Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

7 Panduan untuk Penjudi Pemula

Puthut EA oleh Puthut EA
19 Juni 2018
A A
laut
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak kecil, saya suka sekali dengan segala permainan berbentuk judi. Mungkin faktor lingkungan. Di desa saya, salah satu cara supaya diakui keberadaannya adalah dengan suka bermain judi. Tidak peduli kalah atau menang.

Saking sukanya saya dengan judi, begitu kuliah di Yogya, saya mendirikan sebuah klub judi: Jackpot Society. Sebagian pengalaman saya di sana, sudah saya tulis menjadi sebuah buku, judulnya: “Para Bajingan yang Menyenangkan”. Tentang buku itu, silakan googling saja.

Sekarang, saya hanya sesekali berjudi. Saya main remi kalau pas pulang kampung. Di Yogya, sesekali saya main samgong. Dan dua tahun sekali, saya ikut hajatan judi massal saat Piala Eropa dan Piala Dunia berlangsung secara bergantian.

Di kesempatan yang tak terlalu baik ini, saya akan memberikan semacam panduan atau kiat atau apapun itu sebutannya, buat penjudi pemula. Semoga berguna.

1. Penjudi bukan profesi

Saya pernah berpikir bahwa dengan bermain judi, seseorang bisa kaya dan hidup mewah. Saya keliru. Saya sudah bertemu puluhan penjudi hebat di Yogya, dan semua jatuh miskin karena punya anggapan yang sama dengan saya. Maka sebelum memulai berjudi, pahami bahwa penjudi bukan profesi. Paling banter, letakkanlah sebagai hobi. Atau jika sudah cukup kenyang makan asam garam perjudian, anggaplah sebagai kesenangan yang sesekali mesti dilakukan. Dengan begitu, kemenangan tak terlalu menyilaukan, dan kekalahan tak terlalu menyedihkan.

Kalau ada orang bilang: menang tidak senang, kalah tidak sedih, itu anggap saja bualan. Justru di titik itulah, daya tarik emosi perjudian.

2. Punya rencana

Penjudi yang baik harus punya perencanaan yang baik. Bagaimana itu? Saya bagi rumusan yang saya lakukan. Siapa tahu berfaedah.

Dari Piala Dunia ke Piala Eropa nanti, ada kurang-lebih 2 tahun. Saya punya tabungan khusus. Misal, selama sebulan menabung 200.000 rupiah. Itu artinya selama 2 tahun, terkumpul uang: 4.800.000. Pas di saat perhelatan, genapi jadi 5 juta. Itulah modal Anda bermain judi. Kalau kekalahan sudah melewati 5 juta, berhentilah. Penjudi yang baik bisa mengontrol diri, tahu kapan saatnya pergi.

Kalau misalnya Anda makin punya pangkat yang bagus, karier yang juga bagus, boleh saja meningkatkan ‘tabungan judi’ Anda.

Untuk hajatan Piala Dunia kali ini, saya menabung sebulan 500.000. Artinya saya punya modal 12 juta rupiah. Saya genapi jadi 15 juta rupiah. Kalau kekalahan saya sudah melewati angka 15 juta, saya harus berhenti. Saya pernah jatuh miskin karena judi. Karena itu, saya tahu bagaimana jika saya meneruskan kekalahan.

3. Manajemen perjudian

Anggaplah saya sebagai contoh. Punya uang modal judi 15 juta rupiah. Dalam Piala Dunia kali ini, misalnya, ada 30 hari pertandingan. Bagi saja menjadi dua: 15 hari. Itu artinya, dalam sehari, maksimal saya hanya boleh berjudi 1 juta rupiah. Secara teoritis, sampai final saya tetap akan bisa bermain. Secara teoritis, saya tidak mungkin kalah berturut-turut. Sebaliknya, secara teoritis pula, saya tidak bisa menang berturut-turut sampai 15 hari. Berjudilah dengan tenang. Hari masih panjang. Atur modal dengan baik.

