Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Menyambut Generasi Cadar Garis Lucu

Kalis Mardiasih oleh Kalis Mardiasih
11 April 2021
A A
Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi perempuan edgy kalis mardiasih mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Namanya Ainun Jamilah. Sehari-hari, dia memakai baju gamis dengan cadar penutup di wajahnya. Tapi, bukan cadar hitam-hitam yang kini langsung muncul dalam bayangan kepala kalian.

Gamis Nun, begitu kita memanggilnya, berwarna-warni dengan aneka mode. Kain penutup wajahnya pun senada menyesuaikan warna pakaian yang dia kenakan.

Akun Instagram Nun tidak tipikal akun relijius yang hanya berisikan post teks agama dan kutipan bijak pemandu hidup yang ruwet. Nun hadir dan eksis sebagai manusia pribadi dan manusia sosial di akun personalnya. Tidak blur dan tidak tertutup emotikon.

Dengan cadarnya, Nun tampak berfoto bersama pohon natal, juga bersama Romo dan Suster di gereja. Minggu lalu, ketika bom meledak di gereja Katedral Makassar jelang paskah, Nun membawa bunga ke gereja dan tampak bekerja untuk membangun solidaritas bersama komunitas lintas iman untuk menggelar doa bersama.

Lebih menarik lagi, Nun menginisiasi gerakan @cadargarislucu. Dari spirit konten unggahan akun ini, tampak spirit yang diusung ialah untuk menyetop stigmatisasi cadar.

Seolah, member gerakan cadar garis lucu ingin berkata bahwa kami bukan pencadar yang ada dalam pikiran arus utama, atau stereotipe yang tergambarkan oleh media-media barat. Para pencadar dalam komunitas ini jauh dari kekerasan, bahkan tidak berbeda dari kalian semua.

Nun pernah mampir komentar di post Instagram saya. Dia menyebut dirinya sebagai pencadar yang berjuang di jalur kemanusiaan. Sebuah pernyataan yang sangat bertenaga.

Pencadar lain, @ashinpra bahkan menulis: “saya bercadar dan saya menolak ide-ide konservatif, diskriminasi dan segala bentuk opresi. Cadar saya adalah salah satu bentuk dobrakan stigma-stigma dan stereotypes orang-orang tentang cadar. Saya bercadar dan saya feminis.”

Nun dan gerbong cadar garis lucu ini saya sebut sebagai generasi cadar nusantara. Sebab, apa yang tidak mungkin membaur dengan menyenangkan di alam tradisi Indonesia ini?

Sejak dulu, Islam kita bersosialisasi dengan sawah, sungai, hutan, gunung, bukit dan lautan. Semua bentang alam itu melahirkan budaya komunal yang lekat tanpa mendiskriminasi gender tertentu.

Jika hari ini kawan-kawan melihat masih berseliweran foto pelaku bom bunuh diri dalam berita lalu menemukan perempuan bercadar sebagai pelaku tindak teror, saya ingin mengingatkan bahwa cadarnya tidak terkait dengan ideologi ekstrem dan kekerasan yang ada dalam kepalanya.

Saya punya banyak kawan bercadar seperti Nun. Pembaca buku-buku saya juga banyak kawan muslimah bercadar.

Beberapa tahun belakangan, ragam muslimah bercadar di Indonesia semakin menarik. Mungkin kawan-kawan tahu muslimah bercadar viral yang gemar memelihara anjing jalanan. Juga, muslimah bercadar yang datang ke konser musik metal.

Di Indonesia, beberapa tahun terakhir ini, muslimah bercadar tampil dengan cadar beragam warna. Saya menduga fenomena ini tentu terkait dengan industri fesyen kelas menengah muslim yang semakin subur.

Iklan

Selain berbagai jenis “hijab” trendi yang membuat anak muda muslimah tertarik menjadi hijaber, ternyata pasar juga merepons selera keindahan para niqaber.

Pencadar di Indonesia bermain skate board, pergi naik gunung, dan travelling. Muslimah bercadar di Indonesia juga menjadi pengusaha, fotografer, dokter dan beragam pekerjaan lain.

Sebagaimana bentuk tradisi lain khas Indonesia, ternyata cadar di Indonesia pun menemukan ke-Indonesiaan-nya, setidaknya dengan keberaniannya untuk mendaulat diri sebagai cadar garis lucu.

Para muslimah bercadar ini bergaul seperti biasa, bicara dan tertawa bersama-sama dengan kawan setara. Terkadang, kalian bisa menemui ibu dengan cadar menjemput anaknya di sekolah PAUD.

Tentu saja ibu bercadar ini naik motor dengan mandiri dan tanpa suami. Ingat, di Indonesia tidak ada state law tentang male-guardianship. Di tempat lain, mungkin kalian akan bertemu ibu bercadar sedang memilih belanjaan di tukang sayur keliling bersama ibu lain di perumahan.

Banyak muslimah bercadar yang menolak ide konservatif perempuan di rumah saja atau larangan perempuan menjadi pemimpin. Bagi saya, diskusi ini memang sangat sangat menarik. Meskipun, masih banyak juga dominasi tema pengajian yang konservatif semacam itu dalam komunitas pencadar.

Tapi, sekali lagi, sudah semakin banyak diimbangi dengan diskursus yang lebih berperspektif pengalaman dan realitas sosial perempuan khas Indonesia.

Apapun pilihan pakaian perempuan, pikiran dan keputusan-keputusannya tak boleh terdiskriminasi. Apapun pilihan perempuan, ia mesti selalu berada dalam kesadaran progresif untuk memperjuangkan hak hidup yang paling asasi.

Sebagaimana saya percaya kerudung saya bisa jadi simbol pembebasan, saya juga selalu percaya cadar bisa jadi simbol pembebasan.

Sebab nilai pembebasan yang membuat perempuan bebas punya pilihan ada dalam kepala/pikiran perempuan, dan pikiran itu tidak bisa dibatasi oleh selembar kain di kepala atau selembar kain penutup wajah.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.

Terakhir diperbarui pada 11 April 2021 oleh

Tags: Cadarcadar garis lucugaris lucuKelas Kalisperempuan
Kalis Mardiasih

Kalis Mardiasih

Artikel Terkait

pekerja perempuan.MOJOK.CO
Kabar

Dilema Pekerja Perempuan: Upah Murah “Dilegalkan”, Sementara Biaya Daycare Tak Terjangkau

1 Mei 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO
Esai

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan MOJOK.CO
Esai

Jangan Mau Jadi Trophy Wife, Itu Cara Halus Menjinakkan Perempuan 

13 April 2026
pekerja hotel, surabaya, jogja.MOJOK.CO
Podium

Larangan Hijab dalam Industri Perhotelan: Antara Hijabophobia atau Upaya Mengatur Tubuh dan Penampilan?

14 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.