PETA sebagai solusi strategis terintegrasi untuk jadikan AI teman remaja
AI memang bisa membantu mereka yang kesepian. Persoalannya, AI tidak pernah mengajarkan seseorang menghadapi penolakan, perbedaan pendapat, atau konflik yang menjadi bagian dari hubungan antarmanusia. Karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya dengan menyuruh remaja “mengurangi bermain gawai”.
Yang dibutuhkan adalah intervensi dari banyak pihak sekaligus. Saya menyebutnya sebagai pendekatan PETA: Perlindungan, Edukasi, Teknis, dan Aktivasi sosial.
Perlindungan Hukum Komprehensif (P)
Penerapan aturan hukum telah dilakukan oleh pemerintah California melalui Companion Chatbots Act atau S.B. 243 mulai pada 1 Januari 2026 lalu. Regulasi ini mewajibkan notifikasi berkala bahwa pengguna berinteraksi dengan AI, melarang konten seksual untuk anak di bawah umur, verifikasi ketat usia pengguna, dan mewajibkan protokol respons krisis bagi pengguna berpikiran bunuh diri.
Edukasi Literasi Digital (E)
Kita dapat mengadopsi model kurikulum Cyber Wellness Singapura yang melatih anak bersikap kritis terhadap manipulasi algoritma sejak dini. Keberhasilan sistem ini bergantung penuh pada sinkronisasi antara Kementerian Pendidikan selaku pembuat regulasi, guru di sekolah, serta orang tua yang wajib menerapkan batas kontrol gawai di rumah.
Di Indonesia sendiri, upaya serupa sebenarnya telah diinisiasi melalui gerakan nasional seperti Siberkreasi. Namun, program tersebut masih belum terintegrasi secara struktural ke dalam kurikulum wajib sekolah dan belum menyediakan sistem kontrol digital yang menyatukan peran aktif orang tua dan sekolah.
Teknis Intervensi Fitur Pengembang (T)
Regulasi hukum diperkuat dengan tanggung jawab pengembang mengintegrasikan fitur “Reality Nudge”. Bukan sekadar usage timer otomatis, fitur ini mendorong pengguna untuk kembali ke dunia nyata melalui pengingat istirahat dan saran aktivitas fisik, untuk mencegah ketergantungan emosional.
Pihak pengembang juga wajib memberikan transparansi pengolahan data pengguna agar ruang digital ini tidak disalahgunakan menjadi alat monetisasi emosi yang manipulatif.
Aktivasi Sosial (A)
Memahami bahwa alasan utama remaja berpaling pada AI adalah pencarian ruang aman dan pelarian dari kecemasan sosial, maka aktivasi ini berfokus pada penyediaan ruang diskusi aktif secara tatap muka. Ruang ini dapat dirancang dalam bentuk komunitas sebaya yang dinamakan “The Unplugged Sanctuary”.
Solusi ini disusun berdasarkan studi riset di Jabodetabek yang menunjukkan bahwa rasa memiliki dalam komunitas penggemar justru mengurangi ketergantungan emosional remaja pada AI.
Mekanisme operasional aktivasi sosial ini bekerja melalui tiga tahapan sistematis yang dijalankan secara konsisten pada lingkungan kampus dan komunitas tempat ibadah. Pertama, The 90-Minute Digital Detox Pact, yaitu komitmen kelompok mengunci gawai dalam kotak selama 90 menit untuk memutus distraksi digital.
Kedua, Vulnerability Circle, yaitu ruang refleksi di mana remaja dilatih mendengarkan tanpa interupsi, dan bertukar cerita kecemasan sosial mereka. Ketiga, Conflict Simulation Roleplay, di mana mereka diposisikan dalam simulasi konflik hubungan dunia nyata, lalu dituntun untuk mencari solusi dua arah.
AI bukan teman curhat yang sesungguhnya
Saya pernah mencoba cara sederhana bersama beberapa rekan di komunitas gereja. Kami mempertemukan remaja yang memiliki minat serupa, menemani mereka mengobrol hingga akhirnya akrab. Setelah itu kami mundur perlahan dan membiarkan mereka membangun hubungan sendiri.
Hasilnya cukup mengejutkan. Mereka mulai lebih sering bertemu, pergi bersama, dan berbincang tanpa terus-menerus menatap ponsel. Ketika menemukan teman yang benar-benar mendengar mereka, AI kembali menjadi sekadar alat hiburan, bukan pengganti hubungan manusia.
Pengalaman itu membuat saya sadar bahwa yang dicari remaja sebenarnya bukan kecanggihan AI. Mereka hanya ingin didengar. Masalahnya, algoritma selalu punya waktu untuk mendengarkan, sementara manusia sering kali terlalu sibuk. Di situlah AI menemukan celahnya.
Pada akhirnya, AI companion adalah anestesi digital. Ia meredakan rasa sakit untuk sementara, tetapi tidak menyembuhkan akar kesepian yang membuat remaja berpaling dari hubungan nyata.
Melalui strategi PETA, kita tidak sedang menolak kemajuan teknologi, melainkan memastikan AI tetap menjadi alat yang membantu manusia, bukan menggantikan manusia. Sebab ketika algoritma menjadi satu-satunya tempat remaja merasa didengar, yang hilang bukan sekadar percakapan, melainkan kemampuan mereka untuk membangun hubungan yang autentik.
Jangan biarkan layar ponsel menjadi satu-satunya tempat remaja untuk curhat dan merasa didengar, sementara dunia nyata perlahan kehilangan suaranya.
Penulis: Caroline Noel Amaris Purnomo
Editor: Agung Purwandono
*) Tulisan ini merupakan Juara III Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026. Naskah telah disunting oleh redaksi Mojok.co tanpa mengubah gagasan utama penulis.
BACA JUGA Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan dan tulisan menarik lainnya di Esai Mojok.co














