Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Sebuah Hotel dan Kedai Kopi Di Depannya

Puthut EA oleh Puthut EA
5 Juni 2018
A A
laut
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa tahun lalu ketika masih sering pergi ke Jakarta, saya punya hotel langganan. Hotel itu memang agak mahal untuk ukuran kantong saya. Tapi saya butuh kenyamanan karena mesti bekerja.

Rata-rata saya menginap di hotel itu antara 5 sampai 10 hari dalam sebulan. Ada beberapa alasan kenapa saya memilih hotel tersebut.

Pertama, letaknya strategis. Selama di Jakarta, saya mesti pergi ke kantor di mana saya dikontrak kerja sebagai konsultannya, dan saya mesti pergi ke kantor lain yang juga sedang membutuhkan tenaga saya. Letak hotel itu nyaris persis berada di tengah kedua kantor tersebut.

Kedua, walau lumayan mahal, tapi kamarnya boleh untuk merokok dan agak luas. Sehingga kalau ada teman dekat datang, kami tak perlu ngobrol di lobi hotel yang sempit atau di restonya yang jam 24.00 sudah tutup itu.

Ketiga, makanan hotel itu enak sekali. Terutama untuk menu sup iganya. Memang harganya saat itu juga cukup mahal, berkisar 80 ribu per mangkuk. Tapi kalau saya bekerja cukup keras bolehlah menghadiahi diri dengan makanan agak mahal ini. Makanan ini juga selalu saya santap jika kedatangan tamu seorang atau dua orang kawan.

Keempat, persis di depan hotel ini, ada sebuah kedai kopi tua yang cukup luas, kopinya enak, penganannya enak, boleh merokok, dan harga makanan dan minumannya cukup murah untuk sebuah kedai di Jakarta. Asyik.

Maka tak jarang jika sedang tak ada kegiatan, saya mengundang ngobrol teman-teman saya di sana. Kadang dari pagi sampai malam. Teman-teman berdatangan. Serombongan teman datang lalu digantikan serombongan yang lain. Begitu terus. Silaturahmi bagi saya adalah hal yang penting.

Sebetulnya pokok cerita saya ada di kedai itu. Saya sangat menikmati suasana di kedai itu. Ramai. Penuh tawa. Orang yang datang beragam. Tapi tidak saling mengganggu. Pemiliknya, atau mungkin pengurusnya, seorang laki-laki tua yang kadang mengenakan tongkat. Rokok tak pernah berhenti terselip di jarinya.

Seorang kawan saya, almarhum Pemuda Arie, begitu saya ajak ngopi di sana langsung tertawa. Kenapa, tanya saya.

Menurutnya, tempat itu adalah tempat nongkrongnya broker politik, pencari proyek politik, dan aktivis kedaluwarsa. Saya pun terheran-heran. Semenjak itu, saya jadi punya agenda ‘jahat’ jika ke sana, yakni nguping obrolan orang.

Sebetulnya itu usaha yang boleh dibilang tak perlu keras benar, sebab rata-rata orang-orang bicara dengan suara keras seakan semua orang ingin suaranya didengarkan oleh seluruh ruangan. 

Saat itu pemerintahan SBY sedang berkuasa. Yang saya merasa aneh, di satu meja berkumpul para pengkritik SBY tapi di meja sebelahnya adalah para pembela SBY. Dan di antara mereka tidak ada yang bersitegang. Apalagi berantem. “Ya ngapain berantem, mereka kan sama-sama tahu kalau sedang sama-sama cari makan…” komentar almarhum Pemuda Arie menanggapi keheranan saya.

Dari sekian orang kawan saya yang tahu kedai kopi itu, hanya Almarhum-lah yang bisa melukiskan dengan pas tentang kedai kopi itu.

“Kalau pagi,” katanya, “Orang-orang yang datang mengkritik SBY dan memuji SBY. Sementara kalau siang, obrolan berpindah ke kementerian dan elit politik.”

