Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
27 Mei 2026
A A
Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Ilustrasi Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gara-gara, “Ups kanda suka”, kita lupa siapa Bahlil Lahadalia

Dan, di sinilah kengerian sesungguhnya mencapai klimaksnya. Kengerian yang membuat almarhum Jean Baudrillard mungkin tersenyum sinis sambil bergumam, “Kan sudah kubilang…”

Kita dibuat seolah lupa siapa Bahlil Lahadalia di alam material. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tanda tangannya adalah restu bagi alat berat untuk mengeruk isi perut bumi.

Iklan

Sementara itu, jempol kita masih asyik menyuplai tanda hati pada bejibun video imut Kanda Bahlil. Padahal, realitas material institusi yang dia pimpin sedang bergerak tanpa ampun mengeruk isi bumi. 

Saat telinga kita dijejali lirik “Ups kanda suka”, di luar sana ada bianglala perizinan tambang dan bisnis ekstraktif lainnya.

Algoritma media sosial akhirnya sukses mengorkestrasi simulakra dengan paripurna. Ia membunuh citra seorang menteri yang memegang kendali penuh atas eksploitasi alam Indonesia, dan menggantinya dengan entitas Zayn Malik versi bolu ketan.

Dengan kata lain, sang menteri telah teralienasi dari kebijakan tambangnya sendiri di kepala audiens muda. Lagi pula, sulit sekali menuntut akuntabilitas soal lubang tambang yang menganga dari seseorang yang secara kultural sudah disepakati sebagai badut digital yang lucu.

Bekal literasi kritis untuk memahami meme

Jangan salah sangka, saya sama sekali tidak sedang mengajak siapa pun menjadi kaum puritan yang mengharamkan meme. Dalam demokrasi, kritik satire itu sah, penting, dan saya sendiri amat menikmatinya sebagai coping mechanism agar kewarasan tetap terjaga di tengah karut-marut negara ini.

Masalahnya, satire hanya akan menjadi pukulan telak jika audiensnya telah dibekali literasi kritis untuk membongkar makna tersirat (mafhum mukhalafah) di balik lelucon tersebut. Dalam Carnivalesque (karnavalesk), Mikhail Bakhtin bilang bahwa melalui parodi dan kejenakaan, rakyat menemukan ruang subversif untuk menelanjangi kesakralan dan menertawakan elitisme sang penguasa. 

Jadi secara teori, satire adalah senjata oposisi yang mematikan. Di sini, hierarki kekuasaan di ruang sosial dijungkirbalikkan. 

Tanpa literasi itu, komedi gagal menjadi alat perlawanan dan justru berbalik menjadi kepatuhan tak sadar yang melanggengkan status quo. Dan ironisnya, di titik inilah kita tampak kepayahan.

Kita bahkan masih harus berlari sangat jauh menuju garis start literasi kritis. Tak heran jika sarkasme politik berlapis tentang oligarki justru ditelan mentah-mentah sebagai keimutan Bolu Ketan yang 100% menggemaskan.

Saya sadar bahwa di era hiperrealitas, tak ada yang lebih menyeramkan dari menertawakan penguasa. Kita terlalu percaya diri bahwa sarkasme kita kebal terhadap mesin kapitalisme digital. Padahal, kita sedang asyik menari di atas genderang yang algoritmanya mereka kuasai, sementara bumi tempat kita berpijak perlahan-lahan dikeruk habis tanpa kita sadari.

Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.

Iklan

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2026 oleh

Tags: bahlilBahlil LahadaliaKanda BahlilMas Bahlil GantengMBGmemepilihan redaksi
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Warga vs Warga, Mengapa Kekerasan di Tingkat Tapal Terus Berulang?

28 Juli 2026
Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang MOJOK.CO

Tuduhan Londo Ireng di Tengah Kekerasan yang Terus Berulang

27 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.