Iklan

4. Tak perlu mabuk kemenangan

Pada Piala Eropa tahun lalu, saya pernah seminggu berturut-turut menang terus. Menang yang saya maksud di sini adalah kemenangan kumulatif. Misalnya, dalam sehari ada 3 laga. Ketiga pertandingan itu saya pasangi setiap hari. Kadang saya menang semua, kadang hanya menang 2 dan kalah 1. Itu dihitung tetap menang. Tapi saya tetap tidak lantas menaikkan angka taruhan saya secara sporadis. Sehari tetap 1 juta.

5. Naikkan angka taruhan dengan proporsional

Kalau sebuah babak selesai, dan Anda menang, atau setidaknya seri, Anda bisa menaikkan angka taruhan. Selain untuk menambah rasa deg-degan, juga karena jumlah pertandingan makin sedikit. Misalnya satu pertandingan di babak penyisihan, Anda pasangi 300 ribu rupiah. Babak selanjutnya bisa ditingkatkan menjadi 500.000 rupiah. Nanti babak selanjutnya lagi jadi 1 juta rupiah, dst. Tapi ingat, semua itu harus tetap dalam batas rasional dan proporsional.

6. Khusus laga final berbeda

Untuk laga final, saya punya kiat yang juga berbeda. Misalnya begini. Setelah saya lalui semua pertandingan, ternyata saya menang 5 juta. Jadi total modal plus kemenangan: 20 juta. Saya bisa memilih dua cara: pertama, khusus laga final hanya saya pasangi 5 juta (laba kemenangan). Tapi bisa juga saya pasangi 20 juta. Toh uang 15 juta itu memang saya tabung untuk hajatan ini. Kenapa harus saya sayangi? Pasangkan saja. Selesai.

Kalau misalnya sebelum final, saya kalah 5 juta, berarti tinggal 10 juta, uang sejumlah itu pula yang saya pasangkan. Proporsinya bisa saya bagi dua: perebutan juara ketiga 2 juta, final perebutan juara pertama: 8 juta.

7. Bagaimana kalau menang?

Saya tidak memberi makan anak-istri saya dengan uang judi. Jadi kalau saya menang, saya pakai mentaktir teman-teman, atau membeli buku, sepatu, hape, dll. Habiskan saja uang itu. Misal, modal 15 juta, menang sebelum final: 5 juta. Total: 20 juta. Dipasangkan semua di laga final. Menang lagi. Berarti: 40 juta. Bisa saja Anda habiskan semua. Jangan lupa nabung lagi untuk Piala Eropa dua tahun lagi.

Tapi bisa saja Anda sisihkan: 25 juta untuk Piala Eropa sehingga Anda tidak perlu nabung lagi. Sisanya, silakan habiskan. Saran saya, jangan kasihkan anak atau istri. Istri saya tahu kalau saya berjudi, tapi saya belum punya nyali untuk bilang, “Dik, ini duit hasil kemenangan judi…”

Oke… Itu kalau menang. Kalau kalah, rasanya tak perlu kita bahas. Kesedihan Anda hanya sebentar. Selain karena Anda penjudi, Anda sudah persiapkan semuanya dengan baik.

Menurut saya, hanya di permainan judilah, orang yang kalah bisa sombong, dan orang yang menang cukup rendah hati.

Terakhir diperbarui pada 19 Juni 2018 oleh

Tags: bolajudiPiala duniapiala eropasamgong
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO
Fragmen

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO
Fragmen

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
judi online.MOJOK.CO
Ragam

Cara Judi Online Memanipulasi Pikiran sampai Buat Angka Perceraian Meningkat

29 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah MOJOK.CO

Ketika Militer Masuk Sekolah: Mengobati Gejala, Melupakan Akar Masalah

8 Juli 2026
Dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum, Najwa Shihab berpesan pada para mahasiswa penerima Djarum Beasiswa Plus agar terus menulis (esai) apapun profesinya MOJOK.CO

Pesan untuk Gen Z: Menulislah Apapun Kelak Profesinya, Tak Lupa Akar di Manapun Posisinya

7 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
spmb 2025, zonasi.MOJOK.CO

Ketika SPMB Berubah Jadi Pasar Gelap Kursi Sekolah

6 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.