Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Curhat SBY di YouTube yang Perlu Direken Jokowi

Yesaya Sihombing oleh Yesaya Sihombing
15 Oktober 2020
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Sebagai seorang tokoh yang gerakan ambil nafasnya pun hati-hati sekali, “curhat” SBY di YouTube belakangan perlu direken betulan sama Jokowi.

Ibarat musafir menemukan oase di tengah padang gurun, mungkin itulah yang dirasakan rakyat Indonesia ketika menonton video berjudul “SBY Ngobrol Santai Perkembangan Terkini” di kanal YouTube channel Susilo Bambang Yudhoyono.

Rakyat yang belakangan cukup dikecewakan dengan berbagi kebijakan Jokowi, rasanya menemukan sosok yang dapat mengerti perasaan mereka. Yah, paling tidak untuk barang sejenak.

Sebentar, sebentar, kamu tidak percaya dengan apa yang saya katakan? Hm, pasti itu karena kamu belum menonton video berdurasi 25 menit 11 detik di channel Susilo Bambang Yudhoyono (oke, nama channelnya emang nggak kreatif) tersebut.

Dalam video itu, berbeda dengan gaya Jokowi yang suka spontan dan kadang harus berpikir sejenak sebelum mengatakan sesuatu, SBY dalam mencurahkan isi hatinya lebih formal dan tenang dalam menyusun kata-kata. Suara yang keluar pun terdengar rapi, teratur, dan dalam.

Tak lupa, publik disegarkan kembali dengan gestur-gestur SBY saat berbicara. Mulai dari melipat tangan di dada, memegang satu bagian dada dengan telapak tangan (menunjuk ke hati), dan juga beberapa kali membetulkan posisi duduknya. Sangat memorable.

Meski bertajuk “ngobrol santai”, rasa-rasanya tayangan tersebut nggak santai-santai amat.

Iya dong, marwah mantan presiden RI harus dijaga dengan benar. Nggak mungkin kita berharap Pak SBY pakai kaos oblong, ngangkat kaki di atas kursi, rambut acak-acakan ala fakboi, rokok di tangan. Tidak, tidak, hilangkan imajinasi liarmu itu.

Dengan rambut tertata klimis dan outfit rapi, SBY memberikan banyak penjelasan. Terutama, tentang tuduhan akun-akun bodong yang mengatakan bahwa Cikeas dan Demokrat adalah dalang aksi demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berlangsung beberapa hari lalu.

Baiklah, kita patut mengapresiasi kemunculan SBY di tengah hiruk pikuk pemberitaan Omnibus Law UU Cipta Kerja. Terlebih, sudah sembilan bulan, menurut pengakuannya, SBY tak pernah berurusan dengan politik praktis.

Tentu hal ini dapat kita pahami. Salah satu penyebabnya, adalah kepergian mendiang Ibu Ani Yudhoyono. Selain itu, SBY juga sedang menyelesaikan sebuah memoir yang menceritakan perjalanan kisah pribadi, keluarga, maupun kariernya di bidang militer dan politik.

Sebagai seorang tokoh yang gerakan ambil nafasnya pun memiliki arti, tentu setiap statement beliau perlu dimaknai secara politis. Statement yang tentunya nyambung dengan sikap Partai Demokrat tersebut, dapat dimaknai sebagai kode keras (semi curhat) dari pihak oposisi bagi Pemerintahan Puan Maharani Jokowi saat ini.

Apa saja kode keras tersebut? Ini dia beberapa di antaranya.

Pertama, jurus “saya prihatin”

Mereka yang pernah hidup di era pemerintahan SBY, pasti sudah sering mendengar beliau mengucapkan kata-kata sakti, “Saya prihatin.” Kata-kata tersebut diucapkan saat ada bencana, atau kasus yang menjerat politisi/petinggi negara, maupun saat dirinya dihujat dan dimaki para lawan politik.

Iklan

Laku prihatin sejatinya perlu juga dimiliki oleh presiden dan para pembantunya, terutama pada era pandemi saat ini. Lebih baik prihatin pada nasib rakyat, daripada hanya perhatiin nasib investor.

Ya memang sih, suara keras itu kalah dengan potensi uang deras. Semua orang tahu itu. Tahu kok.

Kedua, tabayun dong

SBY sudah kenyang pengalaman dituduh menggerakkan massa untuk menggoyang Pemerintahan Megawati, eh, Jokowi. Contohnya, beliau menceritakan dalam video curhat santainya itu, pada tahun 2016 SBY pernah dituduh menjadi dalang aksi 4 November, yang juga dikenal dengan gerakan 411. Suatu tuduhan yang begitu serius.

Sampai-sampai, beliau harus bertabayun langsung face to face dengan Presiden Jokowi. Di sini SBY sebenarnya sedang nyentil pemerintah dan anggota DPR yang terhormat. Daripada bersuudzon bahwa rakyat mengalami disinformasi tentang Omnibus Law dan belum membaca isi UU tersebut, apa susahnya bertabayun lebih dulu?

