Menjadi profesor ibarat mengejar promo hidup
Dulu saya membayangkan profesor adalah manusia yang hidupnya sudah selesai dengan urusan duniawi. Ternyata setelah cukup lama hidup di lingkungan kampus, saya sadar bahwa sebagian dosen mengejar profesor supaya isi kulkas tidak terlalu menyedihkan di akhir bulan.
Di ruang dosen, obrolan tentang profesor kadang terdengar seperti percakapan orang mengejar promo hidup.
“Tunjangannya lumayan.”
“Kalau sudah profesor agak mending.”
“Bisa napas dikit.”
Kalimat-kalimat seperti itu terdengar biasa di kampus, dan semua orang mengangguk paham.
Belum lagi dunia akademik kita juga diam-diam punya kasta sosial kecil-kecilan. Ada yang bercanda soal “doktor kota” dan “doktor kabupaten”.
Doktor kota biasanya lulusan kampus yang namanya membuat orang langsung kagum bahkan sebelum membaca isi penelitiannya. Sementara doktor kabupaten sering harus menjelaskan dulu lokasi kampusnya sebelum dianggap serius. Padahal sama-sama pernah revisi.
Sama-sama pernah dimarahi pembimbing. Sama-sama pernah makan mi instan sambil memperbaiki bab empat.
Dunia akademik memang kadang lucu. Tempat yang seharusnya bicara soal ilmu pengetahuan justru sesekali masih sibuk dengan gengsi administratif dan prestise nama kampus.
Kebahagiaan kecil yang membuat dosen tetap bertahan
Namun, di tengah semua absurditas itu, anehnya banyak dosen tetap bertahan. Padahal kalau dipikir-pikir, hidup akademik sering lebih dekat dengan drama birokrasi daripada romantisme intelektual.
Tapi mungkin memang ada kebahagiaan kecil yang susah dijelaskan. Perasaan ketika mahasiswa yang dulu takut bicara akhirnya bisa presentasi dengan percaya diri.
Atau ketika anak didik yang dulu sering duduk paling belakang tiba-tiba menghubungi beberapa tahun kemudian, “Pak, saya keterima kerja.”
Ada juga kepuasan sederhana saat melihat mahasiswa mulai bisa berpikir runtut, santun saat berbeda pendapat, dan tidak gampang marah hanya karena pandangannya dibantah. Momen-momen kecil seperti itu kadang cukup untuk membuat dosen lupa sebentar pada deadline dan administrasi.
Mungkin itu sebabnya banyak dosen tetap bertahan. Karena di tengah portal error, revisi laporan, unggahan yang gagal terus, dan penghasilan yang kadang bikin napas pendek, selalu ada satu-dua mahasiswa yang membuat semuanya terasa masih layak dijalani.
Ada kebahagiaan yang memang tidak masuk slip gaji. Kebahagiaan ketika melihat anak didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Mungkin itu juga yang membuat banyak dosen tetap datang ke kelas dengan wajah tenang meski semalam baru stres memikirkan biaya publikasi. Sebab pada akhirnya, hidup dosen memang aneh. Gelar akademiknya bisa panjang. Sitasinya bisa banyak.
Teori yang diajarkan bisa rumit, tetapi sebelum nongkrong, tetap saja yang pertama dilihat adalah harga kopi di pojok kanan menu. Barangkali, itulah bentuk paling jujur dari kehidupan akademik kelas menengah di Indonesia hari ini.
Penulis: Oni Tarsani
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur dan tulisan menarik lainya di kanal Esai.














