MOJOK.CO – PKI punya alasan untuk belapati dengan Iran yang jadi sasaran imperialisme Amerika Serikat.
“Dalam situasi seperti sekarang ditanah air kita sedjarah Iran pada masa belakangan ini dapat memberi peladjaran2 jg berharga bagi kita” ~ Harian Rakjat, 12 Agustus 1955
Artikel berjudul satu kata itu, “Iran”, tak ber-byline. Tidak pula tipe sebuah reportase. Jika bukan esai dari luar dan bukan reportase, pastilah artikel itu semacam sikap redaksi.
Tetapi, sikap redaksi kali ini bukan “Editorial” yang umumnya memiliki tempat sendiri di halaman 1 dengan kolom khusus yang dibuat berbeda. Umumnya, “Editorial” itu pendek yang terdiri dari satu sampai tiga perkara berbeda-beda.
Artikel “Iran” ini muncul di halaman 2 koran resmi Partai Komunis Indonesia. Tampil tiga kolom dengan posisi eye-catching dan terpanjang dari semua yang tercetak.
Judul yang dicetak dengan kapital semua itu, saya tulis ulang lagi, “IRAN”, mencolok sendiri di antara semua berita daerah: Jepara, Palembang, Balikpapan, Tanjung Pandan, Sragen, Tegal, dan Semarang.
Dari cara PKI menempatkan “IRAN” di antara nama-nama daerah yang dikenal “di sini” menandai satu hal, “Iran” bukan sesuatu yang jauh, sesuatu yang liyan, sesuatu yang antah-berantah, sesuatu yang di luar yang biasa ditulis “Luar Negeri” atau “Berita Luar Negeri”.
Baca saja ujung paragraf pertamanya, kata “Iran” disandingkan dengan frase “berharga bagi kita”.
“Kita” menandakan sesuatu yang dekat, intim, keluarga, teman, sahabat, sekutu, sirkular, dan di sini. Bahkan, di Sulawesi, “kita” menjadi manunggal dalam “aku”, dalam “saya”. Lawannya adalah “mereka”; sesuatu yang jauh dan di sana.
Metode Teheran
Begitulah cara Partai Komunis Indonesia menempatkan Iran dengan segala harganya. PKI jelas bukan Syiah. Apalagi mendaku diri sebagai Sunni. PKI adalah Marxis-Leninis.
Apa yang disebut PKI sebagai “sedjarah Iran belakangan ini” adalah penggulingan kekuasaan pada Agustus 1953 yang dilakukan Amerika Serikat atas pemerintahan Iran yang sah dan berdaulat, Perdana Menteri Mossadegh.
Disponsori Amerika, demikian PKI mendaras sejarah politik Iran, “tentara dan polisi nasional Iran, orang2 jang dilatih oleh AS mempergunakan truk2 Amerika untuk menjerbu ke Teheran …. Dengan tank2 Sherman dan sendjata2 bikinan AS kaum militer menggulingkan Perdana Menteri Mohammed Mossadek dan kemudian mengambil oper pemerintahan. Djenderal Zahedi, bekas kepala dari polisi jang dilatih oleh AS muntjul diatas gelanggang”.
PKI ingin mengatakan bagaimana metode AS bekerja di Iran yang dibandingkan dengan saat esai ini diterbitkan Mojok tentu saja kalah jauh dan luar biasa barbarnya dan bersifat direct. Menghajar langsung dengan tangan sendiri, rudal balistik sendiri.
Di masa penggulingan Mossadegh, Amerika Serikat bermain di belakang layar selaiknya dalang. Sebut saja “Metode Teheran”.
Amerika Serikat memobilisasi kelompok sipil, menjanjikan kehidupan nirwana lebih baik untuk politisi, mendidik jenderal-jenderal, menyebarkan pertentangan, memasok logistik dan persenjataan.
Tentu saja, kudeta militer yang dirancang Washington-London itu kemudian menaikkan jenderal bonekanya menjadi dua penguasa baru: Jenderal Zahedi dan Syah Reza Pahlevi.
