Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mengkritik Anies Baswedan Melalui Getah Getih dan Lidah Mertua

Muhammad Nanda Fauzan oleh Muhammad Nanda Fauzan
22 Juli 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Apapun yang bertaut dengan Anies Baswedan maka kritik yang datang sifatnya selalu politis. Mau itu soal proyek Getah Getih maupun program Lidah Mertua.

Karya instalasi seni bambu Getah Getih buatan Mas Joko Avianto kembali menjadi anget-anget tuwaik ayam. Pasalnya beberapa hari lalu karya seni itu baru saja dirobohkan. FYI aja nih, mahakarya itu sudah jadi bahan baku pukul utama di majelis ghibah netizen sejak diresmikan pada 16 Agustus 2018 lalu.

Akan sangat keliru—tentu saja—jika Anda mencari komentar berkaitan dengan apresiasi atau kritik terhadap seni instalasi Getah Getih dari ilmu seni rupa murni. Meski instalasi Joko Avianto kerap mengangkat tema-tema sosial politik, mengenai identitas, toleransi, kesetaraan, filosofi, dan tetek bengek lainnya, tapi netizen tidak peduli itu.

Netizen lebih peduli karena instalasi ini berdiri di era Gubernur Anies Baswedan. Jadi apapun yang memiliki tautan dengan Anies Baswedan maka kritik yang datang melulu bersifat politis, bukan lagi estetis.

Karena saya memiliki waktu luang yang teramat panjang, maka saya berusaha merangkum sebagian besar komentar netizen dalam satu kalimat ringkas yang kurang lebih berbunyi, “Dasar Gubernur nggak becus, beda sama Ahok. Buat apa coba Pak Anies hamburkan uang 550 juta untuk sesuatu yang tidak berguna dan sifatnya sementara? Mubazir banget. Kan lebih baik jika digunakan untuk….”

Silakan isi titik-titik yang kosong itu dengan sesuatu yang menurut Anda ideal. Jika Anda seseorang yang kebetulan dermawan, mungkin bisa dengan menambahkan “…fakir miskin dan anak yatim. Masih banyak yang membutuhkan.”

Meski jelas, saya lebih tertarik untuk menambahkan “…subsidi skincare, biar warga Jakarta glowing-glowing.”

Perkara uang ini jelas sensitif sekali, orang-orang Banten sering berseloroh bahwa, “mun urusan jeung duit, eweuh dulur eweuh batur,” yang jika dialihbahasakan berarti, “jika urusannya uang, tak ada yang namanya orang lain dan saudara.” Semua bisa jadi lawan. Apalagi jika itu adalah Gubenur DKI Jakarta yang tidak Anda suka.

Tapi apa benar Anies Baswedan menghamburkan uang untuk sesuatu yang sementara?

Oh, jelas tidak. Instalasi Getah Getih tersebut dimaksudkan untuk menyemarakkan Hari Kemerdekaan Indonesia dan gelaran Asian Games 2018. Dua hal yang sudah terpenuhi. Bahkan, perencanaan awal karya tersebut memang hanya akan bertahan dalam kurun waktu 6-12 bulan saja.

Getah Getih memang sudah lenyap, tapi ada perkara yang patut kita acungi jempol. Anies Baswedan memberi ruang apresiasi terhadap seni. Hal semacam ini memasang asing bagi orang-orang Indonesia, dan itu memantik komentar-komentar sebal berdatangan.

Biaya produksi sebenarnya tak sampai menyentuh nominal 300 juta, My Lov~ tapi, ada harga untuk hal-hal lain yang patut diperhitungkan. Perawatan misalnya, menurut si empunya karya dalam satu wawancara.

“Saya melakukan kontrol tiap bulan, floating  ulang dan melapisi pakai crystal coat. Meski mahal, crystal coat memang bagus, mengingat kita gak tahu beberapa bulan ke depan karya menjadi bagaimana.”

Hm.

Iklan

Pada titik ini saya masih menaruh hormat pada Anies Baswedan. Sampai kemudian pada satu kesempatan blio malah berseloroh, “Kalau saya memilih besi, maka itu impor dari Tiongkok mungkin besinya.”

Jawaban ini menurut saya justru menjadi hal yang sejatinya tak perlu-perlu amat untuk diucapkan.

