Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, Rumah Kedua Saya yang Sudah Mengamalkan Pancasila Bahkan Sebelum Pancasila Lahir

Razi Andika oleh Razi Andika
17 Juni 2024
A A
Dusun Girimulyo Kulon Progo- Surga di Bukit Menoreh MOJOK.CO

Ilustrasi Dusun Girimulyo Kulon Progo- Surga di Bukit Menoreh. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebaikan yang terpancar dari Dusun Gunung Kelir Kulon Progo

Terdapat ruang kosong ukuran 3×5 meter yang terpisah dari rumah utama dan di sana kami memarkir motor sekaligus membentang tikar untuk tidur. Ini Jauh lebih baik dari selembar hammock dan risiko kehujanan. 

Pak Toto dan Bu Sri mengaku jarang menempati rumah di sebelah bukit ini. Aktivitas mereka lebih sering di Purworejo untuk bertani. Setelah itu, kabar kedatangan kami tersebar dengan cepat.

“Ada dua orang musafir di rumah Pak Toto.” Keberadaan kami menjadi isu hangat di antara warga Dusun Gunung Kelir Kulon Progo saat itu. 

Ditampung warga sekitar memang bukan hal baru di perjalanan dari Lampung sampai Jogja. Dan semua tempat yang saya sebutkan sebelumnya memang menawarkan kesan tersendiri. Namun, Gunung Kelir tidak hanya berkesan. Ia melampauinya hingga menjadi kesadaran baru pada dinding akal saya. 

Kesadaran baru

Baru dua hari tinggal di Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, kami langsung berkesempatan hadir di acara syukuran di rumah warga beragama Buddha. Jujur saja, ini kesempatan pertama kali dalam hidup saya dan amat sayang untuk dilewatkan. 

Susunan acaranya, sih, standar syukuran di agama Islam yang sering saya ikuti. Tuan rumah memberi sambutan dengan Bahasa Jawa Kromo yang sama sekali tidak saya pahami. Lalu, dilanjut doa menurut agama Buddha tentu saja, dan makan-makan. Kata Pak Toto, syukuran seperti ini memang rutin diadakan, bahkan di luar momen-momen keagamaan.

Saya keturunan asli Bengkulu, lahir dan besar di Lampung, kuliah lima tahun di Palembang. Di tempat itu, jangankan hadir di acara syukuran agama selain Islam, saya malah merasa hidup dalam dunia berbeda dengan penganut Buddha atau agama lainnya. 

Selama hidup, saya diajarkan menyebut non-Islam sebagai kata ganti agama lain. Saya dipaksa alergi untuk menyebut Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, dan Konghucu secara konkret dan gamblang. Dan ini terjadi di lingkungan sekolah.

Para pemeluk agama yang hidup harmonis

Di Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, kata Bu Sri, penganut Islam, Buddha, dan Katolik sudah sejak lama hidup berdampingan. “Ya wong nggak ada alasan buat kami untuk nggak saling bantu.” tegas beliau. 

Bu Sri juga adalah seorang penyumbang suara dalam seni karawitan. Kami malah berkesempatan menyaksikan para pemain berlatih di satu lokasi. Nada Slendro yang mereka mainkan seperti gambaran hidup masyarakatnya yang diterjemahkan ke dalam bentuk musik. Perbedaan melebur pada skala tertentu, membentuk harmonisasi yang belum pernah saya saksikan secara langsung.

Petani, peternak, pengelola wisata, dan lapisan masyarakat lainnya hidup dan menghidupi kerukunan itu tanpa ada konflik. Para warga akan menyumbang keringatnya di acara-acara keagamaan tetangga. 

Agama bukan sekat bagi warga Dusun Gunung Kelir Kulon Progo untuk saling bahu-membahu membangun peradaban kampung ini. Hal ini juga bisa dilihat dalam tradisi rewang hingga kerja-kerja kebudayaan macam Sambanggo atau Rejeban. Semua warga akan turut serta dalam kenduri dan menjalaninya dengan sakral. 