Lihat, sepanjang melakukan advokasi dan memastikan posisi berdiri yang tepat dan bergeming, sama sekali tak ada satu pun frase “Sunni-Syiah” yang menyertai belapati PKI atas Iran.
Sebaliknya, yang mengemuka ke atas adalah keserakahan Amerika Serikat untuk mencaplok dan mengendalikan secara total Iran demi menguasai seluruh rantai pasokan minyak sejak dari hulunya: “piala jang mau direbut: monopoli atas sumber2 minjak Timur Tengah jang merupakan enam puluh persen dari seluruh persediaan minjak diseluruh dunia kapitalis”.
Marxisme Iran
Yang menarik adalah, di tubuh Front Nasional yang dibentuk Perdana Menteri Mossadeq, terdapat partai tua beraliran Marxisme yang berdiri sejak Perang Dunia II. Yakni, Partai Tudeh. Partai ini mendaku diri juga sebagai anak-anak sejati dari rakyat Iran; guardian segala materi yang ada di bumi Iran dari penjarahan para pemburu petrodollar.
Di luar soal Sunni-Syiah yang sangat akrab di publik Indonesia dalam beberapa dekade terakhir, di Iran, sosialisme dan marxisme tumbuh subur berdampingan dengan tradisi keagamaan. Sebagaimana sejarah panjang Indonesia, agama dan marxisme bertemu di persimpangan tatkala menghadapi musuh utama bernama kolonialisme dan imperialisme.
Menjembatani Islam dan Marxisme
Bacalah biografi Ali Syariati yang sangat tebal itu. Naik turun dan pertumbukan kelompok marxis dan kelompok keagamaan berdialektika sedemikian rupa dalam beragam topik dan ideologi.
Sosok Ali Syariati yang ditulis Ali Rahmena dalam Ali Syariati: Biografi Politik Intelektual Revolusioner yang diterjemahkan dari An Islamic Utopian: A Polititical Biography of Ali Shari’ati ini adalah salah seorang intelektual Iran jebolan Universitas Sorbonne atau Université de Paris yang coba memadukan Marxisme dan Islamologi.
Salah satu semboyan masyhur dari Ali Syari’ati adalah “Mossadeq, pemimpin nasional, Khomeini, pemimpin religius”. Di Iran, ada dua kepemimpinan. “Mossadeq” atau “perdana menteri” adalah kepemimpinan politik pemerintahan harian, sementara “Khomeini” adalah kepemimpinan religius atau mullah.
Usaha menjembatani Marxisme dan Islam ini juga tampak dari caranya membagi dua “kelas”. Marxisme bertumpu pada “kelas ekonomi”: struktur sosial masyarakat terbagi-bagi berdasarkan kelas ekonomi, alat-alat produksi, materi, dan sebagainya.
Tapi jangan dilupakan, masyarakat juga–dalam struktur masyarakat Iran–religiusitas dan spiritualitas memiliki tempat yang sangat besar. Ali Syari’ati kemudian mengajukan gagasan perlunya “kelas keyakinan” dalam membaca dan menempatkan Iran di pusaran diskursus sosial.
Kelas ekonomi bertumpu pada materi, kelas keyakinan berporos pada ekspresi keagamaan. Di Iran, diksi “tuan tanah”, feodalisme”, “borjuis”, “minyak” (kelas ekonomi) berdampingan dengan diksi “mullah”, “sufisme”, “tasawuf”, “syafaat”, “syahid” (kelas keyakinan).
Dalam hal menghadapi kolonialisme dan imperialisme Amerika, dua kelompok ini bertumbukan satu dengan lainnya dalam diskursus dan sekaligus menyadari satu hal, betapa hebatnya musuh-musuh mereka.
Di luar perkara mendialogkan Sunni dan Syiah, usaha mempertemukan Marxisme dan Islam menjadi narasi panjang sendiri dalam sejarah pembangunan rumah pemikiran dan ideologi di Iran.
