MOJOK.CO – Bencana seperti Karhutla Kalimantan membuat kita bertanya: kelak, apakah anak cucu masih mewarisi hutan dan udara bersih, atau hanya asap, abu, dan permohonan maaf yang terlambat?
Saat tulisan ini saya ketik, kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Kalimantan yang dan NTT yang dilanda gempa hebat dan ratusan gempa susulan belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Pun per tulisan ini diketik, belum juga ada permohonan maaf yang diucapkan oleh pihak istana melalui jubirnya atau bahkan pemimpinnya.
Agaknya, poin nomor dua sangat sulit terlaksana. Sebab, entah apa yang ada di kepala pihak-pihak istana, meminta maaf seakan adalah bukti kegagalan mereka.
Padahal, gagal atau tidaknya sistem pemerintahan, tidak usah jauh-jauh melihat seberapa banyak ia meminta maaf. Cukup dilihat dari fakta dilapangan: mosok ya mengadakan pesta di pusat kota ketika daerah lain tertimpa bencana.
Menjadi tua dan enggan meminta maaf
Saya takut sekali menjadi tua. Awalnya ketakutan itu sangat sederhana. Saya takut bertambah menyebalkan.
Namun, melihat berita-berita yang berkelindan belakangan ini, ketakutan saya menjadi tua makin bertambah-tambah. Salah satunya adalah jadi lupa bagaimana caranya meminta maaf dan mengakui kesalahan atau kegagalan.
The Death of Ivan Ilyich-nya Tolstoy seakan merangkum ketakutan saya akan hal itu. Sukses, tajir, dan bergelimang harta ketika masa jasanya Ivan Ilyich sebagai hakim, siapa yang menyangka bahwa kondisi sakitlah yang membuatnya berpikir bahwa bagaimana jika kehidupan yang selama ini ia jalani itu salah?
Dan bahkan ketika mau mati, baru ia sadari kesalahannya. Sialnya, kondisi sakit membuatnya tak bisa mengucapkan penyesalan dan permohonan maaf secara langsung.
Bukan hanya dalam sastra Rusia yang gelap, bahkan dalam tayangan sore menjelang Magrib ketika saya kecil, orang-orang yang diazab itu kesulitan meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya.
Mau minta maaf, eh tubuhnya tidak sengaja masuk ke cor-coran proyek. Bahkan lebih ekstrim lagi ketika sudah mati pun kuburannya dipenuhi dengan minyak. Tidak paham itu minyak kelapa sawit atau bukan.
Kesalahan sudah menggunung
Kesulitan-kesulitan untuk memohon maaf ketika menjelang ajal itu membuat saya percaya (bahkan sampai sekarang) bahwa meminta maaf itu sebuah seni tingkat tinggi. Sebuah keahlian yang bahkan orang paling ahli belum tentu bisa melakukannya.
Misalnya, betapa susahnya saya meminta maaf kepada Ibu saya bahwa saya salah beli pengharum ruangan yang harusnya harum apel malah harum sereh.
Satu ruangan harusnya wangi, justru seperti ada orang yang lagi dipijat karena kecetit. Sulit saya meminta maaf. Padahal saya belum tua-tua amat.
Kesalahan kecil saja membuat permohonan maaf jadi terasa berat, apalagi ketika kesalahan-kesalahan yang dilakukan itu sudah menggunung.
Membuat generasi masa depan keracunan, program pendidikan mereka dinomor duakan, pun mempersilakan mafia penghancur alam merusak masa depan anak-anak yang belum tentu nantinya mereka tahu apa itu udara segar, air jernih, orang utan bergelantungan, dan langit biru.
Karhutla Kalimantan: Kalian mati tua, kami mati menderita
Ketika anak cucu kita mulai tumbuh dan mengambil bagian di bumi yang perlahan hancur ini, ia akan bertanya pada kita—bapak ibunya—bahwa pernahkah ada kondisi lebih baik daripada ini?
Dan perlahan kita akan meneteskan air mata sebab bayangan tentang yang lebih baik pun anak cucu kita tak bisa membayangkan itu.
Karhutla Kalimantan membuat jarak pandang yang berkurang dan masker yang wajib dipakai menjadi satu-satunya pengalaman mereka dalam melihat alam di kondisi kedepannya. Kelabu, gelap, dan kata-kata “penolakan total terhadap tambang sama artinya menutup peluang memanfaatkan karunia Tuhan,” menjadi layaknya takhayul yang sulit ditertawakan karena debu-debu dan asap akan masuk ke dalam mulut.
Mungkin mereka akan tahu semua itu dalam sinema ekologi yang menangkap betapa lincahnya antelop dan mata ganas seekor singa. Pun dengan cerita-cerita Ahmad Tohari tentang rerumputan yang bergoyang dan menyimpan embun di tiap paginya.
Namun, anak cucu kita akan memasukan semua itu pada kategori cerita fantasi layaknya kita ketika menonton film-film dinosaurus atau pencarian mumi yang hilang di dalam sarkofagus.
Maka ketika mereka—anak cucu kita—bertanya siapa yang patut disalahkan, kita akan kehilangan jejak. Orang-orang itu sudah mati tua, barangkali dijadikan pahlawan nasional.
Keturunannya akan hidup di sebuah rumah mewah dengan akses yang sangat tertutup dan dijaga puluhan lelaki berbadan tegap. Atau mereka pergi ke luar negeri, entah ke Amerika atau Yordania.
Belajar meminta maaf kepada generasi selanjutnya
Yang bisa kita lakukan pada akhirnya adalah meminta maaf sebesar-besarnya pada generasi selanjutnya. Jangankan mewariskan rumah atau tanah, bahkan tanah yang tanpa ada sengketa dengan negara dan tidak memberatkan anak cucu saja sudah syukur luar biasa.
Bahkan nih ya, mewariskan cerita sial pun tak akan bisa. Sebab tantangan anak cucu kita kedepannya itu sudah berbeda levelnya.
Hama wereng yang dulu menjadi makhluk paling menyebalkan di muka bumi nyatanya tak ada apa-apanya dengan hama mafia tanah. Hama wereng mungkin bisa membuat kakek nenek saya rugi selama berbulan-bulan.
Namun, konflik agraria dengan mafia tanah bisa membuat anak cucu ketakutan selama bertahun-tahun.
Asap karena karhutla di Kalimantan, getaran di NTT, dan banjir di Aceh belum cukup untuk membuat mereka meminta maaf. Saya rasa tak perlu lagi ada bencana untuk ngetes seberapa hilang sisi kemanusiaan dalam benak mereka.
Menjadi bukti bahwa berjoget-joget pada malam hari ketika kegelapan menyelimuti NTT dan pendar api ganas memeluk Kalimantan itu sudah menjadi bukti kemanusiaan mungkin berubah jadi transaksional (mengirim bantuan artinya mereka sudah dianggap peduli dan berhasil).
Kita dalam tahap yang begitu dilematis. Kita diberi contoh nyata bahwa godaan setan itu benar-benar ada. Bahkan, godaan setan pun sudah dalam tahap improvisasi. Artinya, setan sudah tidak menggoda, manusia menjalankan sendiri seakan auto-pilot saking fasihnya berbuat batil.
Kita juga bisa melihat mereka makin tamak, makin tua, makin mirip seperti bayi tingkahnya. Namun kita akan mensyukuri satu hal bahwa anakmu, cucumu, bahkan lebih manusiawi daripada mereka.
Penulis: Gusti Aditya
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumatra Menyerupai Neraka di Bumi

















