Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mudik Lebaran untuk Nostalgia yang Tidak Ada Padanannya

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
13 Juni 2018
A A
mudik
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pesan untuk yang mudik lebaran dari Calon Pemimpin Redaksi Mojok. Para mudikers sedunia, hati-hati ya. Titip salam untuk kucing di kampung halaman. 

Ramadan sudah di ujung, hampir selesai. Barisan saf salat tarawih sudah mulai berada pada angka yang memuaskan, karena sudah mulai terlihat deret kemajuannya. Semakin lama semakin mendekati imam. Subhanallah.

Iklan

Orang-orang di luar kampung halaman sudah mulai sibuk mempersiapkan atau sudah mudik lebaran. Pulang dari hijrah yang biasanya jadi tantangan terbuka bagi Pemerintah, terutama juga buat Menteri Perhubungan dalam menjalankan tugas. Bisa enggak bikin mudik lebaran lancar? Atau cuma begitu-begitu aja? Untung deh, sampai tulisan ini dibuat, belum ada kejadian semacam Brexit seperti musim kemarin—moga-moga sih enggak bakalan ada.

Mudik lebaran, bagi banyak orang adalah perjalanan panjang menuju hari yang baru. Ia jauh lebih punya makna ketimbang sekadar perjalanan menuju alun-alun pada malam tahun baru untuk menonton indahnya kembang api atau penantian jebolan nonton konser Slank atau Habib Syekh.

Sebagai sebuah perjalanan, mudik juga adalah salah satu perjalanan yang paling pantas untuk diperjuangkan. Harga tiket boleh mahal, kondisi transportasi boleh amburadul, bekal boleh tak seberapa, namun begitu, mudik ya harus tetap jalan. Makan enggak makan asal kumpul, punya enggak punya yang penting mudik.

Mudik lebaran menjadi ritual yang sangat berarti, sebab ia memang menjadi ajang pelarian yang paling menyenangkan. Semacam pengikis endapan segala rupa yang serba menyedihkan di tanah rantau: angkuhnya kota, galaknya atasan, menyebalkannya rekan kerja, egoisnya gaya hidup urban, ketusnya gebetan, seksinya pendapatan, dan segala pergulatan-pergulatan buruk lainnya.

Ya maklum, di kota, manusia tumbuh menjadi manusia yang tidak manusia. Tumbuh pada kultur yang sangat bukan dirinya. Lingkungan yang jauh dari guyubnya desa, tuntutan pekerjaan yang kejam dan sering tidak beperikemanusiaan, pergaulan yang terlalu showbiz, mau tak mau membuat banyak manusia lupa akan identitasnya. Di kota, manusia hidup dengan sangat mekanis. Macam mesin ATM saja. Duit banyak, tapi monokrom, eh, monoton.

Oleh karenanya, mudik lebaran jadi punya posisi yang penting, sebab ia menawarkan terapi yang paling tokcer untuk mengembalikan manusia pada kediriannya. Bertemu dengan keluarga, kerabat, sanak-saudara, di tempat yang begitu hangat, dengan makanan yang terasa akrab di lidah, meski selalu saja ada pertanyaan-pertanyaan serangan ala-ala sidang skripsi pada hari raya.

Paling tidak mudik lebaran menjadi pembuktian paling hakiki, bahwa semaju dan sesukses apa pun seseorang di rantau, ya ia tetaplah anak ingusan dari kampung halaman. Tetap bocah dusun. Cuma ukuran baju dan celana dalamnya aja yang berubah, seleranya? Ya tetap begitu-begitu saja, tetep bocah. Sudah pernah makan di restoran mahal bintang lima se-Indonesia, cicip-cicip jajanan kuliner se-dunia yang muahal punya, eh, yang dikangeni ya tetep sayur asem, tempe goreng, dan sambel terasi bikinan orang tua.

