Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kontroversi ‘Ya Tabtab’ Nissa Sabyan dan Ironi Definisi Lagu Religi

Miftakhur Risal oleh Miftakhur Risal
10 Mei 2020
A A
Kontroversi ‘Ya Tabtab’-nya Nisa Sabyan dan Ironi Definisi Lagu Religi

Kontroversi ‘Ya Tabtab’-nya Nisa Sabyan dan Ironi Definisi Lagu Religi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kalau ditranslate lewat Google, lagu “religi” yang dicover Nissa Sabyan “Ya Tabtab” memang artinya “ya montok”. Wajar kalau orang awam pada protes.

Jika almarhum Didi Kempot mengajak kita merayakan patah hati tanpa perlu jatuh cinta; maka Nancy Ajram—bisa dibilang—mengajak kita joget tanpa perlu paham lirik. Paling tidak itu yang berlaku pada lagu “Ya Tabtab”.

“Ya Tabtab Wa Dalla” merupakan satu dari 11 lagu dalam album kelima Nancy Ajram yang rilis tahun 2006 silam. Album yang kemudian juga diberi judul Ya Tabtab Wa Dalla’. Lagu itu kembali populer belakangan ini setelah dibawakan oleh Sabyan Gambus di acara Syiar Ramadan.

Sebagian orang keberatan karena lirik lagu itu jauh dari nafas Islami. Ia bukan lagu religi—katanya, yang berarti tak pantas dinyanyikan dalam panggung Syiar Ramadan. Apalagi di hadapan para ustaz.

Orang-orang juga mulai mencari tahu makna liriknya. Kalau kita googling dan langsung ditranslate lewat jasa robot Google, arti ya tabtab memang “ya montok”. Wajar jika publik nyinyir. Kok bisa-bisanya lagu macam itu tampil di panggung religi?

Sebagian orang lainnya juga mengulik di Youtube. Sontak mereka kaget karena lagu yang sama disetel sebagai pengiring tari perut.

Anehnya, orang-orang yang protes mayoritas bukan berasal dari kelompok kanan—yang biasanya memang religius. Sepanjang perselancaran linimasa saya, gelombang protes justru datang dari kelompok moderat dan kiri. Dugaan saya, ini karena sentimen politis aja. Maklum, Nissa Sabyan pernah deklarasikan dukungan politik pada capres tertentu di 2019 silam.

Terlepas dari translate dan maknanya yang dianggap nggak religius, lagu “Ya Tabtab” sebenarnya pernah dibuatkan video klip yang amat filosofis oleh penyanyi aslinya.

Dalam video-video klip sebelumnya, penyanyi asli lagu ini, yakni Nancy memang sempat mendapat sejumlah kritik. Nancy dianggap hanya modal cantik plus bentuk tubuh yang seksi. Hal itu dianggap jadi sebab lagu-lagunya laris. Padahal menurut kritikus Nancy, lagu-lagunya biasanya saja.

Memang, kalau kamu memutar video klip “Enta Eh” misalnya, Nancy benar-benar tampak seksi dalam balutan pakaian tidur yang minim.

Atas kritik itu, Nancy seperti tidak terima. Timnya memutar ide bagaimana membuktikan bahwa hal itu keliru.

Lalu muncullah video klip “Ya Tabtab”. Dalam klip itu, Nancy tampil jauh dari kata seksi. Dia mengenakan setelan badut dengan perawakan gemuk yang tampil dalam sirkus keliling. Cemang-cemong, hidung terong, perut gendut, gidal-gidul. Rambutnya dalam banyak scene juga dibiarkan morat-marit. Singkatnya, Nancy keluar dari comfort zone.

Apa hasilnya?

Kritikus musik Arab memberi bintang lima dalam aspek “Muhtawa Adabi” atau kandungan Sarat makna dan “Ittijah Jadid” atau arah baru permusikan Arab. Tahun 2007 klip itu diberi penghargaan sebagai video klip terbaik di Syibh Jazirah Arabiah (Semenanjung Arab). Diputar berkali-kali dalam program musik di seantero Arab.

Iklan

Taktik tim Nancy yang menampilkan banyak anak dalam video klip juga terbukti sukses. Selain sebagai tambahan stempel bahwa lagu itu untuk semua kalangan, taktit itu juga sanggup sedot pemirsa dari kalangan anak dan remaja. Orang tua tak merasa risih anaknya menonton video Nancy karena ada pertunjukan sirkus dan banyak anak dalam videonya. Cerdas!

Nancy berhasil membungkam para kritikus. Nancy tetaplah Nancy, terlepas dari apapun yang ia kenakan.

Sebentar, sebentar, lantas apa makna lagu yang dicover Nissa Syaban tersebut?

Seperti yang saya singgung di atas, jika ditranslate otomatis, Ya Tabtab memang berarti “Hei Montok”. Tapi sejatinya tidak demikian.

