Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, Rumah Kedua Saya yang Sudah Mengamalkan Pancasila Bahkan Sebelum Pancasila Lahir

Razi Andika oleh Razi Andika
17 Juni 2024
A A
Dusun Girimulyo Kulon Progo- Surga di Bukit Menoreh MOJOK.CO

Ilustrasi Dusun Girimulyo Kulon Progo- Surga di Bukit Menoreh. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi saya, Dusun Gunung Kelir Kulon Progo adalah rumah kedua setelah Lampung. Di sana, mata saya dibuka, diajarkan makna toleransi.

Pertengahan 2019 saya memutuskan untuk pergi dari Lampung, tepat dua minggu setelah wisuda. Berbekal alasan klise dan motor Honda Beat, saya dan teman bernama Gogon mengeksekusi perjalanan minim perencanaan itu. “Ingin melihat secara langsung dunia yang selama ini cuma bisa disaksikan lewat gawai.” Sok banget, lah.

Bagi saya sendiri, cara paling baik untuk membagikan pengalaman ini adalah dengan mengingat peran orang-orang baik yang kami jumpai. Perjalanan yang sama sekali tidak mulus itu akan lebih buruk kalau kisahnya cuma berputar pada kami, dua remaja pandir ini. 

Syukur, dari banyak daerah yang kami lalui, Bogor, Bandung, Cirebon, Pangalengan, Tasikmalaya, hingga Kulon Progo, memberi kesempatan lebih banyak pada kami untuk berinteraksi dengan warga setempat. Tangan hangat mereka yang memberi kami atap untuk berteduh, juga membagikan ilmu penting untuk dibawa pulang. 

Dan Kulon Progo, jadi tempat terakhir untuk saya dan Gogon sebelum kami menjalani petualangan masing-masing setelahnya. Tepatnya di Kecamatan Girimulyo, sebuah kecamatan yang berisikan desa-desa eksotis di Perbukitan Menoreh, kami bersandar sejenak. Salah satunya adalah Dusun Gunung Kelir, Kulon Progo.

Dari Jogja, menuju Waduk Sermo

Di penghujung 2019 itu, kami berangkat dari Jogja menuju Waduk Sermo. Setelah berdiam diri cukup lama di kota, kami mencari spot yang cocok untuk mendirikan tenda. 

Kebetulan, wisata alam satu ini sudah lama masuk daftar untuk dikunjungi dan waktu itu hujan masih jarang turun. Dua hari kami tidur di tenda single layer sambil berharap langit tetap cerah. 

Sebab, jangankan hujan, embun dini hari saja sudah cukup membuat tenda murahan yang kami gunakan basah kuyup. Harapan terkabul, semesta mendukung kami, tapi tidak dengan banyak petani yang lahannya kekeringan. Kemarau tahun itu memang lebih panjang dari biasanya.

Langit masih cerah saat kami memutuskan untuk bertolak ke lokasi berikutnya. Gogon mengarahkan tujuan ke arah Kalibiru, sebelum bertolak ke Dusun Gunung Kelir Kulon Progo.

Sejenak di Kalibiru

“Di sekitaran sana banyak bukit-bukit bagus, kita bisa bentang hammock aja kalau nggak hujan.” Berlagak seperti orang yang bisa memprediksi cuaca dan paham dengan alam liar, saya mengiyakan ajakannya. 

Kami menyusuri jalur alternatif kabupaten. Jalanan berliku dan tanjakan curam mendominasi. Dari Jalan Lingkar Sermo, kami masuk ke Jalan Tegalsari-Klepu. Setengah jam yang berat untuk Honda Beat tua yang telah menempuh perjalanan panjang dari Lampung. 

Sampai di sekitar Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, kami lalu jalan ke arah Kalibiru. Di sana, kami menemukan bukit kecil yang bisa didaki dalam waktu lima menit. Di puncaknya banyak bambu bekas pondok-pondok wisata berserakan. 

Bukit ini ternyata pernah coba dikelola warga, namun sepi pengunjung. Hari sudah menuju gelap saat itu. Ketika sedang mencari tempat yang cocok untuk memarkirkan motor, pandangan saya langsung tertuju pada rumah di bukit sebelah.

Awal perkenalan dengan warga dusun

Lampu terasnya menyala, tanda ada penghuni di dalamnya. Terdapat rak bensin eceran dan di dinding rumahnya tertulis ”Jual Wedang”. Seorang bapak umur 50an membuka pintu sesaat Gogon mengetuk. Kami izin menitipkan motor di rumahnya sekaligus memesan dua gelas wedang jahe. 

Iklan

Setelah menitipkan motor, kami kembali ke bukit kecil tadi. Kami mengikat hammock di pohon-pohon sisi selatan bukit, tanpa memprediksi angin berembus dari arah utara. Dengan api yang menyala semalaman dan segelas wedang jahe, malam itu kami lalui dengan suhu udara yang cukup nyaman. 

Gogon bangun lebih pagi untuk mengembalikan gelas wedang jahe ke pemiliknya. Kali ini dia bertemu dengan ibu, penghuni rumah yang sama. Setelah ngobrol cukup panjang, Gogon kembali ke perkemahan kami dengan wajah semringah. 

“Kita boleh tidur di rumahnya,” kata dia sambil membangunkan saya yang masih bergantung di hammock. 

Baca halaman selanjutnya: Dusun yang memberi makna terbaik kepada kata “toleransi”

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2024 oleh

Tags: Dusun Gunung KelirDusun Gunung Kelir Kulon ProgoHonda BeatJogjaKulon ProgoLampungsleman
Razi Andika

Razi Andika

Sering masuk angin.

Artikel Terkait

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO
Esai

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
ilustrasi sepeda klaten.MOJOK.CO
Eksplor

Belajar Makna “Paseduluran” dari Penjual Onthel Lawas yang Sudah Tiga Dekade Hidup dari Pit Kebo

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama
Pojokan

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Memori 20 tahun gempa Jogja di SMAN 1 Kalasan: tak ingin wariskan trauma dan ketakutan MOJOK.CO
Eksplor

Memori 20 Tahun Gempa Jogja di Kalasan: Rumah Ambrol hingga Jeritan di Jalanan, Trauma yang Tak Ingin Diwariskan ke Generasi Sekarang

23 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) perlu menghidupkan kembali adab yang selama ini menjadi ciri khas pesantren, tidak cukup perbaikan sistem MOJOK.CO

NU Perlu Hidupkan Tata Krama Organisasi di Tengah Dinamika yang Semakin Kompleks, Perbaikan Sistem Saja Tak Cukup

7 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Tren kalcer dan monopoli olahraga bikin gowes (bersepeda) jadi terlalu ambisius MOJOK.CO

Tren Kalcer dan Monopoli Olahraga bikin Gowes Jadi Terlalu Ambisius, Mau Sekadar Bersepeda tapi Malu Dicap Cupu

3 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.