Kaul kemiskinan Abu Dzar
Ali Syari’ati menggunakan sejumlah istilah dan identitas tokoh dalam bahasa “kelas keyakinan” untuk membedah kolonialisme dan kediktatoran militer yang membekap Iran.
Salah satu nama yang dihidupkan adalah Abu Dzar Al-Ghifari, seorang tokoh sufi utama di masa Ali bin Abu Thalib. Abu Dzar adalah seorang yang menolak materi, peneguh “kaul kemiskinan”. Tetapi, Abu Dzar bukan si melarat pasif, melainkan kere aktif berada dalam gelombang oposisi dan kritik.
Sebagaimana kaul kemiskinan dalam konsepsi Katolik, Abu Dzar yang digandrungi mahasiswa Iran pada masa itu adalah sosok yang sangat kerap menjalani laku hidup melarat dan melepaskan semua hak kepemilikan pribadi atas harta benda.
Abu Dzar dilahirkan kembali Ali Syari’ati lewat zine dan teater sebagai Che Guevara abad 20 untuk menghancurkan rezim boneka Amerika yang disebutnya sebagai Negara Bonaparte.
Negara Bonaparte
Istilah “Negara Bonaparte” dipinjam Ali Syari’ati dari Karl Marx dan Engels dengan ciri utama suatu negara yang terputus dari kelas-kelas. Penguasanya duduk paling atas dan berkuasa absolut, terbebas dari kelas-kelas di bawahnya.
Yang menguasai “Negara Bonaparte” itu adalah kelompok Qabil dalam cerita-cerita Kitab Suci, sementara kelas-kelas yang ditindas adalah anak-cucu Habil. Qabil adalah penindas, Habil adalah tertindas. Kelompok-kelompok progresif yang mendamba fajar “Revolusi Iran” adalah barisan panjang laskar Abu Dzar.
Di mata PKI yang berperspektif materi, Qabil yang disebut Ali Syari’ati adalah penguasa boneka dan oligarki yang kemudian dalam International Oil Consortium membagi-bagi tanah milik Habil (rakyat Iran) semau-mau mereka.
Amerika Serikat mendapat 40% saham, lalu AIOC atau Anglo-Iranian Oil Company yang saat ini bernama British Petroleum Company (BP) dapat 40%.
Selebihnya, diberikan kepada Royal Dutch Shell (Inggris dan Belanda) serta maskapai Perancis bernama Compagnie Française des Pétroles (CFP) yang saat ini bermetamorfosis menjadi raksasa energi global bernama TotalEnergies.
Tidak ada untuk Iran. Tidak ada untuk Habil.
Pemuda Bandung untuk pemuda Teheran di Iran
Bukan saja tanah dan seisi-isinya diambil dan dibagi-bagi imperialisme USA sesuka-sukanya, rakyatnya pun dibunuh dan dibariskan ke dalam penjara dan disiksa sehebat-hebatnya.
Partai Tudeh Iran atau Hezb-e Tudeh-ye Iran, mengirim kawat ke semua partai komunis, termasuk PKI di Indonesia. Isi kawat itu, antara lain, “Sedjak kudeta imperialis pada tanggal 19 Agustus 1953, suatu rezim teror jang tak ada duanja telah didirikan dinegeri kami Iran”.
Headline Harian Rakjat edisi 1 November 1954 berjudul panjang “Selamatkan djiwa 600 orang patriot dan demokrat Iran! Solidaritet Internasional dari Rakjat Indonesia dapat membantu dan menjelamatkan mereka” merupakan jawaban atas kawat dari partai marxis Iran yang merupakan salah satu sekutu utama Perdana Menteri Mossadegh yang dikudeta.
Atas nama solidaritas melawan imperialisme, pemerintahan kejam dan fasistis Dewan Pemuda Rakjat Jawa Barat di Bandung menyatakan bela pati bagi delapan pemuda Iran yang dibunuh secara kejam. Berita singkat separagraf ini terselip di pojok kanan halaman depan koran PKI sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintahan yang kejam.