Iklan

Elit politik yang dimaksud bisa siapa saja. Yang terkenal maupun yang tidak terkenal. Yang baik versi mereka maupun yang dianggap bajingan.

“Lalu mereka mulai ngobrol soal proyek,” lanjut Almarhum, “Mereka akan ngomong proyek-proyek seharga miliaran rupiah. Jika sore datang, nilai proyek turun jadi ratusan juta rupiah…

“Habis Magrib, turun lagi tinggal puluhan juta rupiah. Habis Isya’ turun lagi tinggal jutaan…

“Nah ini yang menarik, Kawan Puthut,” kata Almarhum, “Begitu jam 10 atau 11 malam, orang-orang mulai pulang satu persatu sambil saling berseru: Tolong bayarin dulu ya, aku kopi 3 dan roti bakar 2!” Saya langsung ngakak mendengar itu.

“Nah, orang yang terakhir di kedai itulah yang membayar semua omong kosong teman-temannya di sepanjang hari. Jadi, yang sedang punya uang harus tahu diri dan merelakan diri terakhir kali pulang.”

Saya masih gumun dengan apa yang diceritakan oleh almarhum kawan saya itu. Saya kemudian mengamati benar apa yang terjadi di sana. Dan memang benar. Mau dari pihak pembela SBY kek, pengkritik SBY kek, orang yang tertinggal terakhir di sanalah yang membayarnya. Muka-muka mereka lencu saat harus mengeluarkan uang untuk membayar semua omong kosong yang berbaur dengan tawa sepanjang hari.

Itu semua terjadi mungkin sudah belasan tahun, sejak Habibie menjadi Presiden.

Ketika saya kemudian memutuskan pensiun dini, saya menyetop terlebih dulu pekerjaan saya di Jakarta. Yogya makin macet. Apalagi Jakarta. Saya termasuk orang yang punya toleransi rendah pada kemacetan. Saya tidak lagi harus ke Jakarta 5 sampai 10 hari dalam sebulan.

Ketika sudah agak lama tak ke Jakarta, mungkin 5 atau 6 bulan, kebetulan saya harus ke Jakarta lagi. Saya memesan hotel langganan saya itu. Dan alangkah kecewanya, ketika saya dapati kedai kopi itu rubuh. Jujur saya sedih.

Tapi satpam di depan hotel, yang mengenal dengan baik diri saya, mengatakan bahwa kedai itu hanya pindah beberapa gedung saja bersebelahan dengan hotel. Saya ke sana. Ruangannya lebih sempit, tapi semua masih sama. Masih menyenangkan.

Ketika setahun kemudian saya mesti ke Jakarta lagi, menginap di hotel yang sama, kedai kopi itu lenyap lagi. Saya bertanya kepada satpam hotel, dan dia memberi petunjuk letak kedai kopi itu. Agak jauh dari hotel tapi masih masuk akal ditempuh dengan jalan kaki. Sesampai di sana, ruangannya makin sempit. Tapi makin bersih. Hanya sudah tak ada lagi obrolan omong kosong soal politik dan proyek-proyeknya. Orang-orang itu sudah lenyap digantikan anak-anak muda yang rapi dan wangi.

Saya makin malas ke Jakarta. Saya suka mendengar orang berbual-bual. Tertawa cekakakan. Menghirup kopi dengan nikmat. Menyedot rokok dalam-dalam. Lalu ada asap keluar dari mulut ketika mereka bicara. Itu indah sekali.

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2018 oleh

Tags: hotelkedai kopipolitikproyeksby
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Tips Memulai Usaha Coffee Shop yang Tahan Disiksa Negara MOJOK.CO
Cuan

Tips Memulai Usaha dari Mantan Lulusan CPNS yang Memilih Menyiksa Diri Menjadi Pengusaha Coffee Shop

21 Juni 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
kebun sayur di kota jogja.MOJOK.CO

Cara Warga Wirobrajan Hadapi Keterbatasan Lahan: Mengubah Tembok Kampung Menjadi Kebun Sayur

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.