Pada akhirnya, sudah wajar kalau momen mudik lebaran bakalan menjadi laku yang begitu emosional. Perjalanan kembali ke kampung halaman itu tak hanya menarik kita kepada kenangan-kenangan nostalgik yang semakin hari semakin terkikis. Lebih dari itu, ia mengedarkan ingatan pada halaman rumah di mana kita biasa bermain gundu, pohon di mana kita dulu terbiasa mencuri rambutan, atau sungai di mana kita dulu sering mandi telanjang bersama kawan-kawan sambil cari cetul, wader, atau piranha.

Perjalanan kembali itu menjadi begitu suci, ia tak ubahnya seperti ritual haji. Dengan rumah sebagai kakbahnya, telapak tangan ibu sebagai hajar aswadnya, antri macet perjalanan sebagai tawafnya, biskuit Khong Guan sebagai kurmanya, serta Sirup Marjan sebagai air zam-zamnya.

Kita semua boleh saja menunaikan salat subuh di Masjidil Haram, salat duhur di mushola kecil di salah satu sudut pusat perbelanjaan, salat asar di rest area tepi jalan Pantura, salat magrib di Masjidil Aqsa, salat isya di kamar kos yang bau dan butut, atau salat tarawih di Pelataran Monas. Tapi khusus untuk Salat Ied, kita semua sepertinya sepakat, bahwa tempat terbaik untuk menunaikannya adalah di halaman masjid di kampung kelahiran kita berada.

Dan tulisan ini merupakan pesan buat kalian yang sudah mudik lebaran atau sedang dalam sukacita menjalaninya. Selamat bernostalgia. Nikmati mudikmu. Tuntaskan rindumu, dan syukuri lebaranmu.

Di luar sana, ada banyak orang yang terpaksa menangis sedih sebab tak bisa pulang ke kampung halaman. Meski ada juga yang biasa saja enggak ada sedih-sedihnya karena memang sudah jadi tugas negara.

Iklan

Yang jaga perlintasan kereta, jaga persimpangan simpang lima, jaga jalanan perbatasan antar-kota antar-desa, sampai jagain berita di depan layar kaca. Kepada mereka semua, muakasih lho ya. Kelen semuwa luwaaar biyaaasaaaa~…

Terakhir, izinkan saya untuk mengutip sebuah fragmen tak terbayangkan, yang oleh Didi Kempot dilantunkan dengan begitu sentimentil dalam tembangnya “Tulisan Tangan”:

“Udan-udan dalane lunyu… (Hujan-hujan jalannya licin)”

“Lintange ndelik mbulane turu… (Bintangnya sembunyi, bulannya tidur)”

“Langite mendung ing wanci ndalu… (Langitnya mendung waktu malam)”

“Nambahi kangene atiku… (Menambah rindu hatiku)”

“Sworo takbir ngelingke aku… (Suara takbir mengingatkan aku)”

“Pengin nangis jroning batinku… (Ingin menangis jauh di lubuk batin)”

“Karep mulih ora nduwe sangu… (Ingin pulang tapi tidak punya uang saku)”

“Ra biso sungkem romo lan ibu… (Tidak bisa sungkem ayah dan ibu)”

Salam cinta untuk mudikers sedunia. Hati-hati di jalan ya, Lur. Enggak usah kenceng-kenceng, santai aja, pelan-pelan aja, kalau perlu dituntun. Yang penting sampai kampung halaman dengan selamat dan jangan lupa untuk bahagia luar-dalam.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2021 oleh

Tags: atmBrexitDidi Kempothajar aswadHajiIndonesiakampung halamankhong guangmasjidil aqsamasjidil harammonasMudikmudik lebaranpanturasambel terasisirup marjantawaf
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO
Kilas

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
4 jenis pengendara motor di pantura seperti Rembang yang harus dilarang nyetir motor di jalan raya MOJOK.CO
Catatan

4 Jenis Pengendara Motor di Pantura yang Harus Diwaspadai di Jalan Raya: Top Level Ngawur dan Tak Tahu Aturan!

23 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO
Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Kerajinan lokal Yogyakarta di INACRAFT. MOJOK.CO

INACRAFT Jogja: Jembatan bagi Perajin Lokal Menembus Pasar Global Lewat Karya yang Tak Biasa

15 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.