Surat dari Bandung bertarikh November 1954—beberapa bulan dari sebelum terbitnya deklarasi Dasasila Bandung yang monumental itu—berbunyi:
“Tindakan2 pemerintah Zahedi dengan tjampurtangan dutabesar Amerika Serikat di teheran dalam penganiajaan dan pembunuhan terhadap 8 pemuda pentjinta tanah air dan kemerdekaan itu, mendjebloskan beratus2 putra putri Iran kedalam pendjara, pembunuhan terhadap pedjuang2 Iran adalah tindakan2 teror fasis jang bertentangan dengan perikemanusiaan”.
Monster pemakan segala
Namun, mengambil Iran tidaklah cukup. Semua ingin dicaplok. Monster pemakan segala hal ini bergerak ke Yordania di tahun 1957. Berdalih membersihkan bahaya komunis, Perdana Menteri Suleiman Nabulsi yang pro-nasionalisme Arab dijatuhkan.
Dalam bahasa kawat protes Departemen Luar negeri CC PKI untuk belapati kepada Yordania, yang dilakukan politik Amerika Serikat itu adalah “untuk mengubah politik luarnegeri Jordania jang damai dan netral, memetjahbelah gerakan nasional Jordania, melikwidasi aliran patriotik dalam tentara Jordania dan menghidupkan kembali kekuatan2 reaksioner dengan tudjuan untuk memusatkan serangannja terhadap Jordania sebagai pangkalan untuk mengadakan intervensi di Siria dan untuk mengisolasi Mesir…”
Ketika PKI berseru “menjelamatkan Jordania dari intervensi imperialis adalah perdjuangan untuk kemerdekaan nasional dan untuk mendjundjung tinggi keputusan2 Konferensi Asia Afrika”, Irak dan Lebanon dalam ancaman yang sama.
Seperti halnya kepada Iran dan Yordania, PKI juga berseru-seru berada di belakang para jihadis Lebanon dan menyokong penuh Revolusi Irak pada 14 Juli 1958.
Cerita lama yang tetap baru
PKI pada tahun 1950-an dan awal 1960 menyebut peristiwa Iran di ’53 dan seterusnya itu adalah “tjerita lama jang tetap baru”, sebagaimana “negara bonaparte” itu pernah ada yang dalam sejarah Indonesia bernama “Negara Hindia Belanda” bikinan kongsi dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC.
Presiden Donald Trump yang berasal dari Partai Republik hari ini yang menggempur Iran yang dipimpin Presiden Masoud Pezeshkian dan Ayatollah Ali Khamenei adalah selamanya “tjerita lama tetap baru”. Sebagaimana dilakukan Presiden Dwight D Eisenhower yang juga dari Partai Republik atas Perdana Menteri Mossadeq yang kolab dengan Ayatollah Abol-Ghasem Kashani.
Metode Jakarta
Seperti seorang guru tua yang bijak, PKI mengeluarkan taklimat yang kita tahu juga menghabisi mereka di tahun 1965 oleh monster yang sama dengan cara “Metode Teheran”:
“Sedjarah adalah guru jang paling djujur dan objektif. Orang jang suka beladjar setjara djudjur dan objektif kepadanja tidak usah membajar uang sekolah jang terlampau mahal dalam hidup. Maka itu adalah snagat berfaedah bagi kita di Indonesia untuk beladjar dari sedjarah negara2 lain …. IRAN”.
Sementara itu, cara dan metode menghabisi PKI dan penggulingan Presiden Sukarno pada Oktober 1965 dan Maret 1967 disebut “Metode Jakarta” yang dipakai di Cile untuk menghabisi Salvador Allende pada 11 September 1973. Itu.
Penulis: Muhidin M Dahlan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Keracunan dan Histeria di Nampan Makan Warga Negara dan catatan menarik lainnya di rubrik ESAI.














