Liburan tidak lagi terlihat sebagai kemewahan
Dulu saya menganggap liburan adalah hadiah. Sekarang saya menganggapnya sebagai biaya perawatan kewarasan. Usia 30-an kadang terasa seperti naik sepeda di tanjakan panjang. Kita terus mengayuh, tetapi tidak pernah benar-benar merasa sampai ke tujuan.
Target karier, tagihan, masa depan, dan pertanyaan soal pernikahan yang entah mengapa tidak pernah pensiun dari peredaran. Semuanya datang bersamaan.
Saya masih ingat beberapa perjalanan yang saya lakukan sendirian. Saya masih ingat jalan-jalan asing yang saya telusuri tanpa tujuan. Saya masih ingat sudut kafe cantik dengan jendela yang terang ketika saya duduk sendiri sambil menulis dengan tenang.
Saya masih ingat pantai hidden gem yang saya temukan setelah bersepeda hampir seharian. Saya bahkan masih ingat rasa makanan yang rasanya begitu enak sampai sulit dilupakan.
Sebaliknya, saya sudah lupa sebagian besar barang yang saya beli lima tahun lalu. Kenangan memang jauh lebih awet daripada barang. Tidak perlu garansi untuk pembuktian.
Ketika investasi terbaik justru bukan skincare dan tidak Instagramable
Dari semua pengeluaran, ada satu jenis pengeluaran yang hasilnya paling lambat terlihat. Bukan skincare, atau sejenisnya, tapi belajar, membaca, menulis, mengikuti pelatihan, dan mengembangkan kemampuan diri. Tidak ada foto before-after yang bisa dipamerkan.
Tidak ada orang yang memuji karena berhasil menyelesaikan satu buku atau meningkatkan satu keterampilan baru. Namun anehnya, hal-hal membosankan itu justru memberikan dampak paling panjang.
Tulisan-tulisan yang pernah kukirim, artikel-artikel yang berhasil terbit dan kemampuan yang terus diasah sedikit demi sedikit. Semuanya membuka pintu yang dulu bahkan tidak terlihat.
Saya mulai percaya bahwa wajah mungkin membuka percakapan pertama. Namun, isi kepala sering menentukan apakah percakapan itu layak dilanjutkan kemana arahnya.
Jadi, uang kita sebaiknya dipakai untuk apa?
Dulu saya selalu mencari jawaban tunggal. Sekarang saya tidak lagi percaya jawaban seperti itu ada.
Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan liburan. Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan buku. Ada bulan ketika saya lebih membutuhkan skincare. Ada bulan ketika saya memilih menyimpan uang karena ketenangan ternyata bisa dibeli dalam bentuk dana darurat.
Semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa menjadi dewasa bukan tentang membuat keputusan finansial yang sempurna. Menjadi dewasa adalah menerima bahwa sebagian uang akan dipakai dengan bijak, sebagian lagi akan dipakai untuk mengobati rasa lelah.
Sebagian menjadi investasi, sebagian lainnya jadi pengalaman. Ada yang menjadi kenangan, juga menjadi pelajaran. Dan semuanya adalah bagian dari hidup.
Sebab pada akhirnya, investasi terbaik bukanlah yang memberikan imbal hasil terbesar. Investasi terbaik adalah yang membuat kita berhenti merasa tertinggal.
Karena kalau setiap keputusan selalu lahir dari rasa kurang, sebanyak apa pun uang yang kita miliki tidak akan pernah terasa cukup. Kita hanya akan terus membeli diri kita dengan versi baru dari kecemasan yang sama, dengan kemasan yang sedikit lebih mahal.
Mungkin investasi terbaik bukan pada wajah yang terlihat lebih muda, bukan pada koper yang membawa kita ke tempat baru, dan bukan pula pada angka yang terus bertambah di rekening. Melainkan pada kehidupan yang membuat kita berhenti merasa tertinggal dan merasa cukup sebagai bagian dari hidup.
Penulis: Hayari Putri
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Retinol VS Bakuchiol, Bahan Skincare Populer yang Benci tapi Rindu dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co.














