Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kenapa Tak Perlu-perlu Amat Punya Pacar atau Jadi Anak Persma

Sriwulan Wahyu Pertiwi oleh Sriwulan Wahyu Pertiwi
21 November 2014
A A
Kenapa Tak Perlu-perlu Amat Punya Pacar atau Jadi Anak Persma
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook
Menjawab tulisan dari Mbak Indri di Pekan Penulis Perempuan Mojok, saya selaku mahasiswi yang gak rajin-rajin amat jadi anggota di sebuah lembaga kemahasiswaan—dalam hal ini Persma—menyatakan, bahwa kadar kemerdekaan seluruh mahasiswa jomblo, tak melulu ditentukan dengan punya pacar atau nikah sama Anak Persma. Hidup adalah pilihan, mungkin Mbak Indri sudah merasakan kebahagian memiliki pacar Anak Persma, tapi saya? Hah, tentu tidak!  (Tolong kasih backsound suara-suara misteri, ya.)

Kuliah saya cuma dua semester. Saya keluar kuliah bukan karena terjerembab dalam lubang hitam narkoba atau pergaulan bebas, atau karena saking sedihnya gak punya pacar. Eh, apa? Saya gak punya pacar? Helooooow. Yang pada jomblo, gak usah sewot gitu kali, selo aja selo. Jadi gini, pada suatu malam, saya didatangi seorang Aki-aki dan ia berbicara, “Ai sia, belegug atau kumaha sih? Elu tuh udah gak cocok ngurusin simplisia kering sama muyerin obat. Kasian pasien lu, sembuh kagak, mati iya.” Singkat cerita, saya keluar dari nguli farmasi.

Saya memang belum pernah resmi jadi anggota ekskul-ekskul keren macem Persma, Mapala, Rohis, Arung Jeram, Pramuka, Paskibra, Karate, Marching Band, Kelompok Memasak Anak Muda, Persatuan Pemudi Penggila Ariel Noah, Badan Perencana Untuk Memaksa Mz Phutut EA Mengkonfirmasi Fesbuk Akuh dan sebagainya, dan sebagainya. Tapi saya punya kakak perempuan yang patut dijadikan contoh jika tahun depan saya jadi meneruskan kuliah lagi, tentu bukan di farmasi.

Mari samarkan nama Kakak saya menjadi Teteh. Iya, saya biasa memanggilnya Teteh. Si Teteh Akuh ini, dari jaman sekolah TK Aisyah hingga ia jadi lulusan UNY, punya banyak sekali teman yang sangat beragam bobot-bibit-bebetnya. Dan saya gemar memperhatikan apa-apa yang membuat Si Teteh disenangi oleh banyak orang. Kamu tahu apa koentji-nya?

Jadilah Independen!

Independen di sini, bukannya kamu malah jadi pemurung yang gemar kemana-mana sendirian, atau momotoran sampai ke Ujung Pandang dengan berbagai atribut geng motor di seluruh pakaian yang kau buat sendiri agar dirimu senang. Bukan, bukan itu. Tapi kalo kamu mau yang itu juga gak apa, bukan urusan saya. Kalo nanti saya kuliah lagi, saya akan masuki semua ekskul yang ada, sampe modar juga gak apalah, atau kalo pun gak mampu karena saya hanya manusia biasa, palingan saya akan sekedar nongkrong sama mereka, ngopi-ngopi di warkop deket kampus, ngobrolin hal yang gak penting, ikut ngecengin cewek seksi yang lewat. Dan memang seperti itulah hubungan pertemanan saya dengan banyak teman lelaki saya sekarang.

Balik lagi, kenapa kita mesti berekspansi ke semua ekskul yang ada. Saya punya beberapa alasan yang telah dipadatkan dari beratus lembar penelitian yang saya lakukan selama kira-kira 43.200 detik lamanya. Dan di daftar ini, Anak Persma hanyalah remah-remah rempeyek.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Band

Saya sudah jutaan kali meyakinkan diri, bahwa banyak sekali perempuan di luar sana, yang terpesona dengan gagahnya laki-laki di atas panggung, terlebih ia yang berdiri di barisan paling depan. Sebut saja Jim Morisson atau John Lennon atau Morissey atau Mick Jagger. Siapa yang tak tergila-gila pada mereka?

Meski ya, tak semua penyanyi laki-laki bisa semenggiurkan mereka. Tapi lihatlah, bahkan Bung Rhoma Irama pun sudah membuktikan kualitasya sebagai vokalis andalan, terbukti anaknya bertebaran dimana-mana.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Rohis

Seperti yang dibilang Mbak Indri, menjadi anak rohis adalah pilihan praktis bagi mereka yang ingin menenangkan orangtuanya. Atau jika orangtuamu adalah jenis orangtua pendapatnya tak bisa diganggu gugat, lalu, kau bisa apa? Kawin lari, hah? Astagfirullah. Lagian, Nak, membaca ayat-ayat suci juga bisa membuatmu cerdas, lho.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Tata Boga

Ini adalah solusi bagi kalian para perempuan, termasuk saya, yang tak pandai-pandai amat masak kecuali masak Indomie. Selain daripada itu, tiap hari kamu dijamin gak bakal pernah kelaparan. Kalo gak ada duit buat bayar kosan, tinggal suruh pacarmu itu masak dan makanannya kamu jual di kampus. Luar biasa brilian.

Bahagianya Pacaran Sama Anak Mapala

Iklan

Ya, ya, ya. Si Teteh itu anak Mapala sejati yang pada akhirnya mengenalkan saya pada adik tingkatnya, untuk jadi pacar saya sekarang. Kau bisa bayangkan betapa so sweet-nya pacaran di gunung. Telinga kami disumpal lagu yang sama, misal saja lagunya Eddie Vedder, sembari tangan saling menggenggam erat.

Bukannya pengen bikin kalian muntah, tapi emang mesti gitu. Kalo saya jatuh ke jurang, apa kagak digorok itu pacar saya sama Si Bapak? Pas di puncak juga kalian tetep bisa baca novel kesukaan, minimal biar dikata kayak Soe Hok Gie gitulah.

Intinya, kalo saya sih gak perlu banget jadi anggota salah satu ekskul yang pilhannya segitu banyak. Intinya, bertemanlah tanpa peduli ‘elo anak mana, emang?’. Karena saat saya punya teman yang beragam, kita punya banyak pilihan untuk menentukan gebetan. Ini strategi yang saya rahasiakan sebenarnya, tapi yaudahlah, demi Mojok.co yang lebih adil, makmur dan berperikemanusiaan, saya bocorkan saja rahasianya.

Segitu dulu tips en trik dari saya. Mau diaplikasikan dalam kehidupan boleh saja, enggak juga gak apa. Da aku mah apa atuh, hanya butiran belek di pojokan matamu.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2021 oleh

Tags: jombloKampusPersma
Sriwulan Wahyu Pertiwi

Sriwulan Wahyu Pertiwi

Artikel Terkait

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO
Esai

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Dating apps jadi pelarian menemukan pasangan untuk memulai hubungan baru
Lipsus

Mencari Kasih Sayang Semu di Dating Apps, Pelarian dari Kesepian dan Rasa Minder usai Sering Dikecewakan di Dunia Nyata

13 Februari 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Urban

Sesal Kerja Jadi Wartawan, Label Profesi Keren tapi Realitasnya Jadi Gembel dan Simbol Anak Gagal di Keluarga

10 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.