Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Mencoba Menyibak Misteri Di Balik Dipilihnya Sandiaga Uno

Puthut EA oleh Puthut EA
10 Agustus 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bursa capres-cawapres hampir final. Jokowi mengusung KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Sandi dipilih Prabowo sebagai pendampingnya. Dua pilihan yang agak mengejutkan publik.

Pilihan Jokowi tampaknya lebih mudah dipahami. Setidaknya karena dua alasan utama. Pertama, jelas Jokowi membutuhkan sosok ulama untuk membendung isu yang selama ini dijadikan senjata untuk menyerangnya. Kedua, para parpol merasa lebih nyaman karena MA dianggap sudah sepuh (75 tahun) sehingga sangat kecil kemungkinan mencalonkan diri jadi capres pada pilpres 2024 nanti.

Alasan yang agak membingungkan publik adalah dipilihnya Sandi untuk mendampingi Prabowo. Di luar soal isu dukungan finansial Sandi, pilihan ini terkesan ganjil. Pertama karena keduanya dari Gerindra. Jelas bagi akar rumput PAN dan PKS akan sulit untuk sepenuh hati mendukung pasangan ini. Kedua, basis pemilih keduanya sama. Jaring politik yang dibentangkan jelas tidak akan bisa melebar. Ketiga, elektabilitas Sandi sangat rendah, tidak akan banyak mengatrol elektabilitas Prabowo.

Tapi tindakan politik selalu bisa dianalisis. Persoalan jitu atau tidak, tepat atau tidak, itu bukan hal yang penting. Dalam menganalisis politik, bangunan argumenlah yang lebih diperlukan.

Saya menganggap bahwa dipilihnya Sandi ini memang produk dari ketidakmampuan Prabowo mengakomodasi kepentingan ketiga partai: Demokrat, PAN, dan PKS. PAN dan PKS sudah pasti keberatan jika Demokrat memasang AHY. Apalagi PKS sebagai koalisi strategis Gerindra yang sudah sangat teruji. Tapi Prabowo juga menyadari bahwa tidak mungkin menggaet satu dari sembilan nama yang disodorkan PKS. Elektabilitas kesembilan nama tersebut sulit dikatrol.

Jika Gerindra memaksa berpasangan dengan Demokrat saja, basis konstituen mereka sangat terbatas. Setidaknya kalau tetap dengan PKS dan PAN, Prabowo tetap berharap bisa mendapatkan limpahan suara pemilih dari golongan Islam.

Menurut saya, pilihan ini sebetulnya bukan hanya pilihan sulit, tapi derajat politiknya memang sengaja ‘diturunkan’. Bagaimana itu?

Prabowo sudah tahu kalau dia akan kalah. Tapi dia tahu kalau harus tetap maju. Sebab kalau tidak maju, suara Gerindra akan turun. Dan aturan pemilu mensyaratkan parpol atau gabungan parpol yang memenuhi syarat harus mengajukan pasangan capres-cawapres. Jadi target Prabowo jelas sudah diturunkan dari ingin memenangi pilpres menjadi Gerindra memenangi pemilu legislatif. Alasan ini pula yang membuat dia memilih Sandi. Sebab pertarungan pileg dan pilpres yang dilakukan bersamaan ini membutuhkan dana besar.

Dalam konteks itu pula, wajar jika PKS dan PAN pun menurunkan derajat politik mereka. Raihan kursi pemilu legislatif menjadi sangat penting. Terlepas dari gosip soal gelontoran uang yang dilakukan Sandi kepada dua partai ini, rasanya cukup rasional kedua partai ini bisa mendapatkan pelumas finansial dari pasangan Prabowo-Sandi.

Pertimbangan lain adalah dalam kacamata politik elektoral, tidak mungkin semua parpol yang mendukung Jokowi-MA akan mendapatkan limpahan suara politik atas pencalonan pasangan ini. PPP dan PKB akan tetap berebut suara sendiri. PDIP, Golkar, Hanura, Nasdem, Perindo, PSI, dan PKPI pun akan berebut suara. Dalam perebutan suara itu, PDIP-lah yang mungkin akan kena ‘efek ekor jas’. Perebutan suara pileg di kubu Jokowi jelas akan padat dan keras. Jokowi mungkin akan menang mudah. Tapi mungkin 4 atau 5 parpol bisa tidak lolos ambang batas perolehan suara parpol.

Faktor itulah yang sedang dibidik oleh Gerindra, PAN, dan PKS. Prabowo mungkin akan kalah mudah. Tapi perolehan suara legislatif mereka akan naik secara signifikan. Maka seandainya Demokrat bisa bersama mereka, bukan tidak mungkin keempat parpol ini bisa memenangi 50 persen lebih. Sayang, Demokrat tak berhasil dikunci.

Persoalan Demokrat memang lebih pelik. Pilihannya sangat terbatas, dan serba salah.

Nah, lalu apa keuntungan Sandi jika memang pertarungan ini dari awal akan diketahui kalah? Dia akan menjadi pimpinan penting Gerindra, dan menjadi dirigen dari dua parpol lain: PAN dan PKS.

Dengan begitu, Sandi punya dua modal penting: sorotan publik selama 9 sampai 10 bulan ke depan sebagai cawapres Prabowo, dan kepemimpinan politik oposisi yang diharapkan bisa memanen banyak kursi di parlemen. Kedua modal itulah yang menjadi roda penting baginya untuk bertarung di Pilpres 2024.

Iklan

Jadi pada pilpres 2024 nanti, kandidat terkuat bukan Anies Baswedan, AHY, Cak Imin, Romahurmuziy, atau Ridwan Kamil. Kandidat terkuatnya: Sandiaga Uno.

“Lha tapi kan Sandi keluar banyak sekali uang? Apa ya impas?” Pasti begitu pertanyaan banyak uang. Jawabannya, kalau orang sudah kaya, sangat wajar punya cita-cita seperti itu. Sama wajarnya jika kalian sudah punya sepeda motor lalu ingin punya mobil. Kedua, bisa juga keluar uang banyak, bisa juga tidak. Kok bisa? Lha sejak kemarin harga saham perusahaan-perusahaan Sandi sudah melonjak. Besar kemungkinan itu akan dinikmati dalam waktu panjang, sepanjang masa kampanye.

Begitulah kira-kira analisis saya. Anda boleh tidak sepakat, tentu saja. Tapi apa dong, analisis Anda?

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2018 oleh

Tags: CapresjokowiprabowoSandiaga Uno
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO
Esai

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026
Museum Ibu Marsinah jangan berhenti sebagai simbol, tapi negara harus serius pikirkan kesejahteraan kaum buruh MOJOK.CO
Tajuk

Museum Ibu Marsinah Jangan Berhenti sebagai Simbol, Tapi Kesejahteraan Buruh Harus Benar-benar Dipikirkan

18 Mei 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026
Pelajaran mahal setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI MOJOK.CO

Pelajaran mahal yang saya dapat setelah menjual saham ANTM lalu membeli BBRI: Saya pikir sudah berhitung dengan benar tapi pasar berpendapat lain

9 Juli 2026
Petugas Sensus Ekonomi ditolak masyarakat karena sudah sulit percaya dengan pemerintah MOJOK.CO

Yang Harus Dibenahi dari Sensus Ekonomi usai Petugas Ditolak di Mana-mana, Karena Masyarakat Makin Sulit Percaya sebab Sering Dibuat Kecewa

6 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.