Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kolom

Maksud Mulia di Balik Pernyataan “Bukan Mudik tapi Pulang kampung”, “Bukan Kolaps tapi Overcapacity”, dan “Bukan Kelangkaan tapi Keterbatasan”

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
10 Juli 2021
A A
jokowi mojok.co

Ilustrasi Jokowi. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di masa pandemi ini, beberapa pejabat pemerintah diketahui memberikan pernyataan doublespeak. Hal ini perlu dibedah dengan serius.

Pada mulanya adalah Jokowi yang ditanya oleh Najwa Shihab dalam salah satu sesi wawancara eksklusif di Istana Merdeka pada Selasa, 21 Maret 2021 lalu.

Najwa bertanya kepada Jokowi terkait fenomena orang berbondong-bondong mudik ke kampung halaman beberapa hari sebelum aturan larangan mudik diterapkan.

Jawaban Jokowi amat brilian. “Kalau itu bukan mudik, itu pulang kampung. Yang bekerja di Jabodetabek, di sini, tidak ada pekerjaan, mereka pulang,” jawab Jokowi.

“Apa bedanya?” tanya Najwa Shihab.

“Kalau mudik itu di hari lebarannya. Kalau pulang kampung itu bekerja di Jakarta pulang ke kampung.”

Jawaban Jokowi tersebut kelak kemudian membuat publik sibuk berdebat terkait istilah mudik dan pulang kampung. Ribuan orang mendadak menjadi ahli bahasa yang mumpuni.

Banyak yang membela pernyataan Jokowi, pun tak sedikit yang menyinyirinya. Maklum, di kamus bahasa Indonesia, mudik dan pulang kampung sejatinya memang tak ada beda, sehingga pembedaan yang disebutkan oleh Jokowi tersebut justru bikin bingung publik.

Kelak, jawaban “brilian” ala Jokowi tersebut kemudian ditiru dengan amat sempurna oleh Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo terkait kenaikan tarif layanan GeNose di stasiun dari Rp20 ribu menjadi Rp30 ribu pada pertengahan Maret lalu.

“Sekali lagi, tarif itu bukan naik ya, tapi penyesuaian tarif,” terangnya.

Didiek mengatakan bahwa tarif Rp20 ribu sebenarnya adalah tarif khusus soft launching, sehingga ketika tarifnya berubah menjadi Rp30 ribu, maka itu bukanlah kenaikan tarif.

Hal serupa pun kembali terulang. Kali ini melalui Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. Nadia membantah laporan Koalisi Warga LaporCovid19 yang menyebut bahwa rumah sakit kolaps akibat lonjakan pasien Covid-19 benar-benar menjadi puncak buruknya pola komunikasi pemerintah.

“Kolaps tidak, tapi overcapacity itu iya. Karena jumlah pasien yang sangat banyak dan dalam waktu bersamaan,” begitu kata Nadia kepada Tempo.

Fenomena istilah ganda ini kemudian makin sempurna saat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno ikut bersuara terkait makin susahnya masyarakat maupun rumah sakit untuk mendapatkan stok oksigen.

Iklan

“Bukan terjadi kelangkaan, tapi keterbatasan yang bisa dipetakan pada tiga lini yang harus kita perhatikan secara bersama-sama,” begitu kata Sandiaga Uno dalam diskusi daring dengan PT Aneka Gas Industri pada Kamis, 8 Juli 2021.

Parade silat kata yang dipamerkan oleh pejabat-pejabat pemerintah di masa pandemi ini tentu menjadi hal yang menarik.

William Lutz, profesor di Rutgers University menyebut fenomena ini dengan istilah “doublespeak”. Semacam penggunaan istilah yang membuat sesuatu yang buruk menjadi tampak lebih bagus, atau setidaknya tidak seburuk itu.

Lantas, apakah pernyataan-pernyataan doublespeak dari para pejabat pemerintah di atas adalah bukti bahwa pemerintah memang sedang ingin menutupi hal-hal buruk yang sedang terjadi dan membuatnya agar terkesan baik-baik saja? Entahlah. Namun, sebagai warga negara yang bijak dan penuh dengan prasangka yang baik kepada pemerintah, saya menganggap bahwa apa yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah di atas adalah sebuah upaya untuk mencerdaskan masyarakat agar lebih teliti dalam berbahasa.

Para pejabat sadar betul bahwa penggunaan bahasa di masyarakat masih salah-kaprah, karena itulah perlu adanya perbaikan yang masif dan menyeluruh.

