MOJOK.COMengamati jawaban dari populasi sampel, kata paling indah dalam bahasa Indonesia yang paling banyak disebut adalah renjana dan saujana.

Belum pernah ada survei nasional yang coba menetapkan topik ini. Itu kalau saya tak silap. Tapi pastinya orang akan penasaran apa sebenarnya kata dalam bahasa Indonesia yang memperoleh suara mayoritas, dianggap paling indah.

Apa itu definisi indah akan saya lompati karena saya tak ada kompetensi soal itu, walau ada dugaan saya ini perkara bunyi. Kalau saya ditanya, saya dulu kurang suka dengan kata seperti banowati (‘wanita yang bercahaya seperti sinar matahari’) atau kajol (‘mata yang indah’) yang membuat saya susah sekali membayangkan, pemilik nama dengan kata tersebut cantiknya bukan main. Bau-baunya ini gegara “o” di tengah yang identik dengan kata-kata tak enak di bahasa Indonesia ataupun bahasa Jawa. Tapi kalau disodori kata olenka (‘suci, teberkati’), kok terdengar cantik.

Pada 1 September 2019 Ivan Lanin pernah menanyakan apa kata paling indah dalam bahasa Indonesia di Twitter. Jawabannya menarik dan akan saya jadikan rujukan sekaligus sampel dalam tulisan ini.

Menurut empunya twit, ini daftar kata-kata indah dalam bahasa Indonesia. Arti-artinya saya ringkaskan dari KBBI.

  • senandika: suara batin
  • dersik: bunyi angin
  • niscaya: pasti
  • kelindan: benang yang berpilin; penggulung benang
  • lindap: redup, mendung, teduh

Penyair Aan Mansyur ikut menyaut. Saya sebut penyair artinya pantas disimak. Ia menjawab, “Saya suka kata ‘baca’. huruf-huruf penyusunnya adalah tiga huruf pertama. a, b, c. […] Saya pikir penemu kata ‘baca’ jenius, kata itu pada saat bersamaan memang mengajari kita mengeja, mengenal huruf.” Kontemplatif sekali.

Sedangkan akun Bude Sumiyati mengeluarkan kata andalannya, cilukba. Baik, jawaban yang lumayan orisinil. Pesohor lain yang menyetor daftar adalah jurnalis-sastrawan Linda Christanty yang mengajukan rahim.

Bukan pesohor tapi jawabannya mindblowing adalah akun @pritiktanya yang menyukai kata tinggal dengan alasan “Karena bisa berarti dua dalam bahasa Inggris: Stay and leave.” Saya kurang jelas kenapa dia harus menyeberangkan artinya ke bahasa Inggris sementara di bahasa Indonesia pun artinya sama. Twit ini kemudian disamber akun @dwnt yang ujarannya berikut patut kita renungkan: “So does ‘sayang’ means love and waste.” Saya acungi jempol keberanian mereka memilih dialog boso londo di lapak Bapak Ivan “KBBI” Lanin.

Sehabis ini saya akan kumpulkan kata-kata yang muncul di balasan twit Ivan itu, namun sebelumnya saya mau tampilkan reply akun @Aswicahyono yang informatif:

Lagu “Mahajana” Louis Hutauruk penuh kata-kata indah … mahajana, adiwarna, adikara, bijana, gemawan tapi gak ngerti artinya

Eg. (ini artinya ‘contohnya’, penulis)

Juwita, abadilah Mahajana
Meniti celah adiwarna
Telaga anggun menyibak rasa
Melawan api asmara
Hasrat celus adikara

Lalu inilah daftar kata yang saya pilih bersumber dari jawaban di twit Ivan tadi, dibariskan seolah hendak upacara, sesuai abjad.

Kata paling indah dalam bahasa Indonesia

A

  1. adarusa: orang yang minjem sesuatu tapi nggak mau balikin.
  2. aksa: jauh
  3. aksara: huruf
  4. alunan: buaian
  5. amerta: abadi
  6. arunika: nggak ada di KBBI. Artinya cahaya matahari ketika pagi dimulai, kayaknya sama dengan syafak atau fajar shadiq (hayo, tahu bedanya fajar kadzib dan fajar shadiq ngaaa).
  7. asa: harapan
  8. asmaraloka: dunia/alam cinta kasih

B

  1. baswara: nggak ada di KBBI. Artinya bercahaya.
  2. batara: dewa, raja
  3. bentala: bumi
  4. bestari: berpendidikan
  5. binar: sinar
  6. binasa: mati
  7. bumantara: angkasa
Baca juga:  Susahnya Jadi Emak-Emak Jaman Sekarang: Mulai Dari Operasi Sesar Sampai Buka Hape Suami

C

  1. candramawa: untuk menyebut warna bulu kucing campuran hitam dan putih. Mulia sekali kucing ini, sampai warna bulu pun ada kosakatanya.
  2. cakrawala: horizon, kaki langit
  3. cerpelai: musang

D

  1. derana: tabah
  2. dirgantara: segala sesuatu yang ada di atas bumi, meliputi langit dalam atmosfer sampai luar angkasa.

