarang oleh orang “Barat” untuk Natalius Pigai

Kini, mari kita buka-buka perihal buku-buku yang dikarang oleh orang “Barat”. Saya menggunakan tanda kutip lantaran beberapa pengarang dan peneliti terkadang lebih mencintai negara ini ketimbang kebanyakan orang yang memimpin negara ini. Kenapa saya bisa mengatakan hal ini? Tentu saja dari apa yang mereka kaji dan tulis.

Yang pertama, buku berjudul Jiwa Reformasi dan Hantu Masa Lalu: Sinema Indonesia Pasca Orde Baru karya Quirine van Heeren. Melalui sinema, buku ini mencoba membedah bahwa reformasi memang banyak mengubah beberapa hal dalam dunia perfilman Indonesia, namun tidak bisa menghapus cara berpikir yang sudah ditanamkan oleh orde baru selama puluhan tahun.

Bagian yang menarik adalah ketika menjelaskan tentang film-film propaganda yang selain promosi kebijakan pembangunan Orde Baru, juga digunakan rezim untuk menyajikan versi sejarahnya. Kerusakan yang dihasilkan selama 32 tahun ternyata bukan hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga budaya.

Yang kedua adalah Indonesia Tidak Hadir di Bumi Manusia: Pramoedya, Sejarah, dan Politik karya Max Lane. Kumpulan esai yang ditulis oleh penerjemah Tetralogi Buru ke dalam bahasa Inggris yang diterbitkan oleh Penguin ini banyak mengulas tentang Pram dan betapa rezim orde baru menekan sastrawan yang tak sepemikiran dengan mereka.

Betapa lucunya sebuah rezim yang memiliki segala akses baik itu militer maupun sumber daya, takut pada sebuah karya tulis dan penulisnya itu sendiri. Tapi, apakah kita harus mengingatkan pada Max Lane bahwa seorang menteri mengatakan pengarang Indonesia itu kalau menulis sesuai versinya sendiri dan subjektif, sedangkan Pram itu sendiri adalah penulis Indonesia?

Pak Menteri HAM perlu baca karyanya David Bourchier

Yang ketiga adalah Pemikiran Sosial dan Politik Indonesia Periode 1965-1999 yang dieditori oleh David Bourchier. Memang buku itu merupakan kumpulan ide dan pemikiran tokoh-tokoh Indonesia seperti Gus Dur, B. J. Habibie, Y. B. Mangunwijaya, Wiji Thukul, W. S. Rendra, dan masih banyak lagi (mereka semua menulis sesuai versinya dan subjektif, kah?), tetapi ada yang menarik dalam pembukaan yang ditulis oleh Bourchier.

Ia membahas tentang 12 Mei dan penembakan yang menyebabkan empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas. Juga terjadinya perempasan, penjarahan, dan pembakaran di kawasan etnis Cina yang menewaskan 2.000 jiwa. 

Iklan

Bahkan ia tak segan mengatakan ketidakbecusan rezim adalah hal yang dungu. Dan ia menulis begini:

“Kekerasan yang mengguncang ibu kota di banyak tempat itu dimengerti sebagai rekayasa suatu kelompok di dalam militer sendiri dalam upaya menodai lawan-lawan rezim dan membenarkan terjadinya tindak kekerasan—dan boleh jadi pengambilalihan kekuasaan oleh militer—oleh mantu…” Ah, baca sendiri ajalah. Ada di halaman 27.

Baca buku Politik Jatah Preman karya Ian Douglas 

Yang keempat adalah Politik Jatah Preman karya Ian Douglas Wilson. Tentang praktik patron yang awalnya merupakan sekumpulan begundal jadi lebih tertata. Tertatanya mereka inilah yang membuat banyak pihak besar melirik untuk menggunakan jasa patronasenya. Salah satu pembahasan yang menarik ada pada bagian tentang legenda Tanah Abang, yakni Hercules.

Ya, Hercules yang itu. Pendiri sekaligus ketua GRIB Jaya. Hercules yang berdiskusi sampai tengah malam dengan Seskab Teddy yang katanya adalah kawan lama.

Menurut buku itu, Hercules adalah anak dari seorang petani di Dili, dibawa ke Jakarta pada 1980an sebagai bagian dari kampanye merangkul ‘masyarakat Timor yang terbuang’ untuk menangkal persepsi internasional tentang pendudukan Indonesia. Dan yang mengonsep semua ini adalah… Ah, baca sendiri ajalah. Ada di halaman 115.

Maka, berangkat dari apa yang dikatakan oleh Pak Menteri Natalius Pigai, buku-buku di atas klir, ya, sebagai acuan yang dikaji dengan baik dan penuh kehati-hatian. Intinya: valid. Sebab dikarang oleh orang “Barat”. 

Namun, yang paling penting, tidak hanya benar dalam versinya sendiri, melainkan versi kebanyakan orang. Begitu juga dengan mereka-mereka yang digaji oleh uang rakyat.

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Pernyataan Menteri HAM Natalius Pigai menyebut pengibaran bendera One Piece sebagai ancaman bagi persatuan nasional.

Terakhir diperbarui pada 10 Agustus 2026 oleh

Tags: BukuMenteri HAMnatalius pigai
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Bercita-cita menjadi pelatih Nankatsu. Mahasiswa filsafat.

Artikel Terkait

Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
pencuri buku.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Siasat Kelompok Pencuri Buku di Jogja: Robin Hood atau Krimininal?

9 Desember 2025
Pesta Literasi Mojok.co
Kilas

Kupas Kreativitas di Era Teknologi, Magdalene.co dan Alitra Gelar Pesta Literasi 5.0

21 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Kemiskinan DIY menurun. MOJOK.CO

Jumlah Orang Miskin di Yogyakarta Berkurang, Penurunannya Jadi yang Tertinggi di Jawa pada Maret 2026

6 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Perjuangan orang haven't ingin jadi mahasiswa baru (maba) tanpa sponsor orang tua melalui beasiswa KIP Kuliah MOJOK.CO

Nasib Orang Haven’t: Ingin Jadi Maba Tanpa Sponsor Orang Tua, Harus Alami Kerja di Warung Mie Ayam 16 Jam Upah 30 Ribu

7 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.