“Ya Tabtab” menggunakan dialek Mesir. Secara semantik “Ya Tabtab” adalah ungkapan tak resmi (lahjah) yang mirip dengan “pukpuk” atau “cupcup”. Tepukan di pundak untuk menghibur dan menguatkan lawan bicara.

Secara utuh, lirik lagu tersebut memang berisi kekecewaan terhadap kekasih yang terlalu over. Sosok egois dan selalu minta dinomorsatukan. Orang-arang Arab mengistilahkan dengan sebutan Al Qasii (Keras hati).

Lagu ini sebenarnya berisi curhatan yang menggambarkan bahwa mood seseorang bisa berubah-ubah. Tak bisa selalu bagus dan kooperatif di hadapan kekasihnya. Kadang bisa memperhatikan kekasih, tapi kadang tidak. Juga tidak selamanya orang bisa fokus pada kekasihnya masing-masing.

Maknanya memang 90% nelangsa. Menariknya justru dibawakan dengan ritme dan hentakan yang teramat ceria. Jedhug-jedhug. Sebab ritme itulah, lagu itu menjadi favorit untuk mengiringi belly dance.

Sekali lagi saya perlu singgung almarhum Didi Kempot. Nancy dan Didi Kempot dalam hal ini amat mirip. Sang maestro membawakan lagu patah hati dengan joget, begitu pula Nancy mengungkapkan keresahan hatinya juga dengan joget.

Lalu apakah pantas dibawakan di panggung religi?

Ehm, sebelumnya apa itu religi? Musik religi itu yang seperti apa? Lebih jauh, busana, program, maupun acara yang religi itu sebetulnya seperti apa?

Apakah program pencarian da’i dengan cara mirip kontes dangdut adalah program religi? Apakah lagu “Aisyah Istri Rasulullah”—yang juga populer itu—bisa disebut religi? Ataukah—jangan-jangan—religi hanya stempel yang kita sematkan secara  arbitrer, alias mana suka. Mana yang berdasar konsensus mirip-mirip dengan nilai Al Quran dan Hadis kita sebut religi. Sedangkan yang lain tidak.

Masalahnya, kalau mau ketat soal religiusitas, tidak ada itu lagu religi. Mohon maaf, melagukan shalawat saja bisa disebut bid’ah (bagi beberapa kalangan). Shalawatnya memang tidak bid’ah, tapi melantunkannya dengan iringan hadrah dan rebana bisa aja dinilai bid’ah.

Segala musik juga haram kalau kita—lagi-lagi mau ketat. Nyatanya, kita baik-baik saja dengan nasyid, shalawat, acapella, atau lagu dangdut khas Bang Haji Rhoma Irama. Dalam taraf tertentu kita juga menerima shalawat yang dikoplo-kan oleh Mutik Nida.

Lagi-lagi kita kembalikan pada paradigma Adab Lil Fan (karya seni semata untuk seni) ataukah Adab lil Hayat (karya seni untuk kehidupan). Dalam dunia Arab, kedua aliran itu sudah ada sejak era Muhadram (peralihan zaman Jahiliyyah ke masa Islam).

Jika saudara adalah penganut yang pertama, maka karya seni hanya bisa tunduk oleh rambu-rambu seni. Pihak yang menikmati seni, kemudian menilainya, hanyalah seniman. Bukan (mohon maaf) agamawan apalagi politikus dengan dukungan penuh para buzzer-nya.

Namun, jika saudara mengikuti aliran kedua, seni harus memberi nilai dalam kehidupan. Seniman tidak boleh egois. Ia juga harus memberi dampak positif pada kehidupan masyarakat. Bisa disimpulkan, yang sedikit-sedikit doyan kasih label religi pada sebuah lagu adalah kelompok kedua.

Meski bagi saya, religi atau tidak sebuah lagu, “Ya Tabtab” itu kenyataannya memang lagu yang amat asyik. Saya tak pernah peduli itu. Sebab, seperti halnya tren agama yang suka dipolitisi, seni juga tak perlu ikut-ikutan dipolitisi dengan label-label religi.

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Sabyan Gambus atau tulisan Mifatkhur Risal lainnya.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2020 oleh

Tags: lagulagu religinissa sabyanRamadanustaz
Miftakhur Risal

Miftakhur Risal

Alumni Islamic Call College Tripoli, Libya. Tinggal di Bantul.

Artikel Terkait

Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO
Kilas

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
THR belum cair, tapi sudah ludes dalam hitungan di kalkulator. Mudik lebaran memang tidak menyenangkan MOJOK.CO
Sehari-hari

THR Belum Cair tapi Sudah Jelas Ludes buat Dibagi-bagi, Yang Pasti Tak Ada Bagian untuk Diri Sendiri

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan
Catatan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.