MOJOK.CO – Sebuah refleksi personal tentang dilema perempuan dewasa yang memiliki kecemasan dalam menggunakan uang lebihnya untuk dana darurat atau skincare.
Usia 30 adalah usia yang dulu di benak saya terlihat sangat meyakinkan dari kejauhan. Ketika kecil, saya membayangkan sosok perempuan pada usia 30 sebagai manusia yang hidupnya sudah selesai dirakit. Mereka pasti tahu mau ke mana.
Punya tabungan yang banyak, pekerjaan mapan, rumah yang rapi dan punya rencana hidup lima tahunan yang tersusun lebih teratur daripada folder di laptop.
Lalu, saya sampai pada usia itu. Ternyata kenyataannya tidak seanggun dalam bayangan saya. Beberapa waktu lalu saya menghabiskan hampir setengah jam hanya untuk membandingkan dua serum wajah dengan selisih harga sekitar Rp40 ribu.
Saya perlahan membaca kandungan dalam produknya, melihat review penggunanya, memperbesar foto before dan after orang asing di internet, lalu tiba-tiba bertanya pada diri sendiri:
“Kalau saya beli yang lebih mahal, kira-kira bisa terlihat seperti orang yang hidupnya baik-baik saja nggak, ya?”
Setelah dipikir-pikir, itu pertanyaan yang cukup menyedihkan. Sebab jauh di dalam hati, saya tahu yang sedang saya cari bukan serum.
Saya sedang mencari rasa aman. Masalahnya, rasa aman tidak dijual di marketplace. Kalaupun ada, mungkin stoknya selalu habis.
Ketika kamu uang lebih di usia dewasa, untuk skincare, liburan, atau dana darurat
Semakin bertambah usia, saya mulai sadar bahwa persoalan hidup bagi orang dewasa bukan lagi soal punya uang atau tidak punya uang. Persoalannya jauh lebih rumit.
Kalau ada uang lebih, sebaiknya dipakai untuk apa?
Skincare, investasi, liburan, kursus, nonton konser favorit? Atau untuk darurat?
Atau disimpan saja karena harga kebutuhan pokok belakangan naik lebih konsisten daripada semangat hidup?
Sebagai perempuan yang memasuki usia 30-an, saya merasa hidup berubah menjadi perlombaan yang aneh. Kami dituntut memiliki terlalu banyak hal secara bersamaan.
Harus cantik, sukses, punya tabungan, dan punya investasi. Harus sehat secara jasmani dan rohani, harus sering healing, tapi juga harus produktif dan glow up.
Harus punya pengalaman hidup yang menarik. Kalau bisa, semuanya selesai sebelum usia 35. Kalau tidak tercapai, media sosial selalu siap menyediakan orang lain untuk dijadikan pembanding.
Ketika feed Instagram berubah menjadi klinik kecantikan berjalan
Beberapa tahun lalu teman-teman mengunggah foto tugas kuliah, foto nongkrong, atau foto kopi yang entah kenapa selalu diambil dari sudut yang sama. Sekarang semuanya berubah.
Mereka membahas retinol, niacinamide, collagen booster, laser wajah, botox, dan anti-aging treatment. Istilah-istilah yang dulu terdengar seperti nama mata kuliah kedokteran sekarang muncul setiap hari di Instagram.
Awalnya saya merasa semua itu berlebihan. Sampai suatu pagi saya membuka kamera depan tanpa filter.
Mendadak saya menjadi lebih terbuka terhadap kemajuan teknologi. Usia memang punya cara yang kreatif untuk mengubah prinsip hidup seseorang.
Masalahnya bukan pada skincare. Saya tetap percaya merawat diri itu penting. Persoalannya adalah industri kecantikan selalu berhasil menciptakan masalah baru yang sebelumnya tidak pernah kita sadari.
Kalau bukan pori-pori, garis senyum. Kalau bukan garis senyum, warna kulit. Kalau bukan warna kulit, tekstur wajah.
Kalau bukan tekstur wajah, bentuk rahang. Selalu ada proyek renovasi baru. Padahal semakin saya pikirkan, tujuan merawat diri seharusnya bukan menjadi sempurna. Cukup merasa nyaman saat bercermin tanpa langsung mencari kekurangan diri.
Makan enak lebih masuk akal daripada nasihat finansial
Saya pernah mencoba hidup sangat hemat. Tidak jajan. Tidak nongkrong di kafe. Tidak membeli apa pun selain kebutuhan pokok. Hasilnya memang lumayan, tabungan bertambah.
Namun, hidup terasa seperti sedang menjalani hukuman sosial yang dijatuhkan oleh motivator finansial. Akhirnya saya menyerah.
Sebab ternyata semangkuk udon hangat favorit saya setelah minggu yang melelahkan jauh lebih menenangkan daripada video motivasi berdurasi satu menit tentang kebebasan finansial.
Saya pernah memesan dessert premium yang harganya membuat saya menatap struk cukup lama setelah pelayan pergi. Ada jeda hening antara saya dan tagihan.
Hubungan kami tidak baik-baik saja saat itu. Meski demikian, saya tidak benar-benar menyesal. Karena semakin dewasa, saya mulai percaya bahwa tidak semua uang harus menghasilkan keuntungan.
Sebagian uang memang perlu menghasilkan alasan untuk tetap bertahan sampai hari Senin berikutnya.
Baca halaman selanjutnya














