Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bid’ah pun Punya Motif Politik

Muhammad Iqbal oleh Muhammad Iqbal
27 Mei 2019
A A
Hikayat-2019 - Mojok.co
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bid’ah tidak selalu bernuansa agama, bisa juga motifnya bersifat politik atau bahkan disengaja oleh sekelompok orang sebagai nada protes.

Hukum kanonik gereja mendefinisikan bid’ah sebagai “kesesatan ajaran yang kukuh dianut seseorang berdasarkan kehendak bebasnya selama rentang waktu tertentu, yang bertentangan dengan kebenaran yang dinyatakan Gereja.”

Adanya bid’ah menimbulkan kebutuhan akan sarana pemberangusannya, baik secara teoritis maupun praktis. Tak kurang-kurang justifikasi yang dipakai untuk membenarkan penganiayaan terhadap sekte manapun yang tidak bersedia mengakui otoritas gereja.

Namun yang menjadi masalah zaman itu adalah begitu beragamnya gerakan bid’ah yang ada, sehingga mustahil mengetahui motif-motif sebenarnya dari tiap-tiap kelompok yang dianggap sesat.

Dalam bukunya, Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (2017), Fernando Báez dengan cerkas membayangkan, bahwa pada 1259 muncul kaum bid’ah bernama kaum Flagelan, yang mengabarkan keselamatan kepada mereka yang mencambuk diri sendiri selama tiga puluh tiga hari.

Ada kaum Adamiah yang mencanangkan kembali ke ketelanjangan asali; sekte Bogomili mengagungkan cinta bebas; kaum Kathar menyerukan ajakan untuk kembali ke Maniisme dan menyangkal sakramen; Stadinger membela kebebasan seks secara total; dan kaum Euchite tak mau menolak setan karena setan juga anak Tuhan.

Paus Inosensius III memerintahkan perang suci melawan kaum Kathar. Pasukan gereja tidak hanya membunuh anggota sekte, tapi juga membakar tulisan-tulisan mereka.

Menurut Caesarius dari Heisterbach, di Paris telah diputuskan larangan bahkan untuk membaca buku-buku fisika sekalipun, dan salinan karya-karya David de Dinant serta apa yang disebut kitab-kitab Galia dibakar.

Khotbah-khotbah Imam Arnaud de Bresse dibakar tahun 1155. Karya-karya Amaury de Chartres, pendiri sekte Almaricus, yang berpandangan bahwa Tuhan dan segenap makhluk hanyalah strategi dari kemanunggalan Tuhan sebagai segala dan segalanya sebagai Tuhan, dibakar pada 1215 setelah dia dikecam oleh Paus Inosensius III.

Begitu pula L’évangile éternel, sebuah naskah yang disebut-sebut ditulis oleh Joachim dari Fiore dan para pengikutnya, dimusnahkan pada sekitar 1256.

Marguerite Porete dijatuhi hukuman mati pada 31 Mei 1310 atas tuduhan, salah satunya, menolak kedudukannya sebagai perempuan. Keesokan harinya, ia dibakar di tiang pancang bersama buku-bukunya mengenai cinta mistika.

Salah satu buku itulah khususnya yang menyebabkan ia dihukum mati. Le Miroir des âmes simples et anéanties: et qui seulement demeurent en vouloir et désir d’Amour (Cermin Jiwa-jiwa Sederhana yang Dimusnahkan dan Menyisa hanya dalam Tekad dan Hasrat Cinta). Tahun 1322 Lolar Walter juga dibakar bersama buku-buku yang dia tulis.

Dalam kasus kaum Waldens, para sejarawan mencatat bahwa minimnya dokumen yang tersisa mengenai mereka merupakan akibat dari penghancurannya yang sistematis.

Diinspirasi oleh seorang pastor asketik bernama Peter Waldo, kaum ini (sebelumnya dikenal dengan nama “Orang Miskin dari Lyons”) memerangi kemunafikan Katolik dan kembali menjalani hidup yang serba miskin a la gereja primitif.

Iklan

Dimulai pada 1160, kaum Waldens mempertanyakan otoritas gereja dan membaktikan hidup mereka untuk mengajarkan Alkitab secara terbuka. Kaum bid’ah ini menulis dalam dialek Provençal dan mengembangkan tafsir-tafsir anyar atas Mazmur serta kedua kitab Perjanjian.

Para pengikutnya diekskomunikasi oleh Gereja dan ditindas dengan durkarsa antara abad ke-13 hingga ke-16. Perlawanan mereka luar biasa, namun berakhir dalam pembantaian.

Titimangsa 5 Juni 1561, San Sixto, sebuah desa dengan 6.000 penduduk diserang dan tulisan-tulisan mereka dibakar. Mereka yang ditangkap disula di tiang pancang dan dibakar tak ubahnya obor.

Bid’ah tidak selalu bernuansa agama, bisa juga politik atau bahkan disengaja. Pada 1328, contohnya, Paus Yohanes XXII memerintahkan pembakaran sebuah buku yang meragukan kuasa gerejawinya:

“Pada waktu itu, dua orang dikutuk oleh paus karena telah menyusun sebuah karya sepanjang delapan jilid yang pudat dengan kesalahan. Mereka berusaha membuktikan bahwa kaisar dapat mengoreksi, menambahkan, dan membuang apa yang dirasanya tepat, dan dengan demikian kitab-kitab gereja berada lebih rendah kedudukannya di bawah kuasa kaisar.”

Sebuah kronik peninggalan Gabriel Peignot, bertanggal 16 Agustus 1463, melukiskan pembakaran sebuah buku ihwal sihir. Setelah mengkaji isinya di Dijon, Jehan Bonvarlet—didampingi imam dan tokoh-tokoh setempat—mengambil keputusan yang tidak bisa diganggu-gugat, sebagaimana tercatat dalam kronik itu: “dan buku ini pun dilempar ke api”.

Si penulis kronik, dengan rasa kimput dan takzim, namun bukan tanpa ironi, menulis bahwa pembakaran buku itu menimbulkan banyak kebingungan di kalangan hadirin.

Pada 23 Mei 1473, sebuah penjara didirikan di luar pintu masuk Gereja Santa Maria di Alcalá de Henares, Spanyol. Tidak lama kemudian De Confessione karya Pablo Martinez de Osma dibakar di situ.

Pedro Martinez de Osma adalah guru besar teologi di Universitas Salamanca, tapi bukunya diarak keliling kota, diludahi, dan lantas dibakar, sesudah penulisnya sendiri diekskomunikasi.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2019 oleh

Tags: #hikayatAgamaBidah
Muhammad Iqbal

Muhammad Iqbal

Editor Marjin Kiri. Dosen IAIN Palangka Raya. Sejarahwan ngoyot.

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
Peluncuran program pendidikan koperasi (perkoperasian) untuk sekolah-sekolah yang dipelopori Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) MOJOK.CO

Jawa Tengah Bikin Pendidikan Koperasi di Sekolah: Bekal Kewirausahaan dan Alternatif Lapangan Kerja untuk Gen Z-Gen Alpha

5 Juni 2026
Godaan modifikasi motor Honda Vario 125 demi sinematik kebodohan soal harga jual di Facebook, berakhir jadi motor sampah dan jamet MOJOK.CO

Modifikasi Motor Honda Vario 125 Hasil Tabungan Ibu-Kakak demi Sinematik dan Kebodohan Harga Jual di FB, Berakhir Jadi Motor Jamet dan Sampah

7 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.