E

  1. elegi: syair dukacita
  2. esa: tunggal, satu

F – tidak ada

G

  1. gemercik: suara air jatuh ke air.
  2. gemerlap: kilau
  3. gemintang: susunan bintang, rasi bintang
  4. gempita: bunyi yang meriah
  5. gulana: letih
  6. gulita: gelap
  7. gundah: gelisah
  8. guru: pengajar

H

  1. hening: sunyi

I – tidak ada

  1. jatmika: sopan
  2. jenggala: hutan. Baca kata ini jadi ingat kata benggala, dari nama Benggal (Bengal) di India yang terkenal dengan sapinya.
  3. jingga: kuning kemerah-merahan
  4. jumantara: langit, udara

K

  1. kala: waktu; kalajengking; jerat; sutra; nama dewa Hindu.
  2. kanigara: bunga matahari; mahkota raja atau mahkota pengantin.
  3. karsa: kehendak, niat
  4. khalis: suci, jujur
  5. khatulistiwa: garis lintang, ekuator
  6. kidung: nyanyian, puisi
  7. kirana: sinar; cantik
  8. kirmizi: merah tua atau ungu
  9. kukila: burung
  10. kulacino: bekas air dari gelas di atas meja.
  11. kulminasi: puncak

L

  1. lazuardi: permata berwarna biru kemerahan; warna biru muda langit
  2. lembayung: nama bunga; warna merah campur ungu
  3. lengkara: mustahil; beduk, tabuh, nekara
  4. litani: doa yang diucapkan bersama-sama.
  5. lokananta: gamelan di kayangan yang bisa berbunyi sendiri.

M

  1. maharani: raja perempuan, permaisuri
  2. mahligai: bagian istana tempat tinggal raja atau putri-putri kerajaan
  3. menjura: bungkuk hormat
  4. meraki: nggak ada di KBBI. Kata Yunani, artinya melakukan sesuatu dengan cinta, kreativitas, dan sepenuh jiwa.

N

  1. nestapa: sedih
  2. nirmala: suci, tanpa cacat
  3. nirwana: surga; konsep Buddha tentang keadaan setelah mati yang telah tanpa penderitaan (sehingga tidak perlu bereinkarnasi).
  4. niskala: abstrak
  5. nuraga: simpati
  6. nyiur: kelapa

O – tidak

P

  1. pendar: cahaya yang menyebar
  2. pijar: percik api
  3. pusaka: peninggalan, warisan.
  4. puspas: campur aduk

Q – tidak ada

R

  1. ranum: matang
  2. raya: besar
  3. rembulan: bulan
  4. renjana: rasa hati yang kuat

S

  1. sabitah: bintang yang dari Bumi, posisinya tampak tetap, tak bergerak. Bintang penunjuk arah bagi nelayan.
  2. sandyakala: nggak ada di KBBI. Artinya cahaya merah saat senja. Jadi ingat kata “senjakala” di tulisan Bre Redana, mungkin artinya sama.
  3. sanubari: hati, nurani, perasaan.
  4. saujana: nggak ada di KBBI, yang denger kata ini kemungkinan besar pendengar KLa Project. Artinya sejauh mata memandang.
  5. selesa: luas
  6. simfoni: komposisi mudik yang terdiri dari empat bagian.
  7. suryakanta: kaca pembesar
  8. swastamita: nggak ada di KBBI juga. Artinya pemandangan indah saat matahari terbenam. Ini yang jawab cah senja semua apa gimana?

T

  1. taksa: ambigu, punya dua atau lebih arti.
  2. teduh: terlindung
  3. temaram: remang-remang
  4. trengginas: lincah dan terampil.

U

  1. ufuk: kaki langit, horizon.
  2. undagi: tenaga ahli
  3. ugahari: sedang, pertengahan; sederhana.

V – tidak ada

W

  1. wanodya: gadis remaja

X – hampir mustahil ada

Y – tidak ada

Z – ini juga sudah bisa ditebak, tidak ada.

Klasemen akhir: kata indah didominasi dengan awalan huruf K. Sementara kata dengan awalan huruf F, I, O, Q, V, X, Y, dan Z, dengan menyesal saya nyatakan tidak laku. Dari hasil membaca cepat balasan di twit Ivan Lanin di atas, saujana dan renjana adalah dua kata yang paling sering disebutkan.

Jika Anda cari di Google, ada dua kata di atas yang lumayan laku dicari, yakni renjana dan nuraga. Ini bukan soal indah atau tidak, kata renjana ramai dicari karena ada kaitannya dengan Almarhum Glenn Fredly, sedangkan nuraga adalah nama akhir satu keluarga penyanyi.

Kata indah menurut saya, di sekitar saya

Batasan “dalam bahasa Indonesia” ini taksa karena tolok ukurnya masak cuma sudah masuk KBBI atau belum. Jadi saya akan nyeleneh seperti beberapa orang di atas, dengan memasukkan kosakata bahasa Jawa yang terlalu sayang (dalam arti yang kedua, tengok twit di atas) untuk dilewatkan.

Baca juga:  Bedanya Dia dan Ia: Kenapa Bilang "Aku Cinta Dia", Bukan "Aku Cinta Ia"?

Saya menyukai lungkrah (Jawa, ‘capek, pegel banget’), ananta (‘tak terhingga’), garanggati (Jawa, ‘laba-laba’), kuade (Jawa, ‘pelaminan’), dan sore. Sementara pacar saya (yang salah satu alasan saya menyukainya adalah punya nama yang renyah di lidah, “Fidocia”), menunjuk nyali sebagai kata terindah dalam bahasa Indonesia.

Lalu apa relevansi mencari kata terindah? Bagi penulis so pasti untuk perkaya itu kosakata prosanya, esainya, laporan jurnalistiknya, dan terlebih, puisi gubahannya. Namun, bagi orang kebanyakan fungsi utama sebagai referensi menamai. Entah anak, hewan peliharaan, atau benda-benda personal. Dari sini saya masuk ke perkara nama paling indah. Untuk itu pula perlu kita batasi di sini bahwa kosakata indah tak cukup bagi sebuah nama, tapi secara arti juga harus bagus dan tidak “terlalu berat” untuk si penyandang nama. Bagian ini ada disinggung kemarin dengan sangat menarik oleh Gifari Juniatama di Terminal Mojok.

Buku sejarah Kelas 2 SMP bagian sejarah Singasari memberi saya “Mahisa Cempaka” dan “Ranggawuni” sebagai nama indah pertama yang tak bisa dilupakan. Nama-nama istri Raden Arjuna tak kalah cantiknya, namun favorit saya adalah Drupadi. Belakangan dua judul lagu dari Diskoria dan Maliq & D’Essentials memberi kesan mendalam, yakni serenata (‘lagu cinta’) dan “Senja Teduh Pelita” (aduh! Senja lagi!).

Di sekitar saya atau yang saya ketahui, sejumlah kenalan dan pesohor menunjukkan kreasi luar biasa mereka dalam menamai anak. Kawan saya Putri Fitria dan Muammar Fikrie menamai bocah lelaki mereka Agam (Aceh, “anak laki-laki’) Raksi (‘wangi’) Nauda (Palu, ‘hujan’). Kosakata Celebes yang tak kalah indah ada di nama teman saya Dhihram Tenrisau, dengan “Tenrisau” (‘tak terkalahkan’) diambil dari nama tokoh cerita rakyat Bugis.

Pasangan Galuh Pangestri dan Zen RS juga punya nama putra dan putri yang sangat indah, Serat Sati Dhyana dan Pilar Parrhesia. Saya tak bisa tak jatuh cinta dengan nama anak lelaki Saleh Abdullah, Saar Ailarang dan alhamdulillah sudah pernah bertemu Saar yang kini telah bujang.

Ketika membaca Menanam Padi di Langit Puthut EA, nama seniman rupa Bunga Jeruk dan almarhum kakaknya, Omi Intan Naomi, langsung mencuri perhatian. Kemudian Almarhum Ging Ginanjar, jabatan terakhir pemimpin redaksi BBC News Indonesia, punya nama khas Sunda dan enak disebut-dengar. Masih wartawan pula, saya mengagumi betapa rancak bunyi “Nezar” bersanding dengan “Patria”. Sementara dua presiden kita, Sukarno dan Jokowi, adalah bapak-bapak yang kaya kosakata ketika menamai anak-anak mereka. Cucu Sukarno, Puan Maharani, walau orangnya tak simpatik, juga punya nama elok.

Musisi dan penulis cerita anak Reda Gaudiamo bernama unik, demikian pula putrinya, Soca Sobita–walau saya kurang tahu ‘Soca’ dengan /c/ atau /k/, sama ruwetnya dengan lafal nama Johnny G. Plate (maaf, Bu Reda, jadi menyama-nyamakan dengan sang common enemy). Antropolog Darmanto Simaepa mendapat marga itu ketika tinggal delapan tahun di Pulau Siberut, dan ini marga yang indah. Sedangkan kidung yang sempat disebut di daftar di atas juga menghiasi nama putri duo novelis Eka Kurniawan dan Ratih Kumala: Kidung Kinanti. Cantik sekali.

Pungkasannya, dari jagat mancanegara saya sangat mengagumi nama sastrawan Italia, Primo Levi, dan sastrawan Ceko-Prancis, Milan Kundera. Semua nama di atas indah dan, yang terpenting, bisa dibaca. Wassalam.

BACA JUGA Nama Anak Zaman Sekarang: Susah Dieja, Susah Dibaca dan esai Prima Sulistya lainnya.