Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

#MuslimBan Harusnya Membuat Kita Malu

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
1 Februari 2017
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saking derasnya banjir informasi di linimasa, mulai dari tragedi kemanusiaan, bencana alam, temuan teknologi, sensasi selebritas, hingga gosip esek-esek habib junjungan itu, barangkali hanya sedikit yang mengingat cerita-cerita ini. Cerita yang membuat kita sedikit terketuk dan merasa penting untuk membicarakan peristiwa yang terjadi jauh di Amerika sana.

Pada akhir tahun 2015, kata kunci “Chapel Hill Shooting” sempat riuh di mesin pencari Google. Bersamaan dengan itu, di beranda sosial media muncul foto wajah tiga anak muda muslim yang menjadi korban peristiwa itu. Mereka adalah sepasang suami istri Deah dan Yusor, serta Razan, adik perempuan mereka.

Deah, 23 tahun, adalah siswa berprestasi di sebuah kampus kedokteran gigi. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan sosial tingkat lokal maupun internasional lewat berbagai proyek yang didedikasikan untuk orang miskin dan pengungsi Suriah di Turki. Adik iparnya, Razan, pada usia 19 tahun telah menjadi seorang arsitek yang membantu para tunawisma memiliki tempat tinggal alternatif lewat proyek-proyeknya.

Deah, Yusor, dan Razan, tiga anak muda muslim itu ditembak tepat pada otak di kepala belakang oleh seorang tetangganya lelaki ateis kulit putih, di tempat paling aman yakni di dalam rumah mereka sendiri. Selama berbulan-bulan sebelumnya, lelaki itu kerap mengetuk rumah mereka, mengacungkan senjata, dan mem-posting ujaran-ujaran kebencian anti-agama. Yusor sempat merasa terancam, namun Ibu mereka berujar, “Berbuat baik saja dan berikan wajah yang manis. Orang lain akan memperlakukan kita sesuai dengan akhlak yang kita beri.” Sang Ibu, hingga kini, barangkali tidak pernah mendapat jawaban mengapa seseorang dapat membunuh orang lain hanya karena pakaian yang mereka kenakan dan ajaran yang mereka percayai, bahkan ketika ajaran itu tidak mengganggu kehidupan pribadi mereka.

Saat ini di Amerika terdapat 3 juta lebih warga muslim, tidak mencapai satu persen dari total penduduk. Saya, di negeri dengan penduduk muslim paling banyak di dunia ini kini selalu membayangkan betapa tiap detik yang mereka lalui menjadi begitu menegangkan di bawah kendali seorang Donald Trump.

Presiden yang pada tiap orasinya penuh dengan makian dan seruan rasis, bias gender, dan kebencian anti-Islam itu langsung menerapkan kebijakan #MuslimBan yang bermaksud membatasi hak-hak warga muslim dan menolak masuknya imigran dan pengungsi muslim.

Ketika aksi 212, yang bermaksud mengkriminalisasi Ahok berlangsung dan berhasil menggerakkan jutaan muslim, berlangsung di Indonesia, saya kerap teringat kisah Deah, Yusor, dan Razan ini. Bagi saya, peristiwa tersebut lebih dari sekadar urusan politik atau bela-membela agama. Dari perspektif lain, ia menunjukkan bagaimana manusia bisa bergerak dan menuntut pihak yang berseberangan dengan mereka, kali ini dalam hal agama. Memang betul bahwa aksi itu berlangsung dengan begitu damai, toh tetap saja media Internasional menggunakan istilah hardline untuk para pesertanya. Sebuah penanda bahwa efek 9/11 tidak akan pernah habis dalam menahbiskan islamofobia yang menyebabkan saudara-saudara muslim di negara Barat sering mendapat tatapan curiga, serangan fisik kecil tanpa alasan, hingga pemeriksaan acak yang tak sewajarnya di bandara.

Celakanya, hari-hari ini di Indonesia, kita justru makin sering disuguhi video-video para agamawan yang isi ceramahnya begitu galak dan panas. Sama seperti mayoritas mana pun di seluruh dunia, jumlah yang besar ini juga dianggap sebagai kebanggaan dan privilese untuk menganggap minoritas tidak setara.

Beberapa bulan setelah tragedi penembakan tiga pemuda di Chapel Hill, Khalid Jabara, seorang Kristen Lebanon-Amerika bahkan dibunuh di Oklahoma hanya gara-gara namanya yang kearab-araban. Dan betapa menyedihkan, pekan lalu, muncul video viral yang mempertontonkan seorang laki-laki Amerika berteriak-teriak sambil melancarkan ujaran kebencian anti-muslim pada seorang perempuan di depan sebuah bangunan lembaga persaudaraan muslim di Amerika. Ironinya, di akhir video, perempuan yang ia tunjuk-tunjuk tepat di depan mukanya itu ternyata non-muslim. Propaganda dan contoh buruk Donald Trump lewat ujaran-ujarannya ternyata membuat warganya merasa memiliki hak untuk melakukan hal yang serupa.

Tenang, bumi Amerika juga seimbang dengan sedikit manusia yang berbicara atas nama hak minoritas. Larycia Hawkins, seorang keturunan Afrika-Amerika yang bekerja sebagai profesor di Universitas Wheaton, pernah mempromosikan platform solidaritas untuk perempuan muslim berhijab di Amerika yang mengalami diskriminasi setiap hari. Sikapnya membuat Larycia dipecat kampus. Ia kini bekerja di Universitas Virginia pada lembaga yang menyuarakan pluralisme, keberagaman ras, keimanan, dan budaya.

Salah satu pendiri situs web reddit, Alexis Ohanian, bahkan melakukan kerja serius yang justru dianggap lelucon oleh banyak orang ketika ia mendukung gadis muslim cilik yang menuntut kehadiran emoji hijab pada aplikasi pesan instan.

Seorang pemimpin redaksi sebuah majalah wanita di Amerika Serikat bahkan juga repot-repot memperjuangkan lewat desk redaksi agar foto muslimah berhijab bisa muncul pada cover majalah kebugaran.

Serangkaian cerita itu semata-mata adalah usaha untuk membuat Amerika “terbiasa” dengan perbedaan. Serangkaian cerita itu pula yang mengingatkan kita kepada ungkapan Marthin Luther, “In the end, we will remember not the words of our enemies, but the silence of our friends.”

Ketika kawan-kawan non-muslim di Amerika mendeklarasikan diri siap menjadi muslim jika kebijakan #MuslimBan benar-benar diterapkan, terkadang saya membayangkan umat Muslim di Indonesia memberikan dukungan aksi serupa dengan mendeklarasikan diri siap membela hak-hak kaum minoritas di Indonesia.

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: amerika serikatchapel hill shootingDonald Trumpfeaturedimigranintoleransimartin luther kingmuslimban
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

Saya Imigran, Muslim, dan Difabel yang Hidup di Negara Diskriminatif. Tapi Allah dan Badminton Menemani Perjalanan Hidup Saya.MOJOK.CO
Ragam

Saya Imigran, Muslim, dan Difabel yang Hidup di Negara Diskriminatif. Tapi Allah dan Badminton Menemani Perjalanan Hidup Saya

31 Oktober 2025
intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Pemuda Jogja bisa kerja dengan gaji senilai perusahaan Amerika Serikat. MOJOK.COA
Ragam

Pertama Kali Dapat Kerja di Jogja sambil Kuliah, Kaget Bisa Dapat Cuan Senilai Perusahaan Besar di Amerika Serikat

20 Juni 2025
Puasa Ramadan di Amerika Serikat. MOJOK.CO
Ragam

Mahasiswa Asal Papua Cerita Beratnya Jalani Puasa 16 Jam di Amerika Serikat sebagai Minoritas

1 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali

Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali

20 Januari 2026
Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Gua Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.