Contoh sederhana saja, tidak seperti negara berbahasa Inggris yang punya istilah “we” yang bisa berarti “kami” atau “kita”, Indonesia merupakan negara yang memisahkan penggunaan kata “kami” dan “kita”. Kendati demikian, masih banyak masyarakat yang tidak bisa menempatkan penggunaan kata “kami” dan “kita” dengan benar.

Contoh yang tak kalah sederhana lagi, masyarakat Indonesia masih banyak yang tidak bisa membedakan istilah “absensi” dan “presensi”. Absensi yang artinya ketidakhadiran justru kerap dipakai dalam konteks kehadiran. Hal ini dilakukan bahkan oleh mahasiswa sekalipun. Istilah”titip absensi” pun sejatinya salah besar, yang benar adalah “titip presensi”.

Atau yang paling sering menjadi kesalahan umum tentu kata “acuh”. Acuh yang artinya adalah mengindahkan, memedulikan, justru sering dipakai dalam konteks yang sebaliknya.

Orang yang bermaksud ingin mengatakan bahwa dirinya tidak diperhatikan sering mengungkapkannya dengan istilah “Aku diacuhkan begitu saja.” Padahal hal tersebut artinya justru sebaliknya.

Dengan latar belakang kesalahan berbahasa yang amat parah itu, bangsa ini sudah selayaknya mendapatkan pendidikan berbahasa yang baik dan benar. Nah, pada titik inilah para pejabat pemerintah seperti Pak Jokowi, Bu Nadia, Pak Didiek, dan Pak Sandiaga mengambil peran.

Mereka sengaja menggunakan istilah-istilah yang artinya hampir sama atau malah mirip semata untuk memancing dan merangsang kecakapan masyarakat dalam berkosakata dan berbahasa.

Konon, kemajuan sebuah bangsa bisa dimulai dari kemajuan sastranya. Dan kemajuan sastra didahului dengan kecapakan berbahasa.

Maka, bagaimana mau menjadi bangsa yang maju jika dalam berbahasa saja masyarakat Indonesia masih belum menggunakan bahasa dengan baik dan benar.

Oleh sebab itu, marilah kita mulai memaklumi silat kata yang belakangan ini amat sering ditunjukkan oleh para pejabat pemerintah. Saya yakin, hal tersebut bukan karena mereka ingin menutupi hal buruk menjadi tampak baik, melainkan karena mereka sedang berusaha meningkatkan mutu berbahasa masyarakat kita. Dan itu harus kita apresiasi sebesar-besarnya.

Silat kata ini masih terus akan muncul dari mulut para pejabat pemerintah selama masyarakat belum juga mampu mempraktikkan bahasa dengan baik dan benar.

Maka dari itu, mulai sekarang, jangan kaget jika kita akan banyak mendengar istilah-istilah baru yang digunakan untuk menggantikan istilah yang artinya sebenarnya tak jauh berbeda.

Jangan kaget pula kalau suatu saat Anda bertemu pejabat pemerintah yang sedang memesan soto di sebuah warung soto dan ia tidak mau bilang kalau nasinya dipisah.

“Ini nasinya dipisah, Pak?”

“Bukan dipisah, tapi dikotomi saja.”


BACA JUGA Ketika Dokter Faheem Younus dan Ariel Noah Lebih Bisa Diandalkan Ketimbang Pejabat Pemerintah dan artikel AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 13 Februari 2026 oleh

Tags: jokowipernyataan pejabatSotar Satir
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG
Video

Afnan Malay: Membedah Hubungan Prabowo-Jokowi Setelah Pemilu dan Janji Program MBG

18 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Sejumlah titik ruas jalan rusak di Jawa Tengah (Jateng) dapat perbaikan di 2026 MOJOK.CO

Jalan Rusak di Jawa Tengah Dapat Perbaikan di 2026: Rusak Berat Diprioritaskan, Pengerjaan Dilarang Asal-asalan

5 Juni 2026
Meski tanpa sosok ayah (fatherless), tapi tidak hilang arah MOJOK.CO

Hidup Tanpa Sosok dan Peran Ayah Nyatanya Tak bikin Hilang Arah, Bisa Cari Arah Sendiri dan Malah bikin Orang Lain Iri

9 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Dhia Hana Putri Saraswati mahasiswa Umsura dan Unair. MOJOK.CO

Kena Mental Kuliah di Umsura dan Unair Sekaligus, Puluhan Kali Ingin Menyerah tapi Kuat karena Ajaran Muhammadiyah

5 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.