Gara-gara, “Ups kanda suka”, kita lupa siapa Bahlil Lahadalia
Dan, di sinilah kengerian sesungguhnya mencapai klimaksnya. Kengerian yang membuat almarhum Jean Baudrillard mungkin tersenyum sinis sambil bergumam, “Kan sudah kubilang…”
Kita dibuat seolah lupa siapa Bahlil Lahadalia di alam material. Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tanda tangannya adalah restu bagi alat berat untuk mengeruk isi perut bumi.
Sementara itu, jempol kita masih asyik menyuplai tanda hati pada bejibun video imut Kanda Bahlil. Padahal, realitas material institusi yang dia pimpin sedang bergerak tanpa ampun mengeruk isi bumi.
Saat telinga kita dijejali lirik “Ups kanda suka”, di luar sana ada bianglala perizinan tambang dan bisnis ekstraktif lainnya.
Algoritma media sosial akhirnya sukses mengorkestrasi simulakra dengan paripurna. Ia membunuh citra seorang menteri yang memegang kendali penuh atas eksploitasi alam Indonesia, dan menggantinya dengan entitas Zayn Malik versi bolu ketan.
Dengan kata lain, sang menteri telah teralienasi dari kebijakan tambangnya sendiri di kepala audiens muda. Lagi pula, sulit sekali menuntut akuntabilitas soal lubang tambang yang menganga dari seseorang yang secara kultural sudah disepakati sebagai badut digital yang lucu.
Bekal literasi kritis untuk memahami meme
Jangan salah sangka, saya sama sekali tidak sedang mengajak siapa pun menjadi kaum puritan yang mengharamkan meme. Dalam demokrasi, kritik satire itu sah, penting, dan saya sendiri amat menikmatinya sebagai coping mechanism agar kewarasan tetap terjaga di tengah karut-marut negara ini.
Masalahnya, satire hanya akan menjadi pukulan telak jika audiensnya telah dibekali literasi kritis untuk membongkar makna tersirat (mafhum mukhalafah) di balik lelucon tersebut. Dalam Carnivalesque (karnavalesk), Mikhail Bakhtin bilang bahwa melalui parodi dan kejenakaan, rakyat menemukan ruang subversif untuk menelanjangi kesakralan dan menertawakan elitisme sang penguasa.
Jadi secara teori, satire adalah senjata oposisi yang mematikan. Di sini, hierarki kekuasaan di ruang sosial dijungkirbalikkan.
Tanpa literasi itu, komedi gagal menjadi alat perlawanan dan justru berbalik menjadi kepatuhan tak sadar yang melanggengkan status quo. Dan ironisnya, di titik inilah kita tampak kepayahan.
Kita bahkan masih harus berlari sangat jauh menuju garis start literasi kritis. Tak heran jika sarkasme politik berlapis tentang oligarki justru ditelan mentah-mentah sebagai keimutan Bolu Ketan yang 100% menggemaskan.
Saya sadar bahwa di era hiperrealitas, tak ada yang lebih menyeramkan dari menertawakan penguasa. Kita terlalu percaya diri bahwa sarkasme kita kebal terhadap mesin kapitalisme digital. Padahal, kita sedang asyik menari di atas genderang yang algoritmanya mereka kuasai, sementara bumi tempat kita berpijak perlahan-lahan dikeruk habis tanpa kita sadari.
Penulis: Anwar Kurniawan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh dan tulisan menarik lainnya di kanal Esai.