Misalnya, Pak Jokowi blusukan lagi kayak dulu ketika masih gubernur atau wali kota. Tanyain warganya di jalan, setuju nggak dengan Omnibus Law UU Cipta Kerja ini, sembari berdialog dengan “bahasa rakyat”.

Atau kalau nggak ada waktu selo, Jokowi bisa minta tolong Gibran yang lagi sibuk di lapangan.

Bran, Gibran, bapakmu boleh nggak sekalian nitip pertanyaan? Mumpung kamu sekarang masih semangat-semangatnya mau blusukan yaaa kan?

Ketiga, pengalaman adalah guru terbaik

Beberapa kali dalam video itu SBY mengatakan, “Saya kan pernah jadi Presiden,” atau, “Saya kan pernah mengalami…”.

SBY mengatakan, dirinya dan Partai Demokrat bukannya menentang Omnibus Law UU Cipta Kerja yang baru disahkan DPR ini, tapi lebih ke mencari potensi suara rakyat untuk pilkada memperhatikan bagaimana keluhan suara rakyat.

Saat berkuasa dahulu pun, SBY mengharapkan berbagai peningkatan di bidang ekonomi. Namun, kebijakan-kebijakan yang dibuatnya tidak hanya menguntungkan satu dua pihak, tapi semua elemen masyarakat.

Dari pernyataan tersebut, SBY sebenarnya ingin mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Oleh karena itu, ini kode keras bagi Pemerintahan Jokowi agar bertanya pada orang yang berpengalaman.

Hawong AHY saja bisa jadi Ketua Umum Demokrat berkat pengalaman SBY kok. Apa nggak sangar itu? Yang punya pengalaman siapa yang jadi ketua siapa. Hambok ya Jokowi itu mau untuk belajar dari presiden pendahulunya ini.

Ya minimal, bisa menimba ilmu tentang ilmu membangun politik dinasti atau ilmu membangun candi.

Keempat, ngobrol santai bareng lebih baik daripada ngomong sendiri

Pada 9 Oktober 2020, Jokowi pernah menjelaskan tentang disinformasi yang ada di masyarakat perihal Omnibus Law UU Cipta Kerja. Sayangnya, penjelasan tersebut dilakukan hanya melalui pidato satu arah saja (monolog).

Sedangkan pada 11 Oktober 2020 (seperti keterangan di channel YouTube Susilo Bambang Yudhoyono), SBY mengadakan acara ngobrol santai. Dari cara dua video ini hadir, ada perbedaan yang mencolok dan seharusnya bikin Jokowi muhasabah alias evaluasi diri.

Bila dulu SBY suka tampil sendirian, kali ini dia berbeda. Blio menggunakan format perbincangan dua arah (dialog). Dan ini cukup baru. Bukan seperti gaya SBY yang kita kenal dari dulu.

Walaupun sepertinya yang bertanya dalam video hanya satu orang dan kelihatan settingan, tetap saja SBY ingin memberi pelajaran bagi para penguasa, bahwa kalau mau bicara itu, baiknya lebih mengutamakan dialog. Bukan satu arah doang.

Rakyat itu perlu didengar, diberi kesempatan untuk bertanya dan bicara. Bukan cuma diperas tenaganya, dikeruk sumber daya alamnya, lalu dikasih kartu pra-kerja seolah itu bisa selesaikan semua masalahnya.

Jadi Pak Jokowi, tolong plis kasih tahu juga itu Mbak Puan Maharani dan Ibu Megawati, kami ini juga manusia. Bukan statistik angka yang hanya berguna kalau sedang ada pilkada buat suara partai kalian saja.

BACA JUGA 4 Alasan Puan Maharani Adalah Ketua DPR RI Terbaik Sepanjang Sejarah dan tulisan Yesaya Sihombing lainnya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2020 oleh

Tags: Cipta KerjacurhatdemokratjokowiMegawatiomnibus lawPuan Maharanisby
Yesaya Sihombing

Yesaya Sihombing

Tinggal di Wonosobo, Jawa Tengah.

Artikel Terkait

Curhat dan ziarah di makam ibu, tempat terbaik pulang tanpa penghakiman MOJOK.CO
Sehari-hari

Curhat di Makam Ibu Dianggap Lebay dan Sia-sia, Tapi Jadi Tempat Pulang Terbaik yang Penuh Makna dan Rasa Lega

5 Juni 2026
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi.MOJOK.CO
Kabar

Sialnya Warga Banjarsari Solo: Dekat Rumah Jokowi, tapi Jadi Langganan Banjir Gara-gara Proyek Jokowi

7 Maret 2025
3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini MOJOK.CO
Esai

3 Rupa Nasionalisme yang Mewarnai Indonesia Hari Ini

26 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik MOJOK.CO

Kenapa Hidup di Jogja Membuat Saya Terlalu Santai Menghadapi Tagihan yang Seharusnya Bikin Panik

3 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Pengalaman Kuliah di Polandia, Eropa Sambil Jadi Tour Guide. MOJOK.CO

Pengalaman Kuliah di Eropa Sambil Jadi Tour Guide bikin Enggan Kembali ke Tanah Air, tapi Tak Ada Jalan Lain Selain Pulang

4 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.