Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kisah Hidup Saya Sebagai Anak Penjual Nisan: Berumah di Kuburan hingga Bersekutu dengan Iblis

Deby Hermawan oleh Deby Hermawan
19 Juni 2024
A A
Kisah Anak Penjual Nisan yang Bersekutu dengan Iblis MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah Anak Penjual Nisan yang Bersekutu dengan Iblis. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Saya adalah anak penjual nisan di Jombang. Sebuah profesi dengan banyak stigma miring. Salah satunya bersekutu dengan iblis. Serem sih.

Jika ada profesi menyeramkan yang harus dijadikan film horor, itu adalah penjual batu nisan. Profesi menyeramkan lainnya terlalu sering muncul dalam film horor indonesia. Misalnya semacam pemandi jenazah, supir ambulance, hingga penggali kubur. 

Jadi, tolong sampaikan ke Joko Anwar atau sutradara horor tersohor lainnya. Sebagai anak penjual batu nisan dan kijing, saya cukup iri. Bagaimana tidak, stigma yang melekat tidak kalah menyeramkan dibanding profesi lainnya.

Selama hidup, stigma sosial sebagai anak penjual batu nisan tidak bisa dipisahkan. Tanpa malu saya mengakui bahwa saya dibesarkan dari berjualan batu nisan dan kijing. Barang-barang yang dianggap menyeramkan dan lekat dengan kematian. 

Selayak penjual lainnya, rumah saya dikelilingi barang dagangan tentunya. Namun, yang mengelilingi rumah saya adalah batu kijing dengan berbagai macam. Mulai harga ratusan ribu hingga jutaan rupiah.

Hidup bersama stigma sebagai anak penjual batu nisan dan kijing

Jika anak kecil bisa membanggakan pekerjaan orang tuanya, saya tentu sebaliknya. Jika anak kecil bisa dengan gagah berkata. “Tak laporin ayahku yang polisi, loh!” atau “Tak laporin ayahku, loh! Ayahku presiden!” aduuuhhhh. Bayangkan jika saya berkata seperti itu. “Tak laporin ayahku, loh! Biar kamu dipendem batu nisan.” Bisa runyam masalahnya. Bisa-bisa jadi kasus dan saya tidak punya teman.

Beranjak dewasa, seperti bayang-bayang, stigma itu terus mengikuti. Seorang teman pernah memberitahu saya bahwa ada teman kami yang ketakutan saat main ke rumah saya. Saya tentu paham, apa yang dia takutkan. Karena cuma satu alasan paling logis, saya dianggap tinggal di kuburan. Sedikit berlebihan sih, tapi memang begitu kenyataannya.

Seumur hidup saya tinggal di rumah yang dikelilingi batu kijing, tapi tidak ada seram-seramnya. Tidak ada gangguan dari makhluk halus atau iblis yang saya temui. 

Toh, ini hanya sekadar batu biasa, bukan batu yang dikasih jimat atau semacamnya. Satu-satunya yang seram adalah saat tidak laku. Ya apalagi yang seram dari penjual yang dagangannya tidak laku? Dapur tidak bisa ngebul. Kalau yang ngebul batu kijing, nah itu baru agak horor. 

Banyak orang meninggal = rezeki lancar?

Selama saya hidup sebagai anak penjual batu nisan dan kijing, ada satu pertanyaan yang menyebalkan: 

“Kalau banyak orang meninggal, keluargamu jadi banyak rejeki dong?” 

Sungguh pertanyaan semacam ini sudah sering sekali saya dengar. Tanpa harus mencatat jumlahnya, saya yakin, pertanyaan itu muncul lebih banyak dari jumlah umur saya sekarang. Demi Tuhan, saya sudah muak menjelaskan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Saya akan menjelaskannya tanpa kalian harus menanyakannya. Tidak ada hubungannya orang meninggal dengan rezeki keluarga saya. Jika ada, mungkin skalanya akan kecil sekali. 

Bahkan di daerah tempat saya, beberapa desa sudah menyiapkan batu nisan untuk proses pemakaman. Jika nantinya ingin dilakukan proses renovasi makam, itu tidak bisa dilakukan dengan cepat. Biasanya proses penggantian batu nisan dengan batu kijing yang lebih besar dilakukan setelah melewati 1.000 hari. Itu saja tidak semua makam bisa dibangun batu kijing di atas makamnya.

Iklan

Saya harap kalian bisa paham dengan jawaban saya. Jadi jika kalian bertemu dengan saya atau anak penjual nisan lain, tidak perlu basa-basi dengan pertanyaan konyol semacam itu lagi.

Keluarga saya bersekutu dengan iblis?

Ada pengalaman paling aneh muncul dari teman saya. Saat itu, saya masih duduk di bangku SMA. 

Saya masih ingat betul saat teman saya tiba-tiba menanyakan apakah keluarga saya bersekutu dengan iblis. Awalnya itu hanya gurauan semata. Setelah saya melihat wajahnya, dia mengatakannya dengan ekspresi yang cukup serius. 

Perkara jualan batu nisan dan kijing, rumah yang dikelilingi batu kijing, keluarga saya dicap sebagai penganut satanis. Dengan pelan-pelan saya menjelaskan bahwa ini hanya jualan. Saya memastikan tidak ada ruang khusus untuk pemujaan dan gambar pentagram di lantai rumah saya.

Tidak ada juga ritual dengan lilin merah atau gambar kepala kambing menempel. Sepertinya teman saya terlalu banyak menelan teori konspirasi. Hingga temannya dianggap satanis. Kalau keluarga saya satanis, kenapa saya tidak tajir seperti cerita-cerita konspirasi lainnya? Ah, sial!

Seperti halnya bisnis lain, penjual nisan juga memiliki tantangan

Meskipun terlihat menakutkan, bisnis batu nisan dan kijing sama seperti bisnis-bisnis lainnya. Sependek umur saya, ada beberapa tantangan yang bisa menyelamatkan bisnis keluarga ini. Maklum, jual batu nisan dan kijing merupakan bisnis warisan kakek dari garis keturunan ibu saya.

Tantangan yang harus dihadapi adalah larangan pembangunan batu kijing. Di beberapa makam, terpampang dengan besar larangan mengkijing makam. Tentu sebagai anak penjual nisan dan batu kijing, ini sebuah masalah yang besar.

Tidak patah arang, dengan prinsip selagi masih orang indonesia, semuanya bisa dilobi. Solusi yang diberikan adalah membangun makam saat malam hari. Inilah satu-satunya hal horor yang terjadi kepada anak penjual nisan dan kijing seperti keluarga saya. 

Selain kucing-kucingan dengan perangkat desa, kami juga kucing-kucingan dengan makhluk halus penghuni makam. Saya rasa, sudah termasuk bisnis yang ekstrem di dunia nyata maupun dunia tak kasat mata. Tantangan demi tantangan terus muncul, namun bisnis ini masih bertahan hingga sekarang… bukan karena banyak yang meninggal yaaa….

Penulis: Deby Hermawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Nasib Memaksa Tinggal di Rumah Dekat Kuburan, Sampai Ada Makam di Dapur Rumah Warga Jogja dan kisah menarik lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2024 oleh

Tags: anak penjual nisanbatu nisanIblisJombangkijingnisanrumah di kuburan
Deby Hermawan

Deby Hermawan

Bekerja kantoran setiap Senin hingga Jumat sebagai marketing di sebuah penerbitan buku. Menerbitkan 3 edisi zine digital pribadi sebagai piranti menolak gila bertajuk "Painless Killer". Saat ini sedang berusaha menerbitkan zine fisik.

Artikel Terkait

Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO
Catatan

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026
Orang Jombang iri dengan Tuban, daerah tetangga sesama plat S yang semakin gemerlap dan banyak wisata alam buat healing MOJOK.CO
Urban

Sebagai Orang Jombang Saya Iri sama Kehidupan di Tuban, Padahal Tetangga tapi Terasa Jomplang

12 Maret 2026
Kalau Bobby di Buku Karya Aurelie Mooremans Iblis, Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia MOJOK.CO
Esai

Broken Strings Karya Aurelie Moeremans: Kalau Bobby Iblis Kita Tenang. Masalahnya, Dia Manusia

21 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO
Catatan

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

pabrik semen, pracimantoro, wonogiri.MOJOK.CO

Babak Baru Perlawanan Warga Wonogiri Tolak Pabrik Semen di Pracimantoro, Bawa Ancaman Karst Gunungsewu ke Markas UNESCO

9 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.