Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Di Cina, Karl Marx dan Adam Smith Saling Memanfaatkan

Sekarang ini, sosialisme kini melayani kaum borjuis mengingat banyaknya kelas menengah dan orang kaya baru di Cina. 

Ronny P. Sasmita oleh Ronny P. Sasmita
18 Juli 2022
A A
Di Cina, Karl Marx dan Adam Smith Saling Memanfaatkan MOJOK.CO

Ilustrasi di Cina, Karl Marx dan Adam Smith yanhg saling memanfaatkan. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Di Cina, Karl Marx dan Adam Smith bersalaman dan membuat komitmen untuk bersaing secara adil. Sebuah kondisi negara yang sungguh “unik”.

Kalau ada kesempatan dan pergi ke Beijing’s National Museum of China, di salah satu Hall museum, Anda akan disambut dengan kalimat ini:

“The Great Journey of Adapting Marxism to the Chinese Context.”

Dalam konteks Cina sekarang ini, bisa diartikan secara bebas sebagai: “Adaptasi Marxisme pada kebijakan-kebijakan strategis Xi Jinping.”

Lalu ada lukisan dua orang pemikir evolusionis (evolusi biologis dan evolusi sosial)  duduk di meja kerja masing-masing, tapi diposisikan berhadapan satu sama lain. Pemisahnya adalah buku Das Kapital yang menempel di dinding, lalu di bawahnya ada balasan Surat Charles Darwin kepada Karl Marx. Pelukisnya adalah Qin Wenqing. Lukisan itu digarap pada 2018.

Mengapa Darwin? Dan mengapa Karl Marx menyurati Darwin? Karena Karl Marx mengagumi Darwin. Mereka berdua adalah dua pencetus teori evolusi, yakni evolusi biologis (Darwin) dan evolusi sosial (Marx, dalam kontek dialektika materialistik/Hegel idealistik).

Jadi, tanpa banyak diketahui publik, setelah Das Kapital terbit di Eropa, Karl Marx mengirimkan edisi berbahasa Jerman kepada Darwin. Karl Marx memang mengaggumi Darwin. Lalu, Darwin membalasnya. Begini bunyinya:

“I thank you for the honour which you have done me by sending me your great work on Capital; & I heartily wish that I was more worthy to receive it, by understanding more of the deep & important subject of political Economy. Though our studies have been so different, I believe that we both earnestly desire the extension of knowledge, & that this in the long run is sure to add to the happiness of Mankind.”

Nampaknya, setelah menerima Das Kapital, Charles Darwin malah bingung. Tapi, atas nama sopan santun, surat itu kemudian dibalas dengan halus dan jujur, sebagaimana ditulis “Though our studies have been so different.”

Di Cina, sampai hari ini, Karl Marx masih dipandang sebagai “dewa”. Yah, meskipun sebagian besar generasi muda Cina sudah mulai terlepas dari doktrin-doktrin marxisme. Secara kasat mata, sekarang ini ada 1,4 miliar manusia di Cina. Sekitar 95 jutanya adalah kader Partai Komunis Cina (PKC). Dalam bahasa marketing, pasar untuk marxisme masih besar.

Pemerintah Cina, terutama rezim Xi Jinping, benar-benar ingin mengontekstualisasi pemikiran Karl Marx. Sehingga, dalam konteks ini, keyakinan kaum liberal Amerika pada pendekatan engagement terhadap Cina memang sudah banyak terbantahkan sejak Xi berkuasa. Bukan malah makin mirip kapitalisme liberal barat, tapi justru makin “state capitalist” dengan spirit yang makin merkantilisme.

Tahukah kamu, pemerintah Cina bahkan sampai memberikan dana kepada universitas di mana Marx pertama belajar. Sebuah bentuk apresiasi tersebut dimaksudkan untuk membangun patung Karl Marx. Pembangunan patung tersebut dilakukan pada 2018. Universitas yang dimaksud adalah University of Bonn atau akrab dengan sebutan Rhein-Universität, dalam bahasa inggris dikenal dengan nama Rhine University.

Pendeknya, setelah 100 tahun Partai Komunis Cina (atau sering disebut sebagai CCP) secara ideologis dan ideasional masih solid bersama marxisme leninisme, sebagaimana masih tertulis di dalam dokumen dasar CCP, layaknya nilai dasar Partai Penguasa di Korea Utara, Kuba, atau Venezuela.

Tapi hanya di Cina, satu-satunya, di mana Karl Marx mampu memiting Adam Smith dan David Ricardo sekaligus, lalu menjadikan keduanya sebagai kapitalis kecil di dalam sangkar sosialisme. Cina menyebutnya dengan istilah “sosialisme dengan karakteristik Cina”.

Iklan

Sebagian pengamat mengenal gaya ini dengan istilah birdcage style (gaya sangkar burung) yang diperkenalkan pengikut Chen Yun di mana kapitalisme dianggap sebagai “burung” dan sosialisme sebagai sangkarnya. Bagi Deng Xiaoping, birdcage adalah win-win solution antara kelompok konservatif Chen Yun dan kelompok reformis Deng. Ide dasar birdcage inilah yang menjadi roh dari Kawasan Ekonomi Khusus di mana liberalisasi ekonomi dikerangkeng hanya di dalam kawasan semata.

Dan tak lupa, model birdcage pula yang membuat PKT berhasil mengendalikan liberalisasi ekonomi dengan tiga pendekatan utama (legitimation, cooptation, dan repression) sebagaimana dibahas secara apik oleh Bruce J Diction dalam bukunya The Dictator’s Dilemma beberapa tahun lalu. 

Intinya, PKT berhasil menjinakan kapitalisme dan memangkas “ambisi demokratisasi” yang dibawanya. Walhasil, Cina menjadi anomali dalam teori pembangunan ekonomi di mana kesejahteraan dan kemakmuran yang dihasilkan oleh kebijakan-kebijakan liberalisasi ekonomi ternyata gagal membawa angin demokrasi ke negeri Tirai Bambu.

Tapi itu baru satu versi cara pandang mengingat Cina telah mengalami pertumbuhan dua digit selama dua dekade lebih, para triliuner, milarder, dan puluhan juta kelas menengah telah lahir. Partai yang berideologikan marxis leninis itu kini harus melegitimasi dirinya di hadapan generasi baru yang borjuis alias bukan lagi bertipe proletar. Dengan kata lain, Partai Komunis Cina harus meletakkan kepentingan para kapitalis dan borjuis baru tersebut di dalam keranjang kepentingan partai. 

Dalam buku terbarunya yang terbit tahun ini, Xi. A Study in Power, Professor Kerry Brown dari King College, Inggris, justru menggambarkan situasi itu secara sebaliknya, yakni sosialisme kini melayani kaum borjuis mengingat banyaknya kelas menengah dan orang kaya baru di Cina. 

Ya, Partai Komunis Cina memang sudah dimasuki para kapitalis sejak 2002, di akhir masa bakti Jiang Zemin, di mana keanggotaan partai diperluas.

Sejak 2002, wiraswasta, pengusaha, kapitalis, atau apapun sebutannya, boleh menjadi anggota CPP. Rerata orang-orang terkaya dunia yang berasal dari Cina dan yang masih bertahan sampai hari ini adalah anggota mereka, terpublikasi atau diam-diam.  Walhasil, di Cina, kapitalisme dan sosialisme tidak lagi gontok-gontokan, tapi saling memanfaatkan dan menunggangi. Ibaratnya, Karl Marx dan Adam Smith bersalaman dan membuat komitmen untuk bersaing secara fair.

Seru, ya.

BACA JUGA ​​Beneran Nggak Sih Komunis Cina Batasi Umat Islam Beribadah di Negaranya? dan analisis menarik lainnya di rubrik ESAI.

Penulis: Ronny P. Sasmita

Editor: Yamadipati Seno 

Terakhir diperbarui pada 18 Juli 2022 oleh

Tags: Adam SmithCharles DarwincinaKarl MarxKomunisPartai Komunis Cina
Ronny P. Sasmita

Ronny P. Sasmita

Penikmat Kopi dan Penggemar Berat Billy Joe Amstrong. Analis Senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Artikel Terkait

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM MOJOK.CO
Esai

Dikira Komunis tapi Fasih Baca Al-Qur’an: Dilema Anak Masyumi Baca Karl Marx di Filsafat UGM

29 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Tanpa Cina dan Pecel Lele, Mental Orang Jawa Pasti Ambruk (Wikimedia Commons)
Pojokan

Persahabatan Aneh dengan Anak Cina Membawa Saya ke Pecel Lele di Bawah Jembatan Janti yang Menjadi “Pelarian” bagi Orang Jawa

16 Februari 2026
Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas MOJOK.CO
Esai

Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas

2 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Pengalaman buruk investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu MOJOK.CO

Pengalaman menyedihkan investasi saham habis 50 juta cuma untung 27 ribu per bulan bikin saya kapok dan memutuskan pindah ke deposito demi ketenangan hidup

16 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Koperasi Kelurahan di Banjarsari, Surakarta, bukukan omzet ratusan juta MOJOK.CO

Cerita Koperasi di Banjarsari Surakarta: Berawal dari Garasi, Bukukan Omzet Ratusan Juta?

12 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.