Kampung Pancasila

Baru saya ketahui juga belakangan kalau Dusun Gunung Kelir Kulon Progo memiliki julukan “Kampung Pancasila” karena keragamannya yang harmonis. Batin saya sih bertanya-tanya setelah mendengar julukan ini. “Kok Pancasila ya?” Padahal warganya sudah guyub bahkan jauh sebelum Pancasila diteriakkan sebagai ideologi negara. Aakkhhh.

Tapi kalau dipikir-pikir, jutaan anak kecil di Sumatera dan daerah lainnya masih diajarkan dengan cara yang sama seperti saya dulu. Toleransi bagi mereka adalah barang kasat dan tidak nampak. Lalu Pancasila datang sebagai julukan. 

Iklan

Padahal, BPIP yang dibentuk beberapa tahun ini belum sempat mengabarkan kebaikan Gunung Kelir pada dunia. Malah kesannya kayak Pancasila yang dompleng nama ke Dusun Gunung Kelir Kulon Progo nggak, sih?

Gotong royong warga Dusun Gunung Kelir Kulon Progo

Total 10 hari kami ditampung dan diberi makan oleh sepasang suami-istri yang baik ini. Dua hari sebelum saya dan Gogon meninggalkan dusun itu, tetangga Pak Toto, yang rumahnya cuma berjarak 200 meter mengalami musibah. Pohon besar tumbang tersapu angin kencang, menimpa sebagian rumahnya. Beruntung tidak ada korban cedera atau meninggal. Cuaca peralihan musim memang berlangsung cukup ekstrem di Dusun Gunung Kelir Kulon Progo. 

Pak Toto berinisiatif pergi sendiri, tapi saya dan Gogon, anak muda FOMO ini, tidak ingin ketinggalan momentum. Selama perjalanan dari Lampung ke Jogja, kami belum berkesempatan gotong royong fisik bersama warga. 

Seluruh warga sekitar Dusun Gunung Kelir Kulon Progo pergi untuk membantu mengevakuasi pohon tumbang sekaligus merenovasi bagian rumah yang rusak. Ya, rumah yang rusak bisa langsung digarap beberapa warga. Para Ibu, dibantu anak-anaknya, menyiapkan minum dan makanan untuk rombongan laki-laki. Rupanya warga sudah terlatih dalam upaya mitigasi semacam ini, karena lokasinya memang langganan terdampak cuaca ekstrem. 

Satu orang memanjat pohon untuk menebang batang yang patah. Saya dan beberapa lainnya memegang tali tambang, siap menarik pohon yang ditebang. Evakuasi berjalan lancar. 

Tim renovasi bergerak cepat memoles rumah itu dan rampung seketika. Gotong royong ditutup dengan minum dan makan bersama. Beberapa orang sudah kami kenal sebelumnya, dari acara syukuran dan kumpul-kumpul di rumah Pak RT saat kami melapor. 

Dusun Gunung Kelir Kulon Progo sudah menjadi rumah kedua saya

Kami merasa ingin lebih lama di Dusun Gunung Kelir Kulon Progo, tapi tahu diri kadang lebih baik dari pada ingin tahu. Tidak mungkin menyulitkan suami-istri yang baik ini lebih dari yang sudah kami terima. Saatnya keinginan anak muda keras kepala ini mengalah. Biar 10 hari itu jadi hari-hari penting dalam hidup kami. 

Jarak dusun ini juga cuma 37 kilometer dari tempat saya tinggal sekarang, Sleman. Dan kalau diizinkan, biar dusun indah yang berisi orang-orang baik ini jadi desa selain Lampung untuk jadi tempat saya pulang. Semoga diizinkan.

Penulis: Razi Andika

Editor: Yamadipati Seno 

BACA JUGA Bermalam Bersama Satu-satunya Keluarga yang Tersisa di Kampung Mati Kulon Progo dan pengalaman menarik lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2024 oleh

Tags: Dusun Gunung KelirDusun Gunung Kelir Kulon ProgoHonda BeatJogjaKulon ProgoLampungsleman
Razi Andika

Razi Andika

Sering masuk angin.

Artikel Terkait

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO
Otomojok

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.