Apa urusannya perkara dana kesenian sampai mancing-mancing Tiongkok segala? Meski Anies Baswedan tidak bicara etnis, tapi pemahahan di masyarakat bisa berbeda kalau udah ngomong perkara Tiongkok. Kalimat ini kalau sampai bawah bisa jadi malah nyerempet ke isu rasial lho, Pak.

Sebagai upaya pembelaan yang nggak penting-penting amat—maaf—kalimat itu sangat bobrok. Saya ngerti, importasi baja pada Kuartal 1 pada 2019 memang meningkat. Tapi maaf sekali lagi, Pak, kapan-kapan kalau sempat saya ajak antum ngopi deh ke tempat saya. Di sini ada satu pabrik penghasil baja terbesar di Indonesia. Namanya PT. Krakatau Steel. Ya kali aja antum nggak tahu.

Atau misalnya, bisa saja Anies Baswedan menjelaskan bahwa bambu memiliki peranan penting dalam memerdekakan Indonesia, tanpa bambu runcing kecil kemungkinan kita bisa mengusir penjajah. Meski sama-sama ngawur, tapi kan jawaban ini tidak akan menyentil siapapun.

Kemudian, soal umur instalasi dari bambu memang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya, menurut Mas Joko Avianto, adalah paparan polusi udara.

Sialnya, baru-baru ini situs penyedia peta polusi daring, AirVisual menempatkan kualitas udara di DKI Jakarta menjadi salah satu yang terburuk di dunia, meski data ini segera dibantah oleh Pemprov DKI Jakarta.

Tapi jangan risau, beberapa hari setelah pembongkaran bambu Getah Getih, untuk perkara polusi udara yang buruk ini Pemprov DKI sudah punya program “Lidah Mertua”.

NASA Clean Air Study, proyek penelitian tentang pembersihan udara di stasiun ruang angkasa, pernah merilis daftar tumbuhan yang bisa menyerap polutan dan salah satunya adalah lidah mertua atau bahasa kerennya Sansevieria. Tuh, jadi Anies Baswedan tak sepenuhnya keliru, kan?

Lah gimana? Blio memang lebih senang mengobati ketimbang mencegah. Selain proyek lidah mertua ini, kalau Anda masih ingat, Anies Baswedan juga pernah bikin proyek menututupi Kali Item dengan kain raksasa—alih-alih membersihkannya.

Padahal Anies juga pasti tahu kalau penyebab pencemaran udara DKI itu didominasi transportasi darat, lalu industri, dan debu akibat giatnya proyek pembangunan fisik. Setidaknya itu menurut pengakuan Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI, Andono Warih.

Alih-alih memaksimalkan fasilitas transportasi publik yang memadai, aman, dan nyaman untuk memperlancar mobilisasi warga sebagai salah satu cara mengurangi polusi dari sumber masalahnya, Anies Baswedan malah mencari solusi instans melalui lidah mertua.

Meski begitu, harus diakui, sulit berada di posisi Anies Baswedan belakangan ini. Apalagi kalau mengingat PKS (salah satu partai pendukung blio) pada waktu kampanye Pileg 2019 kemarin menawarkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Pajak Sepeda Motor dan Pemberlakuan SIM Seumur Hidup.

Di satu sisi Anies mungkin ingin mengurangi polusi, di sisi lain partai pendukung malah bikin janji kampanye yang berisiko meledakkan jumlah penjualan sepeda motor di seluruh Indonesia—termasuk di Jakarta tentu saja.

Kalau dipikir-pikir, solusi mengurangi polusi udara yang tidak berseberangan dengan janji kampanye partai pendukungnya memang lidah mertua. Meski Pak Anies juga sadar, lidah mertua-nya jelas bakal kalah tajam kalau dibandingkan lidah masyarakat Jakarta.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2025 oleh

Tags: Anies BaswedanGetah GetihjakartaLidah Mertua
Muhammad Nanda Fauzan

Muhammad Nanda Fauzan

Mahasiswa Filsafat UIN BANTEN.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Event lari Merbabu Skyrace makin diminati banyak orang lintas negara, jadi potensi sport tourisme di Jawa Tengah dengan daya tarik lari lintas alam di Gunung Merbabu MOJOK.CO

Merbabu Skyrace: Event Lari Melintasi Keindahan Gunung Merbabu, Sport Tourism yang Bikin Sebuah Dusun Mendunia

6 Juni 2026
Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.