Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

Subkhi Ridho oleh Subkhi Ridho
15 Mei 2026
A A
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Ilustrasi Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gantangan adalah ruang egaliter dan meritokrasi kelas bawah

Di arena gantangan, yang menentukan bukan siapa kamu di luar lapangan. Bukan seberapa kaya, bukan lulusan kampus mana, bukan karena punya koneksi siapa. Yang menentukan adalah suara burungmu. Seberapa gacor, seberapa merdu, seberapa tahan dia berkicau di bawah tekanan.

Dalam lirik disebutkan: “ra wedi ro sing bos-bos-an” (tidak takut sama yang sok bos) secara implisit mengandung muatan anti-hierarkis yang relevan secara politis. Di sini, arena gantangan menjadi ruang egaliter, ditunjukkan yang menang bukan yang paling kaya, melainkan yang burungnya paling “gacor.” Ini bukti  meritokrasi versi kelas bawah.  Dan seringkali lebih fair dari banyak arena lain di negeri ini. 

Bagian akhir lirik Banditoz Yaow 86 menutup lagu dengan kalimat yang tampak sederhana tapi bermakna besar: “aku ra golek musuh, yo ora seneng rusuh… seduluran mergo hobi, mugo berkah ngrejekeni” — aku tidak mencari musuh, persaudaraan karena hobi, semoga berkah rezekinya. 

Ini merepresentasikan solidaritas berbasis afiliasi budaya bukan kelas ekonomi formal, yang dibangun bukan dari partai politik, bukan dari alumni kampus tertentu, bukan pula ormas pemuda maupun ormas keagamaan yang terlihat makin layu mekar bunganya, tapi dari sangkar burung yang digantung berdampingan di bawah langit yang sama. 

Komunitas kicau mania membangun ikatan sosial yang melampaui perbedaan desa, pekerjaan, bahkan strata sosial. Sebuah bentuk komunitas imajiner (dalam modifikasi konsep Benedict Anderson) yang disatukan bukan oleh bangsa, melainkan oleh hobi. 

Inilah komunitas afektif, demikian istilah akademik menyebut. Dalam bahasa Bung Karno: gotong royong. Sehari-hari: mereka saling jaga karena memang nggak ada yang lain yang mau jaga mereka.

Kicau Mania bukan sekadar hobi, tapi cara bertahan hidup

Kicau Mania bukan lagu protes dalam pengertian konvensional. Tidak ada tuntutan politik eksplisit. Tapi justru di situlah kekuatannya, teks budaya yang kaya. Dengan kerangka Stuart Hall, ia merepresentasikan kelas pekerja informal sebagai subjek yang berdaulat, bukan objek belas kasihan.

Ia merepresentasikan jutaan orang Indonesia yang setiap hari bertahan hidup di luar radar kebijakan negara. Tanpa jaminan sosial yang memadai, tanpa akses ke ekonomi formal yang layak, tapi tetap membangun ekosistem, solidaritas, dan kebanggaan sendiri. Ini dalam lensa Bourdieu, ia mengafirmasi modal budaya alternatif di luar logika kapitalisme formal.

Ironis juga, sebenarnya. Sebagian pejabat dengan bangga mengaitkan lomba burung berkicau dengan ajaran tentang ekonomi kerakyatan dan gotong royong. Tapi di sisi lain, Mendag Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah untuk terus mendorong penyelenggaraan lomba burung berkicau yang lebih baik dan ramai di masa mendatang. 

Sayangnya, komitmen seremonial di panggung festival beda urusannya dengan kebijakan yang benar-benar melindungi peternak jangkrik yang gagal panen, atau pedagang burung yang modalnya habis tanpa jaring pengaman.

Kalau memang lomba burung berkicau adalah wujud nyata ekonomi kerakyatan ala para pendiri bangsa, maka pertanyaannya sederhana: mengapa ekosistem senilai hampir Rp2 triliun itu masih lebih sering jadi bahan pidato peringatan daripada subjek kebijakan yang serius dan terukur? 

Selama pertanyaan itu belum dijawab, Kicau Mania akan terus berkicau. Dengan perspektif subkultur, maka komunitas ini membangun identitas kolektif yang kohesif dan bermartabat. Dalam konteks Indonesia hari ini, lagu ini bukan sekadar hiburan. Lagu ini menjadi dokumen sosiologis tentang cara jutaan orang Indonesia bertahan, bersolidaritas, dan menemukan makna di luar narasi pembangunan yang dominan. 

Bukan karena ingin didengar negara. Tapi karena memang sudah terbiasa tidak didengar dan tetap hidup. Ndarboy Genk feat. Banditoz Yaow 86 lewat liriknya membuat mental potret kelas yang tak diperhatikan oleh negara ini semakin menyala, tetap terang meski rupiah kena jab hingga K.O oleh dollar Amerika. 

Penulis: Subkhi Ridho
Editor: Agung Purwandono

Iklan

BACA JUGA Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh dan tulisan Esai menarik lainnya di Mojok.co

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 15 Mei 2026 oleh

Tags: burungkicau maniaNdarboyndarboy genkpilihan redaksi
Subkhi Ridho

Subkhi Ridho

Subkhi Ridho, merupakan dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan peneliti pada bidang komunikasi politik, demokrasi dan media digital, islamisme, etnografi digital.

Artikel Terkait

WNI tergabung ke GSF menuju Gaza diculik militer Israel dan renungan kegagalan pemerintah dunia hentian genosida Palestina MOJOK.CO
Aktual

Di Balik Penculikan WNI-GSF oleh Militer Israel: Sipil Berlayar karena Pemerintah Dunia Gagal Stop Genosida Palestina

19 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO
Urban

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.