MOJOK.CO – Mudik itu sebenarnya pulang ke tanah kelahiran, ke rumah orang tua tinggal, atau ke mana?
Beberapa hari sebelum Lebaran tahun lalu, saya dan seorang teman terlibat perdebatan yang sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi cukup mengganggu pikiran. Kami memperdebatkan satu hal sederhana: sebenarnya mudik itu pulang ke mana?
Menurutnya, mudik berarti kembali ke kampung halaman—tempat kita lahir, tumbuh besar, dan memiliki memori masa kecil. Tempat yang biasanya disebut orang dengan kalimat klise: “tanah kelahiran.”
Saya punya definisi berbeda. Menurut saya, pulang tidak harus ke kota tempat kita lahir. Pulang itu sederhana saja: ke tempat ibu kita tinggal.
Perdebatan itu berakhir tanpa kesimpulan, seperti kebanyakan debat warung kopi. Namun, entah kenapa, sehari sebelum libur Lebaran dimulai, pikiran saya tiba-tiba berubah. Saya berpikir: ya sudah, kalau begitu kali ini saya pulang saja ke tempat saya dilahirkan. Magelang.
Alasan logis di balik keputusan konyol mudik dengan motoran
Magelang adalah kota kelahiran saya. Namun, saya jarang sekali kembali ke sana karena memang bukan tempat orang tua saya tinggal. Terakhir kali saya mengunjungi kota itu pada 2018 bersama keluarga. Setelah itu, saya tidak pernah kembali lagi.
Di sana tinggal Bude dan Pakde—kakak kandung ibu yang dulu sempat merawat saya ketika masih bayi saat orang tua sedang sibuk berpindah-pindah tugas. Masalahnya, ide pulang ke Magelang ini muncul terlalu mendadak.
Ketika saya mulai membuka aplikasi pemesanan tiket kereta api atau bus, hampir semuanya ludes. Kalaupun ada, harganya sudah tidak masuk akal karena musim mudik. Sebagai orang yang masih cukup perhitungan soal pengeluaran, saya langsung mencari alternatif.
Akhirnya, saya menemukan solusi yang saat itu terasa sangat logis: naik motor dari Tangerang ke Magelang. Jaraknya sekitar 530 kilometer dengan estimasi perjalanan 12–13 jam. Kalau dipikir sekarang, keputusan itu terdengar seperti ide konyol dari seseorang yang terlalu percaya diri pada Google Maps.
Serangkaian kesalahan yang disadari terlambat
Kesalahan pertama bahkan terjadi sebelum mesin motor menyala. Saya hanya tidur tiga jam pada malam sebelum berangkat. Alasannya sederhana: malam itu saya harus menempuh rute Tangerang–Depok untuk menukar motor Beat saya dengan NMAX yang saya anggap lebih siap untuk perjalanan jauh. Setelah itu, saya tetap bangun sahur karena tidak ingin mengganti puasa hanya gara-gara perjalanan ini.
Kesalahan kedua: saya terlalu percaya diri dengan kondisi motor. Saya sama sekali tidak membawanya ke bengkel untuk pengecekan terlebih dahulu. Saya merasa motor ini akan baik-baik saja.
Kesalahan ketiga: pengalaman touring saya sebenarnya sangat minim. Satu-satunya perjalanan jauh yang pernah saya lakukan hanyalah Tangerang ke Bandar Lampung. Itu pun tidak terlalu berat karena perjalanan terpotong waktu istirahat di kapal feri. Berbeda dengan perjalanan kali ini yang sepenuhnya melalui darat. Namun, seperti kebanyakan keputusan nekat lainnya, semuanya terasa masuk akal sebelum ban motor menyentuh aspal jalur mudik.
Google Maps, Temanggung, dan jalan setapak untuk mudik
Saya melanjutkan perjalanan dari Depok sekitar pukul 06.00 WIB. Karena sedang berpuasa, saya merasa perjalanan ini justru bisa lebih cepat karena tidak perlu berhenti untuk makan atau minum. Target saya sederhana: istirahat setiap tiga jam.
Pukul 09.00, saya berhenti sebentar di SPBU untuk meregangkan badan. Perjalanan berlanjut hingga sekitar pukul 12.30, saat saya kembali berhenti di SPBU daerah Cirebon untuk rebahan sejenak dan salat.
Di sinilah Google Maps mulai menguji mental. Aplikasi itu memberi dua pilihan rute menuju Magelang: lewat Semarang atau lewat Temanggung. Sebagai manusia yang secara alami tertarik pada pilihan yang lebih cepat, tentu saja saya memilih Temanggung.
Baru belakangan saya sadar bahwa jalur Temanggung berarti harus melewati kawasan pegunungan yang penuh tikungan tajam. Pada satu titik, Google Maps bahkan membawa saya ke jalan setapak yang rasanya lebih cocok dilewati motor petani daripada NMAX. Motor saya jelas tidak didesain untuk petualangan lintas alam; ia cinta aspal, bukan tanah merah.
Ketika microsleep yang saya percaya sebagai mitos menjadi nyata
Perjalanan makin lama makin melelahkan. Di sinilah saya mengalami sesuatu yang sebelumnya selalu saya anggap sebagai mitos atau cerita yang dilebih-lebihkan: microsleep.
Beberapa kali saya tiba-tiba tersentak karena kepala mengangguk sendiri. Untuk tetap terjaga, saya bahkan sampai memukul-mukul helm. Sekitar pukul 16.00, hujan deras mengguyur daerah Batang. Saya terpaksa menepi karena jarak pandang benar-benar buruk.
Saya punya harapan naif saat mudik ini: ingin berbuka puasa bersama Pakde dan Bude di Magelang. Padahal, jarak yang tersisa masih sekitar tiga jam lagi. Akhirnya, saya tetap memaksakan perjalanan meskipun hujan belum sepenuhnya reda. Jalanan semakin sepi, tikungan kian tajam, dan penerangan satu-satunya hanyalah lampu motor saya sendiri.
Ajaibnya, saya sampai di Magelang sekitar pukul 20.00. Saya langsung bertemu Pakde dan Bude, bersalaman, lalu kehilangan tenaga untuk melakukan apa pun selain tidur. Badan rasanya seperti habis diperas. Namun, kejutan sebenarnya baru datang keesokan harinya.
Pelajaran seharga tiket kereta api di libur Lebaran
Pagi harinya, saya membawa motor ke bengkel resmi untuk servis rutin dan ganti oli. Setelah mekanik memeriksa, dia memanggil saya dengan wajah serius.
“Mas, ini kampas gandanya hampir habis terbakar,” katanya.
Saya masih santai, sampai dia menjelaskan lebih lanjut. Ternyata kampas ganda dan mangkuk motor saya sudah gosong. Kampas rem pun sudah sangat tipis. Kalau saja saya memaksakan perjalanan tanpa henti sedikit lebih lama lagi, kemungkinan besar motor saya rusak di tengah jalan.
Total biaya perbaikan? Rp829.000.
Ironisnya, jumlah itu hampir sama dengan harga tiket bus atau kereta yang sempat saya anggap terlalu mahal. Mekanik itu kemudian memberi nasihat sederhana: pengendara seharusnya beristirahat minimal 30 menit setiap 100 kilometer atau dua jam sekali agar mesin tidak overheat dan komponen tidak cepat aus. Saya justru melakukan sebaliknya; memaksa motor berjalan hampir tanpa henti demi mengejar estimasi waktu dari Google Maps.
Begitulah kisah mudik sendirian pertama saya. Saya memang sampai di Magelang dan bertemu Pakde serta Bude. Namun, perjalanan yang awalnya dilakukan untuk memahami makna “pulang” justru memberikan pelajaran sederhana yang mengenai: bahwa dalam perjalanan sejauh apa pun, yang paling penting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa bijak kita memberi jeda. Sebab, rumah tidak akan lari, dan keluarga akan selalu menanti.
Penulis: Marshal Muchtadin
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Muhammadiyah vs NU di Rumah Kami: Dua Hati, Beda Hari Lebaran, Selesai di Meja Makan dan ulasan menarik lainnya di rubrik ESAI.














