Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Tengah Api Revolusi, Bung Tomo Sibuk Memburu Loker di BUMN dan Ditolak

Mengikuti teladan baik dari Bung Tomo, pahlawan sejati adalah mereka yang berusaha keras menulis surat lamaran kerja, bangun paling pagi bawa amplop cokelat.

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
10 November 2022
A A
Bung Tomo Sibuk Memburu Loker di BUMN dan Ditolak MOJOK.CO

Ilustrasi Bung Tomo Sibuk Memburu Loker di BUMN dan Ditolak. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bung Tomo memang begitu. Posisinya selalu beyond. Nggak gampang tertebak. Jadi ikon pertempuran 10 November walau nggak ada di tanggal dan tempat lokasi kejadian, Surabaya.

Ini bukan soal Nota 10 November yang heboh bikinan “Pahlawan Kita” Bung Tomo (Sutomo) pada 1956. Isi nota itu mempersoalkan Kabinet Ali Sastroamidjojo yang “tak bisa dipertahankan lagi” karena kemelut politik-militer mengepung istana di hari yang sama Prabowo Subianto lahir.

Lebih jauh lagi, Nota 10 November itu menggertak Presiden Sukarno dan seperti kata Bung Tomo “akan menyinggung perasaan Bung Karno”. 

Esai ini tidak sedang membahas tentang panggung politik baru “Pahlawan Kita” itu yang notabene sebagai anggota parlemen. Juga, esai ini tidak sedang membahas kendaraan politik Bung Tomo yang berlaga di Pemilu 1955: Partai Rakyat Indonesia (PRI). Partai yang didirikan pada 1950 ini yang mengantarkan Bung Tomo, “ikon” Pertempuran 10 November jadi anggota DPR. Maklum, PRI mendapatkan dua kursi.

Ini tentang Bung Tomo

Ini bukan tentang PRI saat para pemimpin Republik kembali ke Jakarta dari Yogyakarta. Sekali lagi, bukan. 

Tetapi, yang saya kisahkan kali ini mundur satu tahun dari kalender saat “Pahlawan Kita” ini bikin partai. Tepatnya, bulan-bulan saat para delegasi Indonesia adu ide dan strategi diplomasi di Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag.

Ya, saat Panglima Besar Soedirman akhirnya membawa para laskar Republik masuk keluar hutan untuk perang gerilya di separuh akhir tahun 1949, Bung Tomo, sang pahlawan kita tampaknya sedang dilanda hopeless.

Adalah Harian Merdeka milik Burhanuddin Mohammad Diah menurunkan artikel pendek bertarikh 28 Agustus 1949 dengan judul berhuruf kapital yang, menurut saya, “menggetarkan”: “BUNG TOMO MADJUKAN REKES”.

Rekes, seturut KBBI, adalah surat lamaran kerja.

Subjudul dari artikel Bung Tomo itu tak kalah sengitnya: “Minta Pekerdjaan pada dua djawatan tapi ditolak !”

Bung Tomo mencari kerja

Ya, saat Bung Hatta memimpin delegasi diplomasi memeras akal memenangkan kedaulatan Republik dan pengakuan bangsa-bangsa di altar internasional bernama PBB, Bung Tomo sedang menyusun surat lamaran kerja.

Saat Bung Dirman dengan hanya tinggal satu paru berfungsi dan harus ditandu menjaga batas Republik di antero hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur, Bung Tomo sedang memilah dan memilih kira-kira surat lamaran kerja itu dikirim ke jawatan mana.

Bung Tomo, di artikel yang dimuat di halaman satu Harian Merdeka itu, nggak muluk-muluk maunya. Dia hanya ingin sudilah ada jawatan menerimanya sebagai pegawai rendahan.

Dulu, badan usaha negara biasanya disebut jawatan. Salah satu badan usaha bernama “djawatan” yang masih beroperasi hingga kini adalah DAMRI. Tahu, kan, DAMRI itu adalah singkatan dari Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia. 

Iklan

Tapi, saat Bung Tomo menulis surat lamaran kerja itu, jangan bayangkan Indonesia sedang aman sentosa, semua pintu kantor pos yang menjual amplop dan materai terbuka rutin dari pukul 7 pagi sampai 7 malam.

Tidak.

Pengin jadi pegawai BUMN

Tahun 1949, sebelumnya 1948, adalah tahun genting revolusi. Tahun 1948, Republik terkoyak oleh “perang saudara” yang berpusat di Madiun. Lalu, disusul oleh agresi militer Belanda yang kedua dengan kejatuhan ibu kota Yogyakarta. Para pemimpin politik seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Agus Salim dibuang ke Sumatera, tepatnya di Muntok, Pulau Bangka (rumah Ferdy Sambo).

Republik sangat genting? Absolut, ya. 

Ibu kota dikosongkan. Politisinya dibuang, angkatan bersenjatanya tersisih dan meminggir dari hutan satu ke hutan lainnya. Diuber sejadi-jadinya lewat darat dan udara oleh tentara kumpeni.

Dalam situasi Republik seperti ini, tokoh kita yang masyhur dan ikon “Hari Pahlawan 10 November” berpikir bagaimana bekerja sebagai pegawai BUMN. Dia tidak menginginkan jabatan di atas. Yang rendahan juga nggak apa, asal dapat.

Sayang sekali, artikel Merdeka yang berdesakan dengan berita-dalam-kotak dari Nottingham, Inggris ini, “Seekor Tawon Menjebabkan 28 Orang Masuk Rumah Sakit”, tidak menyebut nama dua jawatan yang masih buka dalam situasi revolusi sedang berkobar-kobar di fase penentuan atau fase akhir itu.

Byline artikel itu juga tidak mencantumkan nama terang, melainkan “Koresponden Kita Sendiri”. Dari “Koresponden Kita Sendiri” inilah terkuak Bung Tomo tampil sebagai pemburu lowongan kerja di fase akhir revolusi.

Baca halaman selanjutnya
Ada Keganjilan di sana

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 10 November 2022 oleh

Tags: 10 NovemberBUMNBung Tomohari pahlawanloker
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Mudik Gratis dari BUMN 2026. MOJOK.CO
Kilas

Mudik Gratis BUMN 2026: Hemat Rp600 Ribu dari Jakarta-Solo Tanpa Pusing Dana THR Berkurang

18 Maret 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO
Ragam

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa MOJOK.CO

Ironi WNI Kerja di Arab Saudi: Melihat Teman Senasib yang “Pekok” Nggak Mau Pulang ke Tanah Air dan Nekat Melanggar Visa

9